Oleh: Febroni Purba, S.Pt*
Industri perunggasan khususnya ayam ras pedaging (broiler) sepanjang tahun lalu mengalami keterpurukan yang cukup parah. Harga jual seringkali di bawah harga pokok produksi. Kerugian panjang membuat sejumlah peternak rakyat mandiri mencari alternatif lain, salah satunya mencoba mencari peruntungan baru yakni pembesaran ayam lokal atau biasa kita sebut ayam kampung. Ada yang melakukan secara berasamaan—broiler dan ayam lokal—beberapa beralih seratus persen ke ayam lokal.

Peternak harus memiliki berbagai strategi untuk mencapai performa yang tinggi agar mampu berdaya saing. Hal itu agar usahanya tetap bertahan di tengah usaha budi daya yang kian kompetitif.

Jika melihat fenomena tersebut, peternakan ayam lokal mengalami persaingan yang semakin ketat. Jumlah produksi tetas dari perusahaan pembibitan pun meningkat. Lingkungan bisnis peternakan ayam lokal juga semakin dinamis. Kondisi ini menjadi tantangan baru di sektor peternakan ayam lokal: dapatkah peternak yang mencoba peruntungan baru ini mampu bersaing dengan pemain-pemain yang ada? Atau apakah fenomena ini hanya memindahkan masalah yang terjadi di peternakan broiler ke peternakan ayam lokal?
Perkembangan ayam lokal tidak terlepas dari hasil penelitian oleh Badang Penelitian dan Pengembangan (Balitbangtan) Kementerian Pertanian. Tahun 2014 untuk pertama kalinya pemerintah melepaskan galur unutk ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB). Ayam KUB yang merupakan hasil seleksi genetik dari berbagai ayam kampung itu kini ramai dimanfaatkan peternak di seluruh Indonesia. Kelompok dan komunitas peternak ayam KUB mulai terbentuk dan persaingan semakin ketat, bahkan di tingkat pembibit melakukan banting harga untuk merebut pasar.
Baca Juga: Membentuk Galur Murni Ayam Lokal Indonesia
Tulisan ini akan mengulas sebuah pandangan yang segar bagaimana peternakan ayam lokal memiliki keunggulan kompetitif atau berdaya saing. Tentu tidak bisa hanya memiliki semangat kewirausahan atau efisensi saja. Peternak harus memiliki berbagai strategi untuk mencapai performa yang tinggi agar mampu berdaya saing. Sekitar lima tahun yang lalu, sebuah perusahaan pembibitan ayam lokal terpaksa ditutup karena masalah manajemen strategi. Padahal waktu itu belum begitu banyak pesaing seperti sekarang ini. Inilah yang akan dibahas dalam tulisan ini.
Sebelumnya, berdasarkan hasil riset dari jurnal internasional yang terindex Scopus dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir telah terjadi sejumlah persoalan di sektor pertanian/peternakan di berbagai belahan dunia (Amerika, Asia, Afrika, Eropa). Pertama, skala usaha yang kecil, keterampilan manajemen yang rendah, dan inovasi yang terbatas. Kedua, tidak memiliki visi yang jelas dalam mengembangkan bisnis secara strategis. Ketiga, pelaku usaha di sektor peternakan cenderung berperan sebagai produsen atau pemasok daripada sebagai pemasar, pengembang produk (inovator), atau wirausahawan.*Praktisi peternakan ayam lokal dan mahasiwa Pascasarjana Ilmu Manajemen Universitas Indonesia
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2020 ini dilanjutkan pada judul “Peternakan Ayam Lokal yang Berdaya Saing”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153