Peran dan kerjasama asosiasi dalam menyikapi gejolak perunggasan (sumber gambar: https://www.pexels.com/)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Koperasi sebagai salah satu bentuk badan usaha yang dimiliki dan dijalankan oleh para anggota untuk kepentingan bersama dapat menjadi solusi terhadap persoalan perunggasan nasional saat ini.
Hal tersebut mengemuka dalam seminar virtual Poultry Indonesia Forum (PIF) edisi ke-4 dengan tema “Mewujudkan Demokrasi Ekonomi dengan Jalan Peternak Berkoperasi” melalui aplikasi Zoom, Sabtu (7/11).
Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM, Ahmad Zabadi menjelaskan bahwa koperasi secara umum dapat memberikan harapan pengembangan sektor pangan termasuk perunggasan.
Berdasarkan data pemetaan potensi, koperasi peternakan mempunyai porsi yang sangat kecil yakni hanya sekitar 3 persen dan untuk koperasi peternakan unggas yang aktif berjumlah 7 koperasi.
“Untuk itu, Kemenkop akan terus mendorong dan mengembangkan koperasi pada bidang perunggasan,” ujarnya.
Zabadi menambahkan bahwa saat ini langkah kerja sama antarkementerian, lembaga dan BUMN telah dilaksanakan serta penyediaan dana LPDB dengan akses yang lebih mudah telah disiapkan untuk mengembangkan dan mendorong koperasi di Indonesia termasuk koperasi perunggasan.
Dalam kesempatan yang sama, Suroto sebagai pengamat koperasi menegaskan bahwa sistem koperasi merupakan kunci dalam pembangunan ekonomi kerakyatan.
Industri pangan Indonesia mengalami perkembangan yang sangat minim di kalangan ekonomi rakyat, dan justru sebaliknya dikuasai oleh korporasi besar.
Baca Juga: Wapres Terpilih Dorong Peternak Ayam Berkoperasi
Apalagi menurutnya dalam bidang perunggasan, kekuatan korporasi telah menguasai segala lini. Suroto juga berujar bahwa apabila koperasi digarap dengan baik dan serius maka dapat menjadi modular canggih yang bisa dimanfaatkan peternak unggas di Indonesia agar dapat lepas dari ketergantungan terhadap cengkeraman korporasi ternak unggas kapitalis.
Jalan koperasi ditempuh oleh Suwardi. Sebagai Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Kendal, dirinya mengaku bahwa koperasi telah memberikan berbagai manfaat bagi banyak orang di daerahnya.
“Dengan berkoperasi, maka hal itu dapat memperpendek mata rantai distribusi, menjaga keseimbangan harga pasar, menjaga kecukupan stok kebutuhan jagung dan kosentrat untuk peternak, penyedia DOC/pullet dengan harga terjangkau serta penyedia jasa angkutan pakan,” jelasnya.
Dalam menjalankan koperasi, koperasi yang dipimpin Suwardi banyak bermitra dengan berbagai pihak seperti petani/gapoktan, bulog, pasar/agen serta perusahaan-perusahaan terkait di bidang perunggasan layer.
Hal senada disampaikan oleh Sugeng Wahyudi, Ketua Koperasi Ternak Unggas Wirasakti dalam pemaparannya yang berjudul “Koperasi Oase di Tengah Ketidakpastian Usaha Budi Daya Peternak Mandiri.”
Sugeng menilai bahwa iklim usaha broiler yang selama dua tahun tidak kondusif membawakan dampak kerugian yang besar pada pelaku usaha di dalamnya terkhusus peternak mandiri.
Oleh karena itu, bersatu dalam sebuah wadah koperasi merupakan alternatif solusi untuk dapat bertahan dan memperkuat daya saing dan posisi tawar.
“Saya menyadari hal ini bukanlah sebuah hal yang mudah, banyak tantangan yang harus dihadapi. Tapi saya meyakini bahwa dengan berkoperasi kita dapat lebih kuat sehingga ke depan mampu berdiri di atas kaki sendiri,” pungkasnya.