Penduduk provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan komunitas masyarakat agraris yang hidupnya dekat dengan aktivitas pertanian dan peternakan. Hal ini dirasa tidak berlebihan, karena dalam bidang peternakan, sejak zaman kolonial Belanda, daerah Nusa Tenggara Barat (NTB), yaitu pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, terkenal sebagai gudang ternak sapi potong bersama Bali, Flores, Sumba dan Timor yang dulunya merupakan rangkaian dari kepulauan Sunda Kecil. Status ini pun terus disandang oleh NTB hingga saat ini.

Berbagai faktor pendukung untuk perkembangan perunggasan NTB harus lebih dioptimalisasi, sehingga potensi yang ada tidak lagi tersembunyi.

Potensi pasar
Di balik tersohornya NTB sebagai lumbung sapi, terdapat bidang perunggasan yang secara perlahan menunjukkan perkembangan. Hal ini tak lepas dari besarnya potensi pasar yang ada. Keberadaan pasar yang masih luas merupakan nilai tambah yang harus diperhatikan. Di mana, NTB yang telah lama menjadi tujuan utama destinasi pariwisata domestik dan internasional membawa peluang besar bagi pelaku usaha untuk memenuhi permintaan kuliner berbahan dasar unggas. Selain itu, adat masyarakat NTB yang masih kental juga turut membawa angin segar bagi para pelaku perunggasan. Hal ini dikarenakan hampir dalam setiap prosesi budaya, selalu membutuhkan produk asal unggas baik daging maupun telur. Seperti halnya saat peringatan mauludan, hajatan (nikahan) maupun perayaan haji.
Hal ini diamini oleh Risma Dian Amitasari, selaku Kepala Koordinator Operasional CV. Sinta Surya Makmur. Menurutnya tingkat permintaan produk unggas di NTB, khususnya Lombok sangat dipengaruhi oleh momentum budaya. Sebenarnya fenomena ini merupakan sesuatu yang lumrah dan hampir terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Bedanya, perayaan momentum-momentum seperti ini di daerah NTB berlangsung relatif lebih lama. Sebut saja perayaan haji, yang acaranya bisa sampai 1 bulan, ataupun juga peringatan Maulid Nabi yang juga tak kalah besar.
“Secara pasar di sini itu ada musim-musim tersendiri. Jadi ada bulan-bulan tertentu yang permintaannya banyak, di mana ada pengaruh dengan budaya masyarakat sekitar. Katakanlah Iduladha permintaan daging dan telur ayam akan naik, karena ada prosesi haji seperti syukuran, doa bersama dan lainnya yang persiapannya itu 1 bulan sebelumnya bahkan lebih. Ada lagi peringatan Maulid Nabi, yang di Lombok perayaannya hampir serupa dengan hajatan nikah di Jawa,” cerita Risma kepada Poultry Indonesia, di kantornya, Senin (20/6).
Risma melanjutkan bahwa di NTB, tingkat permintaan menyesuaikan dengan tradisi budaya keagamaan, setelah selesai momentum tersebut permintaannya akan turun kembali. Dengan fenomena ini, menurut Risma peternak harus pintar dalam melihat musim dengan permintaan yang tinggi tersebut. Belum lagi, apabila dilihat dari struktur masyarakat NTB yang didominasi oleh masyarakat Islam dan Hindu. Hal ini membuat momentum perayaan untuk acara keagamaan makin banyak, sehingga kebutuhan akan produk asal unggas pun juga meningkat. Dalam hal ini, Risma juga menyinggung bahwa satuan penjualan telur di NTB itu berdasarkan butir, berbeda dengan di Jawa yang satuannya adalah kilogram. Untuk itu, banyak pelaku usaha yang membagi produknya menjadi 3 grade, yaitu telur besar, telur kecil dan telur campur. Dan untuk masing-masing grade tersebut harganya akan berbeda.
Kemudian secara makro, konsumsi produk unggas masyarakat NTB terbilang masih rendah. Berdasarkan data dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB (Disnakkeswan NTB) menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat NTB terhadap telur ayam ras pada tahun 2020 sebesar 7,26 kg/kapita/tahun dan untuk daging ayam ras sebesar 6,21 kg/kapita/tahun. Angka ini berada di bawah tingkat konsumsi rata-rata nasional pada tahun yang sama berturut-turut antara daging dan telur ayam ras sebesar 10,10 kg/kapita/tahun dan 18,35 kg/kapita/tahun. Tentu potensi peningkatan konsumsi ini masih terbuka lebar, ditambah lagi dengan pembangunan sektor pariwisata NTB yang secara tidak langsung juga akan berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi daerah dan masyarakat.
Gambaran perunggasan
Apabila ditarik kebelakang, sebenarnya industri perunggasan sudah cukup lama masuk ke Pulau Seribu Masjid ini. Dalam penuturannya, Tapaul Rozi selaku Dosen Fakultas Peternakan, Universitas Mataram (UNRAM), mengatakan bahwa usaha layer sudah mulai di kembangkan di NTB sejak awal tahun 1980 an, yang diprakarsai oleh UD Sinta. Kemudian, dalam dinamikanya usaha ini terus berkembang dan menjadi salah satu pilihan masyarakat disana.
“Dari segi populasinya, peternakan layer di NTB terus mengalami pertumbuhan, hingga puncaknya sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Menurut pengamatan saya pada tahun 2014 populasi layer di NTB berkisar antara 500.000 ekor dan naik lebih dari 2 kali lipat pada tahun 2018 menjadi lebih dari 1 juta ekor. Hal ini tak lepas dari adanya berbagai program pendanaan seperti KUR dan lain sebagainnya. Namun demikian adanya pandemi, pengurangan populasi yang cukup besar terjadi. Banyak peternak yang tidak mampu bertahan dan akhirnya gulung tikar,” jelas Tapaul saat berbincang dengan Poultry Indonesia di daerah Lombok Barat, Jumat (24/6).
Berdasarkan data dari Disnakkeswan NTB menunjukkan bahwa populasi layer di NTB pada tahun 2020 mencapai 1.438.497 ekor, sedangkan pada tahun sama, populasi broiler mencapai 15.787.388 ekor (Tabel 1). Dalam kurun waktu 2016-2020, komoditas layer mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 33 %, sedangkan broiler sebesar 22,1 %. Menurut Tapaul, kebutuhan telur layer NTB sekitar 1,2-1,5  juta butir/hari. Dari angka kebutuhan tersebut disinyalir NTB belum bisa berswasembada, dan akhirnya harus memenuhinya dari luar daerah. Hal ini diperkuat oleh publikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Tamzil dkk pada tahun 2020 yang memperkirakan bahwa kebutuhan telur layer di NTB  sebesar  29.453  ton tahun. Dari angka tersebut, diperkirakan sebanyak 6.480 ton/tahun telur layer yang berasal dari luar daerah atau sekitar 6 truk (18 ton) setiap harinya. Masih menurut publikasi tersebut, menjelaskan bahwa mayoritas telur layer ini didatangkan dari Bali dan Jawa.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari rubrik Laporan Utama yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153