Bulan Januari 2021 nanti merupakan tiga tahun pelarangan antibiotic growth promoters (AGP) di Indonesia. Kebijakan tersebut diambil karena penggunaan AGP sebagai imbuhan pakan ternak dapat berdampak  negatif bagi kesehatan manusia. Oleh karenanya, sejak adanya pelarangan AGP, penggunaan bahan-bahan alternatif pengganti AGP semakin banyak dan berkembang atas penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di seluruh dunia maupun Indonesia.
Atas dasar tersebut, Phibro Animal Health Corporation bersama PT SHS Internasional menyelenggarakan seminar daring bertemakan “Saponin for Poultry Intestinal Health Solutions and Performance Enhancer” yang diadakan melalui aplikasi Zoom, Rabu (18/11).
Arik Farzeli selaku Country Head Phibro Animal Health Indonesia dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan pengingat kembali jika Phibro memiliki produk Nutrafito Plus® yang memiliki kandungan saponin yang didapatkan dari ekstrak Quillaja dan Yucca. Saponin dapat menjadi pilihan dalam mengatasi penggunaan AGP dan terbukti sangat membantu peternak.
“Di Amerika Serikat telah menggunakan Nutrafito Plus® selama 5 tahun dan penjualannya sudah memasuk angka 100 juta USD dan sebanyak 13,5 miliar ekor broiler sudah  menggunakan produk ini. Dampaknya sangat besar sekali bagi industri perunggasan untuk terbebas dari penggunaan antibiotik. Kami pun berterima kasih kepada PT SHS International selaku distributor kami atas kerja sama dan terselenggaranya kegiatan ini. Kami menghadirkan para pembicara kompeten yang akan memberikan informasi secara lengkap mengenai Saponin dan Nutrafito Plus®,” tuturnya.
Peran saponin dalam performa unggas
Pembatasan penggunaan antibiotik di dalam pakan membuat para peternak harus semakin ekstra dalam mempertahankan kesehatan ternak. Sementara itu, tantangan dalam berbudi daya unggas beraneka macam, salah satunya penerapan biosekuriti yang belum maksimal.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Ir. Budi Tangendjaja M.S., M.App.Sc., PhD selaku Technical Consultant Poultry menjelaskan bahwa biosekuriti di Indonesia masih lemah. Menurutnya ada dua bagian dari biosekuriti yang harus diperhatikan yaitu struktural dan operasional. Secara struktural seperti lokasi kandang yang berdekatan dan yang kedua secara oprasional seperti kebersihan pekerja dan kandang. “Kedua hal tersebut menjadi tantangan terbesar karena jika tidak diperhatikan maka memudahkan timbulnya penyakit khususnya untuk penyakit pencernaan pada usus,” jelasnya.
Masih menurut Budi Tangendjaja, kesehatan usus sangat berpengaruh pada penyerapan nutrisi. Oleh sebab itu diperlukan vili-vili usus yang sehat, karena jika terjadi kerusakan, maka akan terjadi masalah dan tidak dapat menyerap gula, protein dan asam amino yang terhidrolisisi oleh lipase yang masuk ke dalam usus.
“Jika penyerapan menurun akan mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit seperti Koksidiosis dan Necrotic enteritic (NE). Kesehatan usus ini sangat penting karena imunitas tubuh terbentuk dari usus yang sehat,” ujarnya.
Adanya pelarangan AGP membuat pabrik pakan atau peternak self mixing harus mengganti imbuhan pakan
yang digunakan seperti menjadi probiotik, prebiotik, immunostimulants, Acidifier, Enzim, Mineral, Essential Oil dan Phytogenics atau herbal. Penggunaan phytogenics atau herbal menjadi pilihan dalam pemberian imbuhan pakan pengganti  AGP. Budi mengatakan bahwa saponin, tanin, algae, phenolics merupakan bagian dari phytogenics yang didapatkan dari tanaman. Menurutnya, phytogenics menjadi alternatif yang bisa dikembangkan untuk menggantikan AGP.
Budi Tangendjaja pun menambahkan bahwa pemanfaatan saponin sangat berguna bagi kesehatan usus pada unggas
karena sifatnya yang membantu dalam mengontrol bau, anti koksidial dan dapat memperbaiki kondisi ternak. Saponin
dapat dimanfaatkan sebagai anti oksidan dalam proses biologis ternak, selain itu dapat menghambat produksi amonia, serta berpengaruh pada penurunan kolesterol pada layer, menjadi anti bakterial dan anti fungi.
