POULTRYINDONESIA, Jakarta – Ditengah semakin masifnya penggunaan teknologi dan otomatisasi didunia industri, membuat sub sektor peternakan harus segera menyesuaikan diri. Melihat fenomena tersebut, Himpunan Mahasiswa Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung (UNILA) berinisiatif menggelar seminar virtual bertema “Strategi Pembangunan Peternakan di Era Revolusi Industri 4.0 dalam Mewujudkan Tujuan SDGs 2030 di Masa Pandemi Covid 19”, melalui aplikasi zoom, Minggu (14/11).
Baca juga : Konsumsi Ayam dan Telur untuk Peningkatan Perekonomian saat Pandemi
Prof. Dr. Ir. Purnomo, M.S., selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kerja, Fakultas Pertanian, UNILA menyampaikan bahwa acara ini merupakan salah satu upaya dalam menumbuh kembangkan rasa cinta dan meningkatkan keilmuan peternakan. Dirinya berharap acara ini akan membuat mahasiswa peternakan mempunyai pengetahuan dan rasa terhadap revolusi 4.0.
“Di era ini, kita harus mampu berinovasi. Seperti semua harus dapat dihitung secara real time apakah itu kebutuhan daging, telur ataupun kebutuhan nutrisi ternak. Apabila kita tidak mampu beradaptasi dan berinovasi, maka akan sulit untuk bertahan,” tegas Purnomo dalam sambutannya.
Sementara itu, dalam forum yang sama drh. Makmun, M.Sc, Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Sesditjen PKH) menjelaskan terkait arah kebijakan, program dan target pembangunan peternakan tahun 2022. Menurutnya, dalam program utama, pemerintah akan berupaya mewujudkan ketersediaan akses dan konsumsi pangan yang berkualitas, meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri serta meningkatkan dukungan manajemen.
“Target kami kedepan adalah bagaimana terciptanya ketahanan pangan asal ternak serta meningkatnya kesejahteraan peternak,” ungkapnya.
Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN Eng. selaku Guru Besar Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada dalam kesempatan ini membawakan materi yang berjudul “Strategi Pembangunan Peternakan yang Berkelanjutan dalam mewujudkan SDGs 2030”. Menurutnya, dalam pembangunan peternakan diperlukan adanya komitmen politik dan sinergitas kebijakan pangan yang berpihak pada kepentingan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, optimalisasi sumberdaya air dan lahan untuk produksi pangan juga harus dilakukan.
“Dalam proses produksi, perlu adanya kemandirian yang didukung pembiasaan pola konsumsi pangan nusantara dari sisi konsumsi. Terakhir penting adanya penguatan kelembagaan dan jaringan pangan. Gagasan pembangunan peternakan tersebut merupakan Panca Krida Pembangunan Pangan Nusantara, ” jelas Ali.
Dari sisi praktisi, turut hadir Ir. Didiek Purwanto, IPU selaku Direktur Utama, PT. Karunia Alam Sentosa Abadi. Menurutnya tantangan industri peternakan di era industri 4.0 dan pandemi covid-19 merupakan perubahan pola industri yang nyata serta selaras dengan tuntutannya. Dimana semua kegiatan dituntut tanggap dan mengerti apa yang menjadi karakteristik serta tuntutan dunia yang serba digital, cepat serta persaingan yang terbuka dan ketat.
“Revolusi 4.0 fokus terhadap aspek melakukan pekerjaan secara otomatis. Sementara itu society 5.0 lebih menekankan pada perluasan proses kerja serta mengoptimalkan tanggung jawab jam kerja dalam menyelesaikan pekerjaan. Dalam hal ini industri peternakan harus bisa mengintegrasikannya,” pintanya.