POULTRY INDONESIA, Malang – Penggunaan antimikroba pada sektor peternakan, seringkali kurang terkontrol dengan baik. Begitu mudahnya akses peternak untuk mendapatkan anti mikroba di pasaran menjadi salah satu faktor yang membuat praktik seperti ini masih dijumpai di lapangan.
Baca juga : Dokter Hewan Harus Bijak dalam Penggunaan Antimikroba
Dr. Truong Dinh Bao Nong Lam University, Vietnam, mengungkapkan bahwa para peternak bisa mendapatkan antimikroba dengan mudah di Poultry Shop terdekat, dan pembelian itu tanpa menggunakan resep dari dokter hewan yang menangani.
“Kondisi inilah yang kemudian membuat resistensi pada antimikroba semakin bertambah parah,” tegasnya dalam acara The 4th International Conference On One Health, yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Hewan ( FKH ), Universitas Brawijaya. Acara yang berlangsung selama dua hari ( 26 – 27/10) ini diadakan secara virtual dengan menggunakan aplikasi zoom.

Menurutnya solusi yang bisa diberikan adalah dengan memberikan pengertian pada para peternak tentang obat-obat antimikroba, termasuk pula cara penggunaannya di hewan ternak, serta memberi pengertian tentang bahaya resistensi antimikroba. Hal ini dikarenakan implikasi resisten bukan hanya pada hewan ternaknya saja. Namun, konsumen yang memakan hewan ternak itu.

“Peternak bisa menggunakan antimikroba alami seperti pemberian essential oil pada kasus diare atau pemberian yeast fraction pada kasus heat stress,” terangnya
Sementara itu, Prof. Ma Asuncion G. Beltran, DVM, Ph.D,Tarlac Agricultural University, Philippines, mengungkapkan bahwa pada dasarnya antimikroba sangat penting untuk kesehatan secara umum, serta untuk kontrol penyakit hewan. Antimikroba adalah obat yang diperuntukkan untuk mengobati infeksi, yang meliputi: antibiotik, antifungi, antiprotozoa, serta antiparasit.
Ma Asuncion melanjutkan bahwa  jika penggunaan antimikroba  kurang tepat dan tanpa terkontrol dengan baik, maka akan membuat resistensi tersendiri. Akibatnya, efek terapi ketika pemberian obat antimikroba menjadi berkurang atau malah tidak berefek sama sekali.
“Resistensi antimikroba bisa terjadi jika mikroorganisme telah bermutasi atau menerima gen dari antimikroba yang sudah resisten baik dari mikroba, virus atau sumber ekstraseluler yang lain,” tegasnya.