“Saponin yang didapatkan dari Quillaja dan Yucca dapat digunakan sebagai pengganti AGP. Kami menyarankan untuk menggunakan fitogenik pada imbuhan pakan. Peternak
juga diharapkan untuk memerhatikan produk apakah sudah teregistrasi di Indonesia atau belum. Kemudian perhatikan khasiat, efisiensi yang diberikan, dan analisis risiko serta perhitungannya secara ekonomi,” tambahnya.
Sementara itu Dr. Elizabeth Wina MSc yang merupakan Peneliti Nutrisi Hewan dari Balai Penelitian Ternak Ciawi yang banyak melakukan penelitian mengenai komponen bioaktif (tannin dan saponin) dari alam untuk membantu performa unggas dan ruminansia, menjelaskan bahwa saponin berasal dari kata sapon atau busa yang memiliki sifat membentuk busa. Saponin merupakan glikosida yang memiliki 2 struktur utama yaitu membentuk steroidal saponin dan triterpenoid saponin.
“Struktur saponin tersebut menyebabkan saponin bersifat seperti sabun atau berbusa sehingga saponin disebut sebagai surfaktan alami. Saat ini yang banyak dimanfaatkan untuk ternak adalah ekstrak tanaman Quillaja dan Yucca,” jelas Wina.
Berdasarkan sebuah penelitian, yang menarik dalam penggunaan dua jenis saponin yang berasal dari Quillaja dan Yucca adalah kemampuan menekan pertumbuhan bakteri patogen pada ayam seperti Shigella flexneri, Salmonela enterica, E. coli, Vibrio, Listeria dan lainnya dengan konsentrasi yang sesuai. Jika penambahan konsentrasi pada bahan pakan terlalu rendah dapat mengakibatkan perkembangan Shigella. Oleh karena itu penggunan saponin sebagai imbuhan pakan  pada layer maupun broiler harus sesuai dengan dosis yang direkomendasikan.
Formulasi unik untuk solusi kesehatan usus
Melihat tren penyakit pencernaan pada unggas yang masih sering terjadi di Indonesia, Leandro Ferreira, DVM selaku Poultry Technical Director Phibro Animal Health Corporation SEA Region memperkenalkan Nutrafito Plus® sebagai solusi untuk kesehatan usus ayam. Leandro mengatakan bahwa Nutrafito Plus® merupakan produk yang dibuat 100% berasal dari ekstrak tanaman Quillaja saponaria dan Yucca schidigera.
“Produk kami telah dibuktikan dalam lima tahun terakhir  ini di Amerika Serikat dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Nutrafito Plus® memiliki manfaat utama yang dapat dimanfaatkan oleh kita semua,” ujarnya.
Berdasarkan data di lapangan, penggunaan Nutrafito Plus® dapat meningkatkan integritas usus yang dapat mengkontrol patogen dan performa ternak, membantu peningkatan penyerapan nutrisi hasil karkas, respon imun, konversi pakan dan bobot badan. Selain itu juga dapat meningkatkan penyerapan nutrisi yang lebih baik serta membantu pengendalian amonia dan hasil karkas.
Dalam penggunaan Nutrafito Plus® yang digunakan pada broiler dan layer di Amerika Serikat, Leandro menerangkan bahwa hasilnya sangat signifikan dalam beberapa parameter yang diteliti. Parameter yang dilihat di antaranya keseragaman bobot badan di broiler dan layer meningkat, berat pullet yang sesuai target, rendahnya tingkat kematian pada layer dan broiler dengan tantangan lingkungan, serta menurunnya pengeluaran untuk pengobatan koksidiosis.
“Produk ini masuk ke dalam 3 besar dari 10 besar produk pilihan yang digunakan untuk peternakan broiler dan layer di Amerika Serikat,” terangnya.
Selain itu, Leandro pun menerangkan untuk penggunaan Nutrafito Plus® dalam pakan. Menurutnya untuk dosis yang dapat digunakan yakni sebanyak 250-500 gr/ton pakan. Penggunaan pada broiler dapat digunakan sebanyak 250 gr/ton dari usia 0 hari hingga panen. Hal tersebut bertujuan sebagai solusi untuk menjaga kesehatan usus. Sedangkan pada layer dan breeder sebanyak 250 gr/ ton yang dapat digunakan sejak pullet hingga masa periode bertelur yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan usus, produksi telur dan kualitas kerabang telur yang dihasilkan. Adv