Anggota koperasi wirasakti bersama DirBitPro pada kunjungannya di bulan Februari 2021
POULTRYINDONESIA, Bogor – Beberapa waktu terakhir, fenomena kenaikan harga DOC dan pakan yang tidak dibarengi dengan kepastian harga panen kembali membuat para peternak tertekan.
Menanggapi kondisi tersebut, Koperasi Produsen Wira Sakti Utama berinisiatif menggelar diskusi secara daring dengan mengangkat tema “Peternak Mandiri Mati dalam Kemandiriannya” melalui aplikasi Zoom, Sabtu (13/3).
Ketua Koperasi Produsen Wira Sakti Utama, Sugeng Wahyudi menyebutkan bahwa saat ini peternak mengalami keadaan yang cukup berat, ketika dihadapkan dengan kondisi semakin tingginya input produksi dan ketidakpastian harga dari output yang ada.
“Pertemuan ini diharapkan dapat mengidentifikasi masalah yang terjadi dan menghasilkan sebuah solusi. Tentu gagasan dan solusi terebut nantinya akan ditindaklanjuti serta ditembuskan kepada semua pemangku kepentingan untuk tujuan kebaikan bersama,” ujarnya.
Sementara itu menurut Kholiq, peternak dari Jawa Timur menyampaikan bahwa perlu adanya peninjaun kembali terkait peraturan-peraturan yang menaungi perunggasan ayam pedaging.
Permasalahan yang terjadi saat ini adalah peternak yang seringkali mengalami kerugian dan semakin lama habis. Melihat fenomena tersebut, menurutnya para peternak harus mengupas peraturan yang menaunginya yakni Permentan Nomor 32 Tahun 2017.
“Kita juga harus memerhatikan perturan tentang harga acuan dari Kementerian Perdagangan yang juga seringkali tidak berjalan,” tegasnya.
Baca Juga: Koperasi Wira Sakti Perkuat Kerjasama untuk Keberhasilan Usaha Anggota
Dalam kesempatan itu, Kholiq juga mempertanyakan peran Berdikari yang seharusnya dapat mendukung para peternak mandiri, namun kondisinya justru seperti pepatah jauh panggang dari api.
Hal senada disampaikan oleh Pardjuni, peternak ayam pedaging asal Jawa Tengah. Dirinya menegaskan bahwa Berdikari tidak seharusnya melakukan budi daya, berperan sebagai makelar dan pengatur distribusi GPS. Selain itu, peran sebagai buffer apabila terjadi oversupply seharusnya juga merupakan tugas Berdikari.
“Hal lain yang harus diperhatikan adalah perjuangan penolakan kenaikan harga sapronak yang seringkali terjadi. Dalam kondisi saat ini, tolonglah integrator dapat menurunkan margin keuntungan yang selama ini menjadi patokan. Kalau semisal selama ini margin keuntungan sekitar 12 -15 persen, ya tolonglah bisa diturunkan,” ucap Pardjuni.
Sementara itu masih dalam kesempatan yang sama, Wismarianto peternak ayam pedaging dari daerah Bogor mengungkapkan bahwa pada tahun 2019 – 2020, harga mayoritas livebird peternak berada di bawah HPP rata-rata dengan tingkat kerugian berkisar antara 20-25 persen.
“Dari fenomena 2 tahun kebelakang, peternak ayam pedaging ini seperti mayat hidup karena banyak menanggung hutang. Oleh karenanya dengan situasi seperti ini, diharapkan integrator juga dapat berempati dengan para peternak mandiri,” ucapnya.
Dalam diskusi yang dihadiri oleh para peternak dari berbagai daerah itu didapatkan beberapa poin khusus terkait peraturan ke depan serta fenomena kenaikan harga sapronak yang nantinya akan ditindaklanjuti.
Selain itu, juga disepakati akan dibentuk sebuah tim yang akan menjalakan arah gerakan dari para peternak mandiri.