POULTRYINDONESIA, Jakarta – Ketahanan hewan menjadi pondasi utama dalam mewujudkan sistem peternakan yang berkelanjutan dan menguntungkan. Topik inilah yang menjadi sorotan utama dalam seminar bertajuk “Strengthening Animal Resilience: The Key to Profitable Farming in Poultry & Aqua” yang diselenggarakan selama dua hari berturut-turut, yakni pada Senin, 21 April 2025 di Hotel Mercure BSD, serta Selasa, 22 April 2025 di Hotel Aston Pasteur, Bandung.
Dalam pemaparannya, Tony Unandar selaku Private Poultry Farm Consultant banyak mengupas tuntas permasalahan heat stress pada unggas modern. Dirinya menjelaskan bagaimana suhu tinggi dapat menyebabkan stres oksidatif, memicu inflamasi, serta mengganggu integritas saluran pencernaan unggas. 
“Ayam modern memiliki pencernaan dan metabolisme yang cepat, jadi lebih rentan terkena stres oksidatif. Di lapangan, setiap ayam punya daya tahan yang berbeda-beda dan dampak yang paling terlihat adalah rusaknya keseragaman ayam”. Lebih lanjut Tony juga menjelaskan bahwa selain heat stress, stres oksidatif juga dipengaruhi oleh virus, bakteri, jamur, kondisi lingkungan dan mikotoksin.
Professor, Vitagene and Health Research Centre, Prof. Peter F. Surai banyak memaparkan terkait sistem pertahanan antioksidan dalam tubuh hewan dan peran penting selenium organik, “Selenium merupakan pemimpin sistem pertahanan tubuh. Ia membantu kerja antioksidan lain dan sangat penting untuk imun, kinerja usus, reproduksi, dan pertumbuhan. Peneliti sudah 20 tahun mengembangkan selenium organik,” terangnya. 
Sementara itu, Dr. Vishas K. Gowda selaku Regional Country Manager Adisseo Asia Pacific, menjelaskan bagaimana strategi pemilihan selenium untuk untuk peternakan yang berkelanjutan.  “Sodium selenite yang merupakan selenium anorganik cukup untuk mencegah defisiensi. Namun untuk performa yang optimal di bawah tekanan, dibutuhkan selenium organik. Generasi selenium ada tiga yaitu anorganik, kemudian selenium yeast, dan generasi ketiga yang paling mutakhir yaitu hydroxy selenomethionine. Ia adalah bentuk murni yang paling stabil dengan kandungan selenomethionine bisa mencapai 100%,” ungkapnya.
Adapun fokus seminar pada hari kedua berpindah ke spesies ruminansia, seperti sapi perah dan sapi potong, dengan menghadirkan pembicara nasional dan internasional. Turut hadir sebagai pemateri yakni drh. Deddy F. Kurniawan, M.Vet, pendiri Dairy Pro Indonesia, serta Prof. Peter F. Surai.
Seminar ini menjadi wadah diskusi ilmiah dan berbagi solusi praktis dalam meningkatkan ketahanan hewan, baik di sektor unggas, akuakultur, maupun ruminansia. Penekanan pada stres oksidatif, pentingnya selenium organik, dan pendekatan manajemen berbasis sains diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat ketahanan peternakan nasional di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan pasar global.