Telur dalam tray yang dihasilkan dari ayam petelur pada kandang tersebut
Oleh: drh. Esti Dhamayanti*
Ungkapan ‘mencegah lebih baik daripada mengobati’ pasti telah akrab di telinga semua orang bahkan sejak usia dini, namun pada kenyataanya mungkin tak banyak orang yang mau mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia peternakan. Program pencegahan yang jelas terlihat di depan mata dan bahkan telah diucapkan maupun tertulis berulang kali pada setiap seminar, sosialisasi, bimbingan teknis, maupun pada setiap literatur kesehatan yaitu biosekuriti. Kasus EDS sendiri, sampai dengan sekarang belum ditemukan pengobatan yang efektif, sehingga tindakan pencegahaan lah yang perlu dilakukan.
Kusno Waluyo, peternak layer berbasis herbal di Lampung, mengatakan bahwa tidak mungkin ayam akan terus sehat dalam proses pemeliharaan. Ayam yang diperlihara dengan manajemen yang bagus, kemungkinan sakitnya tidak akan sering dan pengobatannya juga jarang. Sebaliknya, jika manajemen pemeliharannya jelek, maka ayam akan mudah sakit. Usaha Kusno dalam memperbaiki manajemen kesehatan kandang yaitu dengan menerapkan biosekuriti tiga zona. Penerapan biosekuriti ini memberikan efek positf bagi imunitas dari ayamnya ditambah dengan pemberian herbal hasil racikannya sendiri.
Biosekuriti pada hakikatnya adalah suatu usaha untuk mencegah keluar atau masuknya penyakit dari suatu tempat ke tempat lain. Secara ringkas, Buhman et al. (2007) menerangkan bahwa secara garis besar, biosekuriti dibagi menjadi tiga komponen utama yaitu isolasi, kontrol lalu lintas, dan sanitasi. Konsep biosekuriti tiga zona di Indonesia sendiri merupakan konsep yang direkomendasikan oleh Kementerian Pertanian dan FAO.
Konsep tersebut membagi daerah menjadi tiga zona yaitu zona merah, kuning, dan hijau. Zona merah menjadi batas antara lingkungan luar yang kotor seperti penerimaan boks telur dan pengunjung. Zona kuning merupakan transisi antara zona merah dan hijau yang terbatas untuk pekerja kandang, truk, ransum, DOC, dan telur. Zona hijau adalah zona bersih yang berisi unggas yang diternakan beserta pekerja kandang. Semua yang akan masuk ke dalam zona ini harus mengikuti prosedur pembersihan yang diterapkan pada peternakan tersebut.
Baca Juga: Penerapan Biosekuriti Saat Pandemi
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Romadona (2019) berjudul “Kajian Biosekuriti Peternakan Ayam dalam Menunjang Produksi” pada peternakan unggas di Kabupaten Blitar dan Malang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif implementasi biosekuriti terhadap peningkatan hasil produksi dan kesehatan lingkungan peternakan. Berdasarkan keterangan FAO, penerapan biosekuriti dapat menekan penggunaan antibiotik sebesar 40% dan 30% untuk desinfektan. Dalam hal perolehan laba, peternak yang menerapkan sistem ini mengalami peningkatan laba dengan perbandingan 10:1 dengan investasi untuk biosekuriti tiga zona.
Langkah lain yang dapat digunakan untuk pencegahan EDS yaitu dengan melakukan vaksinasi berkala. Tindakan vaksinasi untuk EDS dilakukan pada ayam berumur 14-16 minggu menggunakan tipe vaksin killed, dengan strain yang digunakan seperti Adenovirus 127 McFerran atau EDS ‘76. Respon antibodi terhadap vaksin dapat dicek setelah 7 hari pasca vaksinasi dengan puncak titer antibodi terjadi pada minggu kedua dan kelima. Menurut beberapa sumber, vaksinasi dapat berlangsung selama satu tahun bahkan dengan kemajuan teknologi pada vaksinasi, ada yang hanya diberikan satu kali untuk seumur hidup ayam.
Baik peneliti, peternak, dan pemerintah sepakat bahwa sebaik-baiknya pengobatan atau asupan nutrisi untuk meningkatkan sistem imun yang maksimal, akan sia-sia jika tindakan pencegahan berupa biosekurti belum diterapkan secara maksimal dalam kandang. Investasi untuk tindak pencegahan seperti biosekuriti dan penjadwalan terstuktur untuk vaksinasi perlu menjadi sebuah pertimbangan utama untuk menjaga produksi telur tetap optimal tanpa interverensi dari penyakit yang menyerang. *Wartawan Poultry Indonesia
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2020 dengan judul “Tingkatkan Biosekuriti Untuk Cegah EDS”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153