POULTRYINDONESIA,Jakarta – Kebutuhan jagung sudah menjadi kebutuhan industri, sehingga harus dipenuhi dengan cara industri pula ,tidak bisa dipenuhi dengan cara tradisional. Hal ini seperti disampaikan oleh Prof Nahrowi, Guru Besar dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) Fakultas Peternakan (Fapet), IPB University dalam webinar secara online via Zoom dan Youtube yang diadakan oleh Direktorat Tanaman Pangan, dengan tema “Proses Pengolahan Jagung Menjadi Pakan Ternak” pada, Senin (14/3).
Menurut Nahrowi sudah waktunya untuk korporasi terjun dalam budi daya jagung jagung, sehingga bisa melakukan produksi secara massal, serta menerapkan teknologi mulai dari penanaman, pemanenan, penyimpanan, bahkan transportasi,” Untuk petani kecil sebaiknya melakukan kerjasama, sehingga semua bisa tertangani dengan baik melalui korporasi,” tegasnya.
Nahrowi menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 104 pabrik pakan, dengan kapasitas produksi terpasang sekitar 26 juta ton, dan kebutuhan jagung sekitar 13 juta ton. Angka tersebut setara dengan nilai ekonomi sekitar 52 triliun rupiah.
“Sementara itu produksi pakan pada tahun 2021 sekitar 20 juta ton, dengan kebutuhan jagung sekitar 10 juta ton, aasetara dengan nilai sekitar 49 triliun. Sementara produksi jagung dengan luas lahan 4 juta hektar, dengan rata rata produksi 5,2 ton, akan menghasilkan sekitar 20 juta ton per tahun,” jelasnya.
Terdapat beberapa faktor terkait dengan menurunnya ketersediaan jagung akhir – akhir ini ,sehingga penggunaan jagung pada pabrik pakan hanya 40 persen saja. Padahal sebelumnya sampai 50 persen.
“Permasalahan itu bisa dari produksi yang masih musiman, skala produksi kecil,sistem masih tradisional, rantai tataniaga yang panjang, serta belum ada standar harga dan standar transportasi. Hal tersebut juga diperparah denga penanganan pasca panen yang buruk,” pungkasnya.