POULTRYINDONESIA, Tanggerang – Industri pakan, sebagai penopang utama indsutri perunggasan melewati tahun 2025 dengan penuh ketidakmudahan. Berbagai isu dan tantangan yang terus bermunculan harus dihadapi dengan berbagai strategi dan kalkulasi yang tepat. Dan menyambut 2026 tentu harus ada formulas dan strategi yang matan, serta keberpihakan kebijakan pemerintah untuk menghadapi dinamika industri pakan di tahun-tahun mendatang. Hal ini mengemuka dalam Seminar Nasional Seminar Perunggasan: Overview 2025 dan Outlook 2026 dengan tema “Feed the Future: Menuju Industri Pakan Ternak yang Berkelanjutan dan Resilien” yang diselenggarakan oleh Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) dalam rangkain gelaran pameran Nusantara Livestock and Poultry (NLP) 2025, di ICE BSD, Jumat, (7/11).
Direktur Pakan, Ditjen PKH, Kementerian Pertanian, Tri Melasari menyampaikan bahwa usaha perunggasan merupakan salah satu sektor yang strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Dimana perunggasan menyumbang 2/3 dari total kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Dan berdasarkan data dari Kementan, total populasi ayam di Indonesia, baik ras pedaging, petelur dan buras mencapai 4,8 – 5 miliar pada tahun 2026.
“Dengan itu, diestimasikan bahwa kebutuhan pakan broiler nasional di tahun 2026 dengan populasi 4,1 miliar ekor mencapai 15,6 juta ton. Sedangkan pada layer diperkiran membutuhkan sekitar 20,2 juta, dan ayam kampung sebesar 3,4 juta ton. Yang berarti kebutuhan pakan unggas nasional pada tahun 2026 diproyeksikan sebesar 39 juta ton/tahun,” tambahnya.
Dirinya menyebut bahwa angka ini, sejalan dengan tren pertumbuhan industri pakan industri pakan Indonesia, yang saat ini memproduksi pakan sebesar 26-28 juta ton /tahun (2024) dan diproyeksikan naik menjadi 35-40 juta ton/tahun pada tahun 2026. Selain itu dirinya menyinggung bahwa pakan ternak berperan sebagai komponen utama yang menentukan produktivitas dan efisiensi perunggasan nasional. Dimana lebih dari 60-70% biaya produksi perunggasan ditentukan oleh komponen pakan. Untuk itu upaya mewujudkan industri pakan yang efisien, inovatif dan berdaya saing menjadi hal yang krusial.
“Dalam upaya mewujudkan hal tersebut, terdapat beberapa hal penting yang harus menjadi perhartian bersama. Pertama bagaimana diversifikasi bahan pakan lokal untuk mengurangi bahan pakan impor yang selama ini kita lakukan. Hal ini juga berpengaruh pada efisiensi produksi. Kedua inovasi teknologi pakan, perlu terus didorong antara pemerintah, akademisi dan industri. Selanjutnya efisiensi rantai pasok, integrasi data dan sistem logistik pakan digital dapat membantu memantau ketersediaan bahan baku, stabilisasi harga dan distribusi antar wilayah sehingga diharapkan ada perkembangan pasar yang stabil. Tak luput juga dari aspek keberlanjutan lingkungan. Dan yang paling penting kolaborasi multipihak,” jelasnya.
Dirinya berharap pertumbuhan produksi pakan 2026 tetap tumbuh positif. Dimana faktor internal seperti program Makan Bergizi Gratis dan Harga jagung domestic menjadi faktor yang mempengaruhi produksi pakan nasional 2026. Adapun faktor seperti tren harga komoditas, meredanya perang dagang AS-China serta fluktuasi nilai tukar menjadi hal-hal yang harus diantisipasi bersama.
Sementara itu, Desinato B Utomo, selaku Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makan Ternak (GPMT) menyampaikan bahwa industri pakan tahun 2025 diprediksi mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan diperkirakan mencapai 6,7%, hal ini disebabkan mulai berefeknya program Makan Bergizi Gratis (MBG) terutama di sektor penyerapan produksi telur, peningkatan masa pemeliharaan broiler dan juga dengan asumsi peningkatan populasi layer hingga 7%. Selanjutnya, pada tahun 2026 industri pakan menargetkan pertumbuhan produksi pakan sebesar 6%, dengan pertimbangan kondisi DOC tidak jauh berbeda dengan tahun 2025, serta tetap mempertimbangkan harga jagung sebagai bahan pakan utama dan juga pemulihan ekonomi serta daya beli masyarakat.
“Namun perlu digarisbawahi bahwa harga jagung dan harga bahan pakan lainnya sangat mempengaruhi HPP pakan. Oleh karena itu, GPMT berharap Pemerintah dapat menjaga kestabilan produksi jagung serta bahan pakan lokal lainnya agar industri pakan dan industri perunggasan tetap tumbuh. Selain itu, perlu adanya dukungan pemerintah terutama terkait resiko masuknya importasi CLQ dari US, karena bisa melumpuhkan industri perunggasan tanah air yang telah swasembada dan menyerap sekitar 10% dari tenaga kerja nasional. Terakhir, dengan kolaborasi semua pihak industri ini tidak hanya akan tumbuh tetapi juga tangguh, adaptif dan berdaya saing global,” tambahnya.
Dalam acara tersebut, turut hadir dan memberikan materi, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Perbibitan Unggas (GPPU), Achmad Dawami, Perwakilan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, David Apriyanto Sofyan, Perwakilan Direktorat Kesehatan Hewan, Pebi Purwasusena, Perwakilan Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, Abdullah Fatah, Seed Marketing Head PT Syngenta Indonesia, Imam Sujono serta Ibnu Edy Wiyono selaku Country Director Indonesia, U.S. Soybean Export Council (USSEC).