POULTRY INDONESIA, Surabaya – Perubahan iklim menjadi kondisi yang tidak bisa dihindari. Perubahan iklim adalah setiap perubahan terus menerus yang terjadi pada iklim apakah disebabkan oleh variabilitas alam atau sebagai hasil dari aktivitas manusia, seperti yang disampaikan oleh drh. Trisatya Putri Naipospos. MPhil., PhD, Senior Animal Health Emergency Management System Advisor, Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP) pada hari Minggu ( 14/11).
Baca juga : Solusi “Wabah Avian Influenza” yang Logis, Ilmiah dan Realistis
Tata, begitu sapaan akrabnya menjelaskan perubahan iklim telah membuat penyebaran penyakit semakin memburuk. Sejumlah penyakit yang terimbas perubahan iklim ini adalah penyakit Avian Influenza (AI) atau biasa disebut dengan flu burung, cholera, ebola, plaque dan tuberkulosis.
“Kecenderungan semakin parahnya flu burung akibat dari perubahan iklim lebih disebabkan oleh adanya distribusi dan migrasi dari burung-burung liar yang membawa virus flu burung,” terangnya dalam acara Webinar Veterinary Multidiscipline Forum 2021 via Zoom Meeting, dengan tema ‘Pengaruh Perubahan Iklim pada Perkembangan Penyakit Zoonotik’ acara ini diadakan oleh IMAKAHI, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH),Universitas Airlangga, Surabaya.
Ia menceritakan bahwa adanya penyakit menjadi beban tersendiri di dunia peternakan, Ia mengungkapkan selama waktu tahun 2021 dalam gambaran secara global seluruh dunia, total peternakan ayam ada sekitar 19,6 milyar ekor, sapi sebanyak 1,4 milyar ekor sedang babi sebanyak 980 juta ekor. “Dengan 81 persen peternakan berada di wilayah negara berkembang, dimana kebanyakan dipelihara oleh kaum miskin,” terangnya.
Tata mengungkapkan bahwa beban penyakit menular di negara berkembang cukup tinggi. Beban ini lebih disebabkan oleh daya bunuh penyakit pada ternak. “Pada ruminansia kemungkinan daya bunuhnya sebanyak 20 %,sedang pada unggas lebih dari 50 %,dengan total kerugian sekitar 300 miliar dolar,” pungkasnya.