Para pimpinan perusahaan perunggasan berkumpul bersama
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Bertempat di Resto Omah Pawon, Jakarta Selatan, Selasa (1/9), para pimpinan perusahaan perunggasan berkumpul bersama saling berkoordinasi untuk menentukan upaya apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kondisi harga livebird yang beberapa bulan belakangan ini sangat jauh dari harapan.
Tri Hardianto selaku Ketua Dewan Pembina Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) dalam acara tersebut mengatakan bahwa dengan adanya diskusi ini diharapkan menemui satu titik terang untuk bisa sedikit demi sedikit membuat harga livebird bisa membaik dan setidaknya bisa membuat peternak tidak merugi yang terlalu besar seperti sebelumnya.
“Dengan diberlakukannya sistem on-off (sehari menjual sehari tidak) untuk para perusahaan besar ini yang sudah dilaksanakan mulai hari Senin, 31 Agustus kemarin sampai 2 minggu ke depan, harga livebird diharapkan terus merangkak naik,” ujar Tri.
Baca Juga: Kembali Merugi, Peternak Suarakan Aspirasi ke Kementan
Dalam upaya untuk menjaga kestabilan harga, Tri Hardianto berpendapat bahwa ke depannya nanti para perusahaan ini diharapkan bisa menjual ayam dalam bentuk karkas, tidak dalam bentuk livebird lagi, dengan tujuan agar harga karkas tidak diangka terlalu tinggi seperti saat ini yang mencapai Rp30.000 lebih, sedangkan harga di kandang sangat jatuh.
“Jika perusahaan bisa menjual langsung dalam bentuk karkas dan dengan harga di bawah Rp30.000, ini akan bisa membantu kesenjangan di harga livebird nya,” ungkap Tri.
Sebagai upaya jangka panjang, Tri Hardianto menilai bahwa ayam-ayam yang sudah dipanen bisa masuk ke RPA (Rumah Potong Ayam) yang selanjutnya disimpan melalui gudang pendingin (cold storage). Hal itu menurutnya sebagai salah satu upaya untuk mengatasi keseimbangan produksi dan permintaan.
“Kami yakin jika ayam diserap RPA minimal 40% saja, harga livebird di pasaran akan aman,” ujarnya.