Ayam yang terinfeksi Infectious Bursal Disease (IBD) atau Gumboro. (Sumber: Zaszambia)
Infectious Bursal Disease (IBD) atau gumboro, penyakit imunosupresif yang seringkali menyerang ayam muda, merupakan salah satu dalang dibalik kerugian ekonomi yang cukup besar dalam industri perunggasan di seluruh dunia selama beberapa dekade terakhir. Diketahui ada dua serotipe dari virus IBD (IBDV), yaitu serotipe I dan II. Menurut Bolis, DA et al. (2003), strain IBDV serotipe II diklasifikasikan menjadi IBDV virulen klasik (classical virulent IBDV) dan IBDV sangat virulen (very virulent IBDV/vvIBDV), serta hanya bersifat patogen pada ayam.

Dekade demi dekade terlewati, penyakit gumboro masih tetap menghantui. Hal ini tentu menjadi pecut bagi para peneliti dan dokter hewan untuk dapat mencari dan memberikan solusi serta upaya baru akan langkah-langkah pengendalian gumboro yang efektif

Fakta bahwa pada usia 3 hingga 6 minggu setelah menetas merupakan saat di mana bursa fabricius mencapai perkembangan maksimal dan masa di mana ayam rentan terserang berbagai penyakit, menjadi salah satu faktor mudahnya virus ini untuk menyerang ayam muda.  Virus IBD menyerang sel limfoid di bursa fabricius dengan menyebabkan sitolisis pembelahan sel pada organ limfoid primer yang kemudian menyebabkan imunosupresi yang sangat parah (Ciccone, N.A. et al., 2017) dan kerusakan pada busa yang akhirnya dikenal sebagai ciri utama patogenesis gumboro.
Penularan penyakit IBD
Infeksi IBD umumnya terjadi melalui jalur oral. Infeksi melalui konjungtiva dan saluran pernapasan juga dilaporkan terjadi. Menurut Sharma, J., et al. (2000), virus IBD sangatlah mudah menular, sehingga penularan dapat terjadi baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Jackwood D. dan Sommer-Wagner E. (2010) pada penelitiannya yang berjudul Detection and Characterization of Infectious Bursal Disease Viruses in Broilers at Processing, mengatakan bahwa ketahanan virus menjadi salah satu faktor dari cepatnya virus ini menyebar, sehingga virus IBD dapat dengan mudah menyebar melalui benda mati (peralatan kandang), anak kandang, serta vektor yang terkontaminasi.
Baca juga : Strategi Meminimalisir Koksidiosis pada Ayam
Menurut Tippenhauer M., et al. (2013), ayam petelur lebih rentan terinfeksi vvIBDV dibandingkan dengan broiler. Pada flok yang sangat rentan, mortalitas dari infeksi IBD strain klasik berkisar antara 1 hingga 60 persen dengan tingkat morbiditas yang mencapai 100 persen. Sedangkan mortalitas dari strain IBDV yang sangat virulen (vvIBDV) berkisar antara 50 hingga 60 persen pada ayam petelur, 25 hingga 