Jagung Rendah Aflatoksin dapat menambah nilai jual para petani
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Sebagai negara yang beriklim tropis dimana mikroorganisme dapat tumbuh dengan baik, bahan pakan di Indonesia memiliki kerentanan terhadap cemaran aflatoksin. Cemaran ini tentu akan berdampak pada kualitas pakan yang dihasilkan maupun kesehatan hewan maupun manusia. Hal tersebut disebabkan oleh aflatoksin memiliki efek karsinogenik, teratogenik, mutagenik, dan toksigenik. Oleh sebab itu, diperlukan upaya untuk pengembangan jagung yang tahan cemaran aflatoksin.
Melihat dari permasalahan tersebut, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementan menggelar webinar dengan tema ‘Peluang pengembangan Jagung Rendah Aflatoksin (JRA), Tingkatkan Nilai Tambah Petani’ via Zoom, Selasa (8/3).
Pada pembukaan acara, Ir. Gatut Sumbogodjati, MM selaku Direktur PPHTP mengatakan bahwa produksi jagung di Indonesia memasok bagi pabrik pakan dan olahan pakan. Oleh karena itu, untuk mendapatkan bahan olahan yang berkualitas, maka jagung yang dihasilkan juga harus memenuhi food grade. Salah satu faktor yang harus dipenuhi yaitu rendahnya kadar aflatoksin.
“Kami dari kementerian pertanian mendorong produksi jagung yang memenuhi standar food grade bagi industri pengolahan di Indonesia,” tutur Gatut.
Baca Juga: Petani Jagung Harus Didorong Berkoperasi
Gatut menambahkan bahwa daerah penghasil jagung yang tersebar di beberapa daerah tidak seimbang dengan industri pakan ternak yang terpusat di pulau Jawa, sehingga rantai distribusi perlu diperbaiki agar cemaran aflatoksin juga dapat ditekan. Penanganan pascapanen juga perlu dilakukan dengan baik agar jagung yang akan digunakan rendah dari aflatoksin.
Selanjutnya, pencegahan dan pengendalian aflatoksin diungkapkan oleh Prof. Dr. Amran Muis selaku peneliti Balitsereal Maros. Amran menghimbau untuk melakukan panen sedini mungkin segera sesudah tanaman mencapai masak fisiologis. Setelah panen, sebelum dipipil sebaiknya dikeringkan hingga kadar air 14%, dan tidak menumpuk jagung setelah dipanen.
Menciptakan jagung rendah aflatoksin turut diungkapkan oleh Dean Novel selaku Komisaris Utama PT. Datu Nusra Agribisnis. Dean menjelaskan bahwa produksi JRA yang dilakukan pada mitranya mulai dari proses budi daya yaitu dengan memilih bibit sesuai dengan kondisi iklim kemudian dosis pupuk yang dipakai berimbang, serta adanya pengendalian gulma.
“Benih yang kami pilih sesuai dengan kondisi menanam, jadi kalau kemarau dan musim hujan pasti berbeda. Ada benih yang tahan kering dan ada juga benih yang tahan genangan,” jelas Dean.