Proses pemanenan di kandang harus cermat
Oleh : Domi Sattyananda, S.Pt*
Kegiatan usaha budi daya merupakan suatu proses yang berkesinambungan dan sangat bergantung pada bagaimana peternak melakukan manajemen pemeliharaan terhadap ternaknya. Tahap awal dimulai dari perencanaan seperti kapan waktu chick in yang tepat, pemilihan DOC dan sapronak lainnya, persiapan sanitasi sebelum DOC datang hingga perlakuan ketika DOC sudah masuk kandang. Setelah tahap persiapan tersebut terlewati, tentunya masuk ke masa-masa pemeliharaan di dalam kandang.

Dalam proses budi daya ayam pedaging, manajemen pemeliharaan merupakan kunci untuk memaksimalkan potensi pendapatan dari peternak. Namun ketika proses budi daya sudah dilakukan semaksimal mungkin, akan sangat disayangkan jika peternak salah dalam melakukan pemanenan.

Dalam masa pemeliharaan, juga banyak tahap yang perlu dilalui untuk mendapatkan FCR yang baik. Semakin baik perlakuan peternak, manajer, maupun operator kandang dalam melakukan SOP pemeliharaan yang ideal dengan menjalankan prinsip good farming practice, maka pundi-pundi pendapatan akan mampu dimaksimalkan. Memang faktor yang menentukan keberhasilan dari kegiatan budi daya adalah manajemen pemeliharaan, namun ada satu hal penting yang harus dicermati oleh para peternak, yaitu manajemen pemanenan.
Kepadatan kandang
Berdasarakan rekomendasi yang dikeluarkan oleh perusahaan genetika Arbor Acres, dalam Broiler Management Handbook yang dikeluarkan pada tahun 2018, menyarankan stocking density (kepadatan kandang) berada pada kisaran sekurang-kurangnya 33 Kg/m2. Namun jika standar pemeliharaan yang dilakukan oleh suatu peternakan lebih tinggi (biasanya ditemui dalam pemeliharaan menggunakan kandang closed house) dapat dipadatkan menjadi 39 Kg/m2 hingga 42 Kg/m2. Rekomendasi tersebut diambil oleh Arbor Acres dengan merujuk pada keputusan yang diambil oleh Uni Eropa lewat Broiler Welfare Directive tahun 2007.
Baca Juga : Menjaga Performa di Musim Kemarau
Sedangkan jika merujuk pada rekomendasi kepadatan kandang dari National Chicken Council Amerika Serikat yang dikeluarkan pada tahun 2010, kepadatan kandang digolongkan berdasarkan bobot badan dari ternak itu sendiri. National Chicken Council merekomendasikan jika ayam masih berada di bawah 2,04 Kg, maka kepadatan maksimal adalah 32 Kg/m2. Jika bobot badan ternak sudah melewati angka 2,04-2,49 Kg, maka kepadatan maksimum yang disarankan adalah 37 Kg/m2. Lalu yang terakhir jika ayam sudah berada di atas angka 2,49 Kg, maka kepadatan maksimum yang disarankan adalah 42 Kg/m2.
Daerah tropis seperti Indonesia yang memiliki suhu tinggi disertai kelembapan yang tinggi pula, Arbor Acres menyarankan agar kepadatan kandang tidak melebihi 30 Kg/m2 untuk kandang dengan kontrol lingkungan secara penuh seperti kandang sistem Closed house. Untuk kandang sistem Open House, sebaiknya hanya diisi 20-25 Kg/m2. Tujuannya yaitu untuk memudahkan perpindahan panas dari tubuh ayam ke lingkungan. Semakin padat sebuah kandang, maka semakin sulit udara bergerak yang akibatnya panas akan sukar untuk berpindah ke lingkungan.
Pada saat ayam memasuki umur 21 hari, tentunya ayam akan semakin besar, dengan ayam yang semakin besar tersebut, maka kandang semakin penuh sesak dengan jumlah ayam yang ada di kandang. Jika kandang semakin padat, maka justru akan menghambat pertumbuhan dari ayam itu sendiri. Dampaknya, pakan yang dikonsumsi oleh ayam tidak akan terkonversi secara optimal menjadi daging, atau FCR yang dihasilkan tidak akan begitu bagus.
Pada saat panen penjarangan, atau pengurangan populasi kandang sebelum panen raya, operator atau manajer kandang perlu menghitung sampel bobot badan dalam satu flok. Setelah ditimbang dari sampel flok tersebut maka akan terlihat berapa kepadatan kandang, dan berapa populasi yang harus dikeluarkan. *Wartawan Poultry Indonesia.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2019 dengan judul “Persiapan Panen, Titik Akhir dari Proses Budi Daya”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153