Layer pada kandang baterai tipe terbuka
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dampak kenaikan harga pakan ternak pada beberapa bulan terakhir ini dirasakan langsung oleh para peternak ayam ras petelur maupun pedaging di Indonesia.
Yudianto Yosgiarso, seorang peternak ayam ras petelur di Yogyakarta sekaligus Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN), menjelaskan bahwa kenaikan harga pakan tersebut secara otomatis telah membuat kenaikan pada harga pokok produksi (HPP) telur ayam ras.
Dalam perhitungannya, HPP untuk 1 kilogram telur ayam ras saat ini telah mencapai angka Rp20.400. Namun, dirinya menyayangkan pada awal tahun ini harga telur ayam ras justru mengalami penurunan rata-rata di angka Rp18.900 per kilogram.
“Program penyerapan telur untuk kebutuhan bansos, seperti yang telah berjalan beberapa waktu lalu diharapkan dapat kembali berjalan sehingga harga telur di peternak dapat terangkat,” jelasnya saat menjadi narasumber Poultry Indonesia Forum edisi ke-7, Sabtu (23/1).
Dari situasi tersebut, dirinya mengajak seluruh peternak ayam ras petelur untuk tetap kompak, dan menjadikan tantangan ini sebagai pembelajaran yang menjadikan para peternak rakyat semakin kuat.
Baca Juga: Rekomendasi Nutrisi dalam Membuat Pakan Self-mixing
Hal serupa juga dirasakan oleh Kadma Wijaya, seorang peternak ayam ras pedaging di daerah Bogor. Dirinya mengaku bahwa dampak dari kenaikan harga pakan ini secara otomatis akan membuat HPP naik.
Selain itu, biasanya kenaikan harga pakan akan selalu diikuti dengan kenaikan harga DOC. Lebih lanjut, Kadma mengungkapkan bahwa terjadi anomali di lapangan, ketika harga pakan naik, biasanya performa ternak justru mengalami penurunan. Hal ini diperparah dengan kenaikan HPP yang tidak menjadi jaminan harga panen akan naik juga.
Para peternak rakyat seperti dirinya berharap adanya acuan SNI harga pakan untuk peternak rakyat serta keterjangkauan atas bahan pakan seperti jagung dan SBM.
“Kami juga berharap, bagaimana usaha atas nama rakyat ini ke depan bisa mempunyai pabrik pakan sendiri atau pemerintah melalui kementerian BUMN membuat pabrik pakan dengan pangsa pasar para peternak rakyat,” tegas pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN) ini.