Pasca pandemi Covid-19 kondisi di seluruh dunia mengalami banyak perubahan, seperti pada kondisi kesehatan, pangan, dan sumber daya lainnya. Banyak ketersediaan bahan baku yang terkendala atas hal ini, dan tentunya mempengaruhi kondisi peternakan di Indonesia, khususnya perunggasan.
Atas dasar tersebut, Phibro Animal Health Corporation (PAHC) dan PT SHS International menyelenggarakan seminar daring bertemakan “Phibro Conference 2022 – ChickPak Summit “ yang diadakan melalui aplikasi Zoom, Rabu (22/6). Arik Farzeli selaku Country Head Phibro Animal Health Indonesia dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu fokus Phibro untuk terus mendukung industri peternakan melalui melalui kegiatan Phibro Conference 2022. “Kami menghadirkan para pembicara kompeten yang akan memberikan informasi secara lengkap mengenai kondisi saat ini dan bagaimana kita mendapatkan solusi dalam mengatasi tantangan yang ada,” tutur Arik.
Memberikan perlindungan sejak di hatchery
Wendy Wu selaku Managing Director, Phibro Southeast Asia membuka persentasi pertama dalam Phibro Conference 2022 ini dengan membahas mengenai “Asia Poultry Industry Beyond the Pandemic”. Kondisi pandemi Covid-19 sudah memperlihatkan kondisi membaik walaupun masih ada tantangan di depan mata. Namun Wendy Wu melihat Indonesia sudah baik dalam penanganan Covid-19 ini dibandingkan beberapa negara lain. Ia melihat tingkat vaksinasi dan kontrol biosekuriti negara ini sangat baik. “Saat adanya outbreak varian delta. Pemerintah dan masyarakat sudah bekerjasama untuk penanganan Covid-19 dengan baik. Selain itu, kondisi global industri perunggasan mulai memperlihatkan optimistik dengan adanya strategi dalam mengatasi pandemi,” ujar Wendy.
Akan tetapi, terdapat tantangan lain, ketika terjadi perang antara Rusia dan Ukraina. Hampir diseluruh dunia mengalami tantangan ketersediaan bahan baku seperti gandum, jagung, sunflower oil, fertilizer, gas dan minyak yang mengalami kenaikan antara 20-40%. “Akibat dari Covid pun berdampak pada tarif angkutan antar negara, khususnya untuk di Asia. Selain itu, tertantang oleh kemunculan penyakin Avian Influenza di beberaa negara, tentunya menjadi permasalahan serius yang harus diatasi,” terangnya.
Saat ini kita akan melalui era baru dalam berbagai aspek, Wendy menyebutkan bahwa telemedicine sebagai platform yang mengintegrasikan teknologi dengan kesehatan sudah banyak digunakan oleh para dokter, selain itu kemudahan dalam memonitoring dan mendiagnosa sudah memiliki sistem dan memanfaatkan big data dalam penggunaanya. Hal ini mempermudah kita dalam penanganan untuk kesehatan manusia maupun hewan. “Pada era selanjutnya, mengenai keamanan pangan dan rantai pasok yang berkelanjutan menjadi perhatian khusus masyarakat. Hal ini tentu berpengaruh pada hewan ternak, karena biosekuriti dan keamanannya sangat diperhatikan, melalui sertifikasi ataupun validasi HACCP atau ISO. Hal yang sangat terlihat pula saat ini mengenai model pelayanan pengantaran makanan yang dibutuhkan oleh konsumen kenaikannya mencapai 80%,” jelas Wendy.
Pada industri perunggasan tentu akan mengalami perubahan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Bila dilihat dalam jangka panjang, akan terjadi revolusi kondisi pasar dengan adanya digitalisasi dan pemanfaatan produk lokal, selain itu akan ada semakin banyak penggunaan mesin otomatis pada manufaktur, hal ini akan berdampak pada interaksi dan disrupsi di berbagai aspek. Selain itu, pada sisi ekonomi akan adanya efikasi produksi untuk mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhan bisnis. “Dalam jangka pendek, perunggasan sebagai opsi protein dengan harga murah dan siklus yang pendek dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami peningkatan produksi sebesar 3-5%, sedangkan untuk konsumsi telur meningkat sebesar 3,7% di Asia dan banyak hal yang berubah dipengaruhi oleh inflasi dan krisis. Sebagai point tambahan, Negara Malaysia melakukan pelarangan export semua jenis produk ayam ke Singapura dan beberapa negara lain per Juni, Singapore Food Agency (SFA) saat ini sedang mencari supply live birds dari negara tetangga lainnya, hal ini dapat menjadi peluang,” tutup Wendy.
Pada sesi selanjutnya, Prof. Michael Wineland, PhD selaku Professor Poultry Science dari North Carolina State University dan juga Hatchery Consult LLC dari USA memberikan persentasi mengenai “Protection from the beginning : Managing chick health at the hatchery”. Ia menitikberatkan pada memproteksi kesehatan ayam sejak dari hatchery. Michael menyebutkan bahwa memproteksi kesehatan ayam sejak awal sangat penting dilakukan dikarenakan akan mempengaruhi kualitas pada ayam kedepannya.
Kondisi lingkungan menjadi gerbang awal dalam proteksi kesehatan, karena melalui lingkungan yang bersih dan aman dapat menjaga ekosistem lingkungan yang baik untuk ternak. Proses sanitasi dan ventilasi udara (suhu, kelembaban) di hatchery menjadi kunci keberhasilan proses penetasan. “Keamanan dan kebersihan kandang akan sangat mempengaruhi kondisi kesehatan ayam. Terdapat hal luput terperhatikan oleh para peternak di hatchery, bahwa day old chick (DOC) sangat rentan sekali. Bagian navel pada tubuhnya sangat rentan menjadi gerbang masuknya penyakit, karena ayam menetas tidak dalam kondisi steril, terkadang masih ada bakteri pada inkubator. Kondisi lainnya seringkali terjadi infeksi penyakit dari telur yang retak, hal ini akan meningkatkan makroorganisme dalam telur,” jelas Michael.
Dalam menjaga kondisi kesehatan ayam sejak hari pertama, program vaksinasi tetap menjadi program yang efektif untuk dilakukan untuk menjaga kesehatan ayam. Michael pun menyebutkan bahwa beberapa jenis vaksin sudah banyak digunakan di hatchery seperti vaksin in-ovo injeksi subkutan dan melalui vaksin spray. Biosekuriti dan vaksinasi sangat berhubungan, maka saat dilakukan vaksinasi pun perlu sekali untuk menjaga higinitas seluruh elemen yang ada di hatchery, “Pengaplikasian vaksin akan sangat bergantung pada sedian vaksin dan teknik pemberianya, jadi sangat penting untuk diperhatikan untuk pemberian vaksin di hatcehry,” tegas Michael .
Pada pemaparan selanjutnya, Phibro Conference 2022 – ChickPak Summit turut menghadirkan Tony Unandar selaku private poultry consultant dari Indonesia. Tony memberikan pemahaman lebih spesifik mengenai “Hatchery vaccination – Perspectives in Vaccine Imunology”. Ia menyebutkan apabila terdapat permasalahan dalam perkembangan embrio ayam saat di hatchery akan mempengaruhi respon kekebalan termasuk respon pada pertumbuhan ayam itu sendiri.
Vaksinasi hatchery merupakan pengaplikasian vaksin yang dilakukan di hatchery atau tempat penetasan DOC. Pemberian vaksin di hatchery sangat menguntungkan, dimana dapat menghindari terpapar patogen lapangan sejak dini. Pada ayam yang divaksin saat di hatchery akan memiliki dan berpengaruh pada repson imunitasnya di kemudian hari.
“Kedepannya tren dalam pemberian vaksin akan mengarah pada pengaplikasian vaksin yang dilakukan di hatchery, maanfaat yang dapatkan yaitu kondisi DOC yang masih prima dan belum terpapar patogen lapangan membuat sistem imunitas DOC khususnya innate immunity sudah berkembang dan berfungsi lebih baik sehingga pemberian vaksin di hatchery memberikan respon yang optimal, “ terang Tony.
Ia pun menambahkan bahwa penggunaan vaksinasi di hatchery sebenarnya sebagai bentuk strategi untuk kembali ke alam (back to nature strategy). ”Kita dapat melihat di alam, ayam liar tidak diberikan vaksin namun mereka mendapatkan respon imun dari mikroba lingkungan seperti kapang (yeast), bakteri atau yang lainnya memberikan respon terhadap innate immunity. Sehingga mampu mencegah ataupun mereduksi invasi patogen dan tidak menyalahi animal walfare,” tambah Tony.
Lebih lanjut, Tony menyebutkan bahwa pada DOC, pengaplikasiaan vaksinasi hatchery yang melalui injeksi subkutan umumnya dilakukan untuk sediaan vaksin dalam bentuk live attenuated vaccine (MD, IBD), killed vaccines (ND+IB), Immune complex vaccine (IBD), vectored vaccine. “Melalui pemberian vaksinasi ini akan adanya early imune respons setelah dilakukan vaksinasi di hatchery, respons yang terjadi akan menghasilkan adaptive imune respon yang diharapkan,” jelasnya.
Selanjutnya, Dr. Luis Etcharren Marquez selaku Global Vaccine Marketing Director, Phibro Animal Health Corporation. Ia membahas mengenai “A Practical Strategy to Provide an Early Inset of Immunity – The Phibro ChickPak Solution”. Luis memperkenalkan program vaksinasi unggulan Phibro dalam mengatasi berbagai penyakit pada ayam, Phibro ChickPak sebagai solusi penetasan untuk vaksinasi DOC terhadap IBD, IB, ND yang dapat diberikan melalui injeksi dan spray vaksin.
MB-1 menjadi salah satu rangkaian program vaksinasi Phivax ChickPak dari Phibro yang merupakan vaksin hidup yang dilemahkan untuk Penyakit Bursal Menular yang diformulasikan dengan strain MB. “Melalui pemberian MB-1, akan menimbulkan kekebalan lebih awal dibandingkan dengan imun dan vaksin rekombinan IBD. Selain itu, tidak adanya imunosupresi yang telah diamati pada DOC yang divaksinasi, tentu ini menunjukan bahwa penggunaan MB sangat efektif dan memberikan perlindungan secara luas terhadap strain klasik, varian dan vvIBD,” jelas Luis.
Beberapa penelitian pun telah dilakukan Phibro di berbagai negara, salah satunya Brazil pada 2021. Dari penelitian tersebut menunjukan kapasitas kolonisasi BF yang tinggi, ayam broiler yang divaksinasi MB-1 menunjukkan tingkat repopulasi folikel bursa yang cepat. “Pemberian vaksin MB-1 secara in ovo memberikan perlindungan yang lebih baik dan strain vaksin telah teridentifikasi lebih awal,” terang Luis.
Selain MB-1, rangkaian Phivax ChickPak lainnya adalah vaksinasi untuk IB dengan menggunakan vaksin TAbic yang merupakan terobosan baru melalui vaksin berbentuk effervescent tablet. Phibro memiliki 3 varian vaksin IB yaitu TAbic IB Var, TAbicH-120. Serangkaian produk dari Phibro ini sebagai solusi vaksinasi di hatchery mengatasi Infectious Bronchitis (IB). Vaksin berbentuk effervescent ini memudahkan dalam pengaplikasian, ringan, dan eco-friendly. Sementara untuk angkaian produk lainnya dalam perlindungan terhadap Newcastle Disease, Phibro memiliki Nectiv® Forte (ND inactivated vaccine) dan TAbic® VH, dan V.H + H-120 (kombinasi NDV dan IB live vaccine).
Turut bergabung bersama kita Ibu Indriana Sriredjeki selaku Hatchery Product Manager PT SHS International. Ia mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada peserta yang telah bergabung bersama acara 2022 Phibro Conference – ChickPak Summit. “Semoga apa yang sudah disampaikan tadi tidak membuat kita ragu untuk melakukan vaksinasi di hatchery,” tutup Indriana. ADV