Kesehatan ternak menjadi tantangan besar bagi industri perunggasan yang penting untuk dikendalikan. Berbagai pencegahan telah dilakukan oleh para peternak seperti penerapan biosekuriti dan sanitasi yang ketat, memperbaiki manajemen kesehatan dan budi daya ternak serta tentunya pemberian vaksin sebagai langkah awal pencegahan munculnya berbagai penyakit.
Atas dasar tersebut, Phibro Animal Health Indonesia menyelenggarakan seminar daring bertemakan ‘Phivax MB-1: The New Approach to Gumboro Disease Control’ melalui aplikasi Zoom, Rabu (31/3). Kegiatan tersebut sekaligus memperkenalkan produk vaksin live Phivax MB-1 yang telah hadir di Indonesia sebagai pencegahan terhadap munculnya Infectious Bursal Disease (IBD) atau Gumboro.
Dalam sambutannya, Wendy Wu selaku Managing Director, South East Asia Phibro Animal Health mengatakan bahwa penyakit IBD/ Gumboro merupakan masalah serius bagi industri perunggasan selama bertahun-tahun. Infectious Bursal Disease (IBD) merupakan penyakit virus yang menjangkit hampir di seluruh dunia. IBD menyerang pada bagian bursa fabricius, bagian ini merupakan salah satu organ penting dalam sistem imunitas dan sangat berpengaruh pada kinerja produksi dari unggas. Diperlukan program vaksinasi sebagai upaya pencegahan munculnya penyakit IBD.
Selanjutnya, Arik Farzeli, DVM selaku Country Head Phibro Animal Health Indonesia menyampaikan terima kasih kepada PT SHS International selaku distributor resmi produk Phibro di Indonesia yang telah membantu terselenggaranya kegiatan seminar daring.
“Kami berterima kasih atas kedatangan para peserta seminar dan rekan-rekan SHS International. Semoga kegiatan ini dapat memberikan informasi terbaru dalam peluncuran vaksin live milik kami yaitu Phivax MB-1,” tuturnya.
Dalam kesempatan ini, Indriana Sri Redjeki selaku Produk Manager Vaksin PT SHS International turut hadir mengucapkan selamat kepada Phibro Animal Health Indonesia karena telah meluncurkan vaksin Phivax MB-1 di Indonesia yang sangat bermanfaat bagi peternak dalam mencegah gumboro sejak di hatchery.
Pendekatan baru kontrol Gumboro
Infectious Bursal Disease adalah penyakit endemik yang muncul sebagai vvIBDV atau subklinis (varian) dan hampir setiap ayam komersial di dunia divaksinasi Gumboro. Penyakit ini biasanya menyerang ayam muda usia 1-6 minggu dengan organ target utamanya adalah Bursa Fabricius di mana IgM + limfosit B yang belum matang menjadi sel targetnya.
Dr. Udi Ashash, DVM selaku Global Technical Director, Phibro Animal Health mengatakan bahwa IBDV menginfeksi unggas muda sehingga perlindungan dibutuhkan hingga usia 8-9 minggu. Selain
biosekuriti, vaksinasi adalah langkah terpenting untuk pengendalian IBDV dan pembentukan antibodi anti-VP2 yang merupakan protein penentu tingkat virulensi virus. Maternal Derived Antibodies (MDA) atau antibodi indukan hanya melindungi DOC dalam 2-3 minggu pertama. Selanjutnya perlu dilakukan imunisasi aktif pada DOC untuk perlindungan yang efektif.
Udi menambahkan Phibro Animal Health menjawab permintaan konsumen dalam menyediakan vaksin Phivax MB-1 sebagai perlindungan awal sejak di hatchery. Phivax MB-1 merupakan vaksin hidup yang dilemahkan dengan kandungan M.B. strain yang diadaptasi untuk injeksi in-ovo atau subkutan di hatchery. “Penggunaannya dapat diterapkan bersamaan dengan vaksin Marek, Nectiv Forte, vaksin Pox yang diberikan secara in-ovo atau vaksin spray lainnya serta aman digunakan pada broiler, layer dan breeder,” imbuhnya.
Dalam penelitian dan pengujian secara global, didapatkan bahwa kekebalan tubuh lebih dini dibandingkan dengan vaksin imun kompleks dan rekombinan IBD. Permulaan uji coba dilakukan di 10 negara dengan musim yang berbeda sejak tahun 2016. Titer IBD ELISA berasal dari ayam pedaging komersial yang divaksinasi dengan Phivax MB-1 yang dibandingkan dengan ayam pedaging komersial yang divaksinasi dengan vaksin imun kompleks.
“Hasilnya Phivax MB-1 memberikan onset imunitas yang lebih awal saat penggunaan pada waktu yang tepat dan titer antibodi yang lebih tinggi dibandingkan dengan vaksin imun kompleks. Tentunya tidak terjadi imunosupresi saat penggunaan Phivax MB-1,” kata Udi.
Hal senada disampaikan Dr. Avner Finger, DVM selaku Vice President R&D, Phibro Animal Health. Avner mengatakan vaksin yang dikembangkan Phibro terbukti aman dan sangat efektif melawan IBDV sejak dini. “Phivax MB-1 dimediasi oleh Maternal Derived Antibodies (MDA). Antibodi ini mencegah replikasi awal dari strain vaksin MB-1,” kata Avner.
Replikasi awal pada virus bersifat individu dan tergantung pada level MDA di setiap ayam. Pada ayam dengan level MDA rendah, replikasi virus di bursa terjadi lebih awal (hari 16-17), dibandingkan dengan ayam dengan level MDA tinggi (hari 24-26). Pemberian vaksin sejak awal akan membentuk titer antibodi lebih awal.
Keseriusan Phibro Animal Health dalam pengembangan Vaksin Phivax MB-1 ini didukung oleh penelitian laboratorium yang dilakukan oleh Royal GD and Veterinary Faculty Utrecht University. Prof. Sjaak de Wit, DVM, PhD selaku peneliti mengatakan bahwa pengujian vaksin ini dapat melindungi ternak komersial dalam berbagai kondisi dan tantangan.
Keberadaan virus IBD dapat menghasilkan kerusakan parah pada awal pemeliharaan seperti dapat berdampak pada munculnya penyakit NE, pertumbuhan dan FCR yang terganggu, terjadi diare, imunosupresi, dan kesulitan dalam pendiagnosaan secara klinis, serologi maupun histopathology.
“Dari sebuah jurnal penelitian mengenai pengaplikasian vaksin live IBD secara in ovo di ayam komersial yang dilakukan pada tahun 2019-2020 oleh Ashash et al. Mereka melakukan empat pengujian lapangan di Afrika Selatan, Israel, Brasil, dan Argentina. Hasilnya menunjukkan keamanan relatif, respons imun humoral, dan kinerja produksi MB-1 sebelum dan sesudah penetasan dengan broiler hidup konvensional dan ICX IBD yang divaksinasi,” ungkap Sjaak de Wit.
Sementara untuk tingkat atenuasi Phivax MB-1 memungkinkan vaksin berhasil melindungi ternak dari virus vvIBD. Pengaplikasian secara in-ovo memberikan perlindungan
lengkap terhadap tantangan, tidak ada replikasi virus tantangan dan tidak menyebabkan imunosupresi. Phivax MB-1 dapat menyesuaikan dengan IBD dari antibodi yang diturunkan dari induk ayam secara individu.
Dr. Leandro Ferreira selaku SEA Technical Director, Phibro Animal Health yang
juga turut hadir dalam seminar tersebut memaparkan hasil pengujiannya yang dilakukan di 6 negara Asia seperti Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam, Filipina dan India. Hasil uji menyebutkan bahwa hampir 90% peternakan di Asia mengggunakan vaksin IBD di hatchery dikarenakan subklinis IBD dapat mengakibatkan kematian dan berkurangnya performa ternak 

“Hasil penelitian yang kami lakukan di Indonesia pada tahun 2019 pada broiler menunjukkan hasil yang sangat baik. Perbandingan dalam pemberian Phivax MB-1 dan vaksin imun kompleks IBD pada kandang broiler yang berbeda menunjukkan hasil Phivax MB-1 lebih baik dengan menunjukkan telah munculnya MB strain pada usia 14 hari. Hal ini menunjukan Phivax Mb-1 dapat melindungi ayam 4 – 7 hari lebih cepat dibandingkan vaksin imun kompleks. Hal serupa dilakukan pada layer di tahun 2021, Phivax MB-1 sangat aman untuk layer dan tidak ada imunosupresi. Pemberian singel dosis dapat melindungi ternak dari IBDV,” tuturnya.

Kunci sukses vaksinasi di hatchery

Pemberian vaksin merupakan sebuah perlindungan terhadap ternak agar memiliki kekebalah tubuh dan kebal terhadap penyakit dan diharapkan produksi akan optimal. Saat ini pemberian vaksin dapat dilakukan di hatchery. Dalam seminar ini sebagai perwakilan dari Phibro Animal Health Indonesia, Edi Samuel selaku Hatchery Manager memaparkan materi bertemakan ‘Praktik Terbaik dalam Mengelola Vaksinasi di Hatchery”.

Edi menjabarkan mengenai tantangan yang muncul di lapangan dalam proses budi daya unggas seperti terdapat tantangan lapangan tinggi oleh strain virus yang sangat ganas, interval dalam pemberian vaksin, adanya agen imunosupresif, program vaksinasi yang tidak memadai, serta persiapan dan pemberian vaksin yang buruk.

“Kita dapat melihat pada program vaksinasi di kandang masih banyak kendala yang terjadi seperti waktu dalam pemberian vaksin, takaran dosis vaksin yang diberikan, serta kualitas air dan ukuran tetesan pada pemberian vaksin spray yang tidak sesuai. Sebanyak 10- 15% ayam memungkinkan tidak tervaksinasi,” ungkapnya.

Atas dasar tersebut, diperlukan program vaksinasi yang terkendali oleh tim profesional yang didukung oleh perangkat khusus serta penerapan biosekuriti. Ia menambahkan dalam keberhasilan yang menunjang program vaksinasi di hatchery diperlukan persiapan yang sesuai dengan prosedur yang ada. Selain itu, dalam pencampuran vaksin harus benar dan dalam keadaan bersih. Para vaksinator harus mengenal komponen peralatan vaksin yang digunakan dan terampil dalam proses vaksinasi.

Selanjutnya dalam proses pengaplikasian pun harus diperhatikan, kemudian dilakukan pemantauan untuk memastikan seluruh DOC telah tervaksin. Proses-proses tersebut menurutnya sangat perlu diperhatikan, seperti harus menuliskan laporan sebagai acuan data untuk kedepannya.

“Ini harus dilakukan secara benar dan bertanggung jawab agar data yang dibutuhkan dapat menjadi acuan dalam program vaksinasi. Selain itu perlu untuk melihat hasil dari laporan vaksinasi dan dilakukan pemeliharaan peralatan dan update ilmu para vaksinator agar program vaksinasi berjalan sukses yang dilakukan di hatchery,” tutupnya. Adv