Di tengah meningkatnya kebutuhan protein hewani dan kekhawatiran akan dampak lingkungan dari sistem peternakan modern, muncul urgensi untuk mentransformasi cara beternak ayam saat ini.
Dalam beberapa dekade terakhir, industri perunggasan dunia menunjukkan perkembangan pesat. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan protein hewani, pergeseran pola konsumsi, serta pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi. Produk ayam, baik daging maupun telur, telah menjadi sumber pangan utama yang mudah diakses oleh berbagai lapisan masyarakat. Namun, di balik angka produksi yang terus melonjak, muncul berbagai tantangan yang tak bisa diabaikan, seperti degradasi lingkungan, isu kesejahteraan hewan, hingga ancaman terhadap kesehatan masyarakat akibat penggunaan antibiotik yang tidak bijak.
Para peneliti dan praktisi di bidang peternakan kini tengah mengembangkan pendekatan baru yang mengedepankan keberlanjutan. Istilah “keberlanjutan” tidak hanya mencakup perlindungan terhadap alam, tetapi juga memastikan kelangsungan ekonomi peternak serta memperhatikan aspek sosial dan institusional. Terdapat 4 pilar yang diperhatikan dalam hal keberlanjutan yakni lingkungan, ekonomi, sosial, dan kelembagaan. Hal tersebut sekaligus menjadi pondasi bagi model peternakan unggas masa depan.
Salah satu aspek krusial dalam upaya ini adalah desain sistem kandang. Pilihan sistem pemeliharaan akan sangat memengaruhi produktivitas, kesehatan, dan perilaku alami ayam. Kandang konvensional dengan baterai sering dianggap efisien secara ruang dan biaya, namun menimbulkan masalah kesejahteraan karena membatasi ruang gerak ayam. Sebagai alternatif, muncul sistem aviary, litter floor, dan bahkan agroforestri yang menggabungkan pohon dan unggas dalam satu ekosistem. Sistem-sistem ini memberikan ruang eksplorasi dan perilaku alami, seperti mengais tanah atau bertengger, yang berdampak positif terhadap kesejahteraan hewan.
Seiring berkembangnya teknologi, inovasi dalam formulasi pakan juga mengalami transformasi besar. Pakan konvensional, yang didominasi oleh jagung dan bungkil kedelai, dinilai tidak efisien secara ekologis karena membutuhkan lahan dan air dalam jumlah besar. Kini, alternatif seperti protein dari serangga, seperti larva black soldier fly (BSF) dan mealworm menjadi sumber nutrisi alternatif baru yang tidak hanya tinggi protein, tetapi juga lebih ramah lingkungan. Selain itu, pemanfaatan mikroorganisme seperti ragi dan alga yang digunakan sebagai sumber protein sel tunggal yang dapat tumbuh di media limbah industri untuk mengubah limbah menjadi sumber gizi berharga juga gencar dikembangkan.
Peternakan organik turut menjadi poin sorotan berikutnya. Sistem ini menolak penggunaan hormon dan antibiotik pertumbuhan, serta menekankan prinsip keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan hewan. Ayam organik diberi akses ke udara terbuka dan diberi pakan alami yang bebas GMO. Walau biaya produksi lebih tinggi dan produktivitas lebih rendah, permintaan konsumen terhadap produk unggas organik terus meningkat karena alasan kesehatan dan nilai kesejahteraan hewannya.
Tak hanya pada level manajemen kandang dan pakan, transformasi menuju keberlanjutan juga menyentuh aspek teknologi dan digitalisasi. Sensor suhu, kelembapan, serta kamera pemantau perilaku ayam kini digunakan untuk memantau kondisi kandang secara real time. Sistem ini memungkinkan peternak dapat merespon lebih cepat terhadap perubahan kondisi lingkungan maupun kesehatan ayam, sehingga mencegah penyebaran penyakit dan mengurangi penggunaan obat-obatan.
Di sisi lain, salah satu tantangan terbesar dalam industri ini adalah pengelolaan limbah. Kotoran ayam yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemari air dan udara. Oleh karena itu, teknologi kompos dan biogas kini menjadi solusi penting. Limbah organik dari peternakan dapat diubah menjadi pupuk padat maupun gas metana untuk bahan bakar. Di sisi lain, energi matahari juga mulai banyak digunakan di peternakan modern untuk menekan konsumsi listrik dari sumber tak terbarukan.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com