POULTRYINDONESIA, IKN – Pemberdayaan perempuan di sektor pangan menjadi salah satu fokus utama dalam penguatan ketahanan pangan di Ibu Kota Nusantara (IKN). Melalui pelatihan bertajuk “Budi Daya Ayam Kampung Unggulan”, Direktorat Ketahanan Pangan Otoritas Ibu Kota Nusantara (OIKN) membekali Kelompok Wanita Tani. (KWT) dengan keterampilan mengelola usaha ayam kampung secara profesional. Kegiatan ini berlangsung di IKN, Kalimantan Timur, pada Jumat (13/2).
Pelatihan merupakan hasil kolaborasi pemerintah, sektor swasta, dan akademisi melalui keterlibatan Wudi Chicken Balikpapan serta Kagama (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada) Pegiat Inklusi. Sebanyak 10 KWT dari desa penyangga IKN, antara lain Desa Telemov, Sukaraja, Argomulyo, Bumi Harapan, Pemaluan, dan Karang Jinawi, mengikuti kegiatan tersebut.
Perwakilan Direktorat Ketahanan Pangan OIKN menegaskan bahwa keterlibatan perempuan menjadi kunci pertumbuhan ekonomi yang inklusif di wilayah ibu kota baru. “Kami ingin memastikan masyarakat lokal, khususnya ibu-ibu di sekitar IKN, tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku utama dalam penyediaan protein hewani,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Materi pelatihan disampaikan oleh Ahli Peternakan Ayam Kampung Unggul dari Wudi Chicken sekaligus perwakilan Kagama Pegiat Inklusi, Fauzul Idhi. Ia membekali peserta dengan pemahaman teknis mulai dari siklus hidup ayam hingga manajemen kandang yang optimal. Salah satu fase penting yang ditekankan adalah usia 32 hari atau fase “lepas listrik”, yakni tahap ketika ayam siap dipindahkan ke kandang yang lebih luas.
Kualitas udara kandang menjadi perhatian utama dalam budidaya. Fauzul mengingatkan bahwa amoniak dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan ayam. “Jika konsentrasi amoniak melebihi 20 ppm, ayam berisiko mengalami gangguan pernapasan dan iritasi mata,” jelasnya. Untuk mengatasinya, ia menyarankan ventilasi kandang yang baik, penggunaan bahan penyerap seperti zeolit atau karbon aktif, serta kebersihan kandang yang terjaga.
Selain itu, kelembapan udara juga berperan penting dalam menjaga kesehatan ternak. Pada ayam muda usia 0–4 minggu, kelembapan ideal berada pada kisaran 60–70% untuk mencegah penyakit akibat jamur, virus, maupun bakteri.
Pelatihan turut memperkenalkan pemanfaatan herbal sebagai alternatif peningkatan daya tahan tubuh ayam. Fauzul menekankan pentingnya penggunaan herbal dengan dosis tepat agar aman dan efektif. “Herbal dapat diberikan melalui pakan, air minum, maupun aplikasi luar untuk penanganan luka,” ujarnya.
Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai faktor eksternal yang memengaruhi pertumbuhan ayam, seperti ancaman predator, stres akibat perubahan suhu, serta penyakit menular seperti Newcastle Disease dan Gumboro. Dalam hal ini, sanitasi kandang dan kualitas air minum tetap menjadi fondasi utama kesehatan ternak.
Melalui pelatihan ini, 10 KWT diharapkan mampu menerapkan standar budidaya ayam kampung secara profesional, mulai dari fase lepas listrik hingga pengelolaan limbah amoniak. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat peran masyarakat lokal sebagai pilar kedaulatan pangan di IKN.
Program akan berlanjut dengan pendampingan lanjutan yang mencakup penanganan DOC (day old chicken), manajemen ayam pulet, pemanfaatan kotoran ternak sebagai media tanam, serta penyediaan pakan organik.
Pasca pelatihan, Wudi Chicken dan Kagama Pegiat Inklusi berkomitmen untuk terus mendampingi kelompok peserta guna memastikan keberlanjutan program sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal di Kalimantan Timur.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia