Pinsar Indonesia hadir sebagai wadah untuk mewujudkan stabilitas harga pasar produk unggas, serta mempertahanlan eksistensi usaha peternakan rakyat yang maju dan tangguh.
Pinsar Indonesia hadir sebagai wadah untuk mewujudkan stabilitas harga pasar produk unggas, serta mempertahanlan eksistensi usaha peternakan rakyat yang maju dan tangguh.
POULTRYINDONESIA, Mataram – Dalam upaya memperkuat posisi peternak unggas di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar Indonesia) melaksanakan pelantikan pengurus wilayah sekaligus seminar nasional perunggasan dengan tema “Peran Perunggasan dalam Peningkatan Perekonomian Daerah”. Acara ini dilaksanakan secara hibrid di Hotel Lombok Plaza, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat dan via Zoom Meeting, Selasa (21/6). 
Dalam sambutannya Ricky Bangsaratoe, SH, Ketua Panitia Pelaksana Seminar Nasional mengatakan bahwa pemenuhan pangan sumber protein hewani diperlukan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Oleh sebab itu, industrialisasi peternakan khususnya unggas merupakan sebuah usaha yang bijak dalam mewujudkan peningkatan ekonomi daerah sekaligus pemenuhan kebutuhan pangan sumber protein hewani. 
“Industri perunggasan selalu merasa terbutuhi seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk masyarakat. Peningkatan peternak mandiri di daerah sendiri merupakan salah satu pilihan strategis untuk pemenuhan kebutuhan pangan nasional. Dari segi kebijakan, ketersediaan sumber daya, kebutuhan permodalan, akses pemasaran, dan keuntungan. Selain itu, potensi ekonomi dari usaha ternak di daerah dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi generasi muda,” kata Ricky. 
Acara dilanjutkan dengan prosesi pelantikan pengurus wilayah Pinsar Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dengan ini, dinyatakan bahwa Fathurrahman, S.Pt. dilantik sebagai Ketua Pengurus Wilayah Pinsar Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat periode 2022-2027. Dalam acara ini turut dilantik Pengurus Pinsar dari 10 Kabupaten atau Kota se-Provinsi Nusa Tenggara Barat. 
Sementra itu Ir. H. Eddy Wahyudin, MBA sebagai Wakil Ketua Umum DPP Pinsar Nasional pada sambutannya mengatakan bahwa Pinsar Indonesia hadir sebagai wadah untuk mewujudkan stabilitas harga pasar produk unggas, serta mempertahanlan eksistensi usaha peternakan rakyat yang maju dan tangguh.
Baca Juga: Soft Launching Pakan Ayam Hias CPI Aurora 599 
“Pinsar Indonesia aktif melakukan koordinasi dan komunikasi dengan stakeholder perunggasan termasuk pemerintah, sehingga, Pinsar Indonesia berperan untuk menstabilisasi populasi ternak dan harga melalui konsolidasi organisasi serta mengawal kebikakan pemerintah dalam pembentukan regulasi,” ucap Eddy. 
Selanjutnya, Ahmad Nur Aulia, S.STP selaku Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, NTB mengucapkan syukur atas terlantiknya pengurus wilayah Pinsar Indonesia Provinsi NTB. Dirinya berharap, pelantikan ini dapat membawa industri perunggasan di NTB menjadi lebih maju, sehingga dapat meningkatkan perekonomian daerah.
“Pinsar Indonesia memiliki peran yang sangat strategis sebagai salah satu wadah bagi para pemangku kepentingan perunggasan untuk mendapatkan peluang sekaligus memberikan gambaran potensi serta tantangan yang akan terjadi terkait perkembangan perunggasan. Lebih jauh Pinsar Indonesia sesungguhnya hadir untuk memberikan kesempatan bagi para pengusaha dan pengelola perunggasan di NTB. Terlebih, potensi akan usaha perunggasan ini cukup besar,” ucap Ahmad.
Rangkaian acara diteruskan dengan seminar nasional. Pada pemaparan pertamanya, Dr. drh. Desianto Budi Utomo sebagai Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) mengatakan bahwa kondisi saat ini terdapat kenaikan biaya bahan pakan impor dikarenakan imbas dari krisis bahan pangan dunia.
“Penghentian ekspor bahan pangan yang dilakukan oleh beberapa negara menyebabkan harga bahan pakan impor naik. Untuk bahan pakan impor, tren harga MBM (Meat Bone Meal) masih tinggi sedangkan harga SBM (Soybean Meal) cenderung stabil. Harga MBM per bulan Mei 2022 menyetuh Rp11.000, sedang SBM per bulan Juni 2022 kisaran Rp8.000. Oleh sebab itu, anggota GPMT berperan untuk menekan biaya produksi pakan dalam krisis pangan global upaya untuk mendapatkan bahan pakan lokal untuk substitusi bahan pakan impor, walaupun harga bahan pakan lokal juga naik,” papar Desianto.
Selanjutnya, Tapaul Rozi, S.Pt., M.Si selaku Dosen, Praktisi dan Peternak Broiler dalam kesempatannya menyampaikan materi mengenai potret budi daya ayam ras di Provinsi NTB. Dirinya mengatakan, dengan jumlah penduduk NTB sebesar 5,4 juta jiwa, NTB membutuhkan daging ayam sebesar 150-180 ton perhari atau setara dengan 75.000-90.000 ekor perhari. Perihal komoditi telur, NTB membutuhkan 1,2 juta butir telur perhari.
“Kuantitas telur lokal NTB masih belum mencukupi kebutuhan telur NTB. Asumsi untuk rasio konsumsi telur di NTB yaitu 4 banding 1, artinya setiap 4 orang akan mengonsumsi 1 butir telur perhari. Sedangkan untuk daging ayam, prediksi serapan di NTB menyentuh sebesar 91.000 ekor perhari,” kata Tapaul.
Masih pada acara yang sama, Prof. Dr. Ir. H. Mohammad Hasil Tamzil, M.Si selaku Guru Besar Fakultas Peternakan, Universitas Mataram menyatakan bahwa sebagai daya dukung pengembangan perunggasan NTB, Universitas Mataram hadir sebagai lembaga pencetak sumberdaya manusia. 
“Fakultas Peternakan Universitas Mataram aktif melakukan pembinaan peternak melalui kegiatan pengabdian pada masyarakat atau penyuluhan. Penyuluhan ada yang bersifat insidental dan bersifat berlanjut atau desa binaan. Penyuluhan secara insidental terlaksana atas permintaan peternak, atau program rutin dari dosen. Sedangkan penyuluhan berlanjut adalah penyuluhan kepada peternak dalam upaya mencari solusi yang dialami peternak dengan melakukan penelitian di farm peternak yang terlibat,” tutur Hasil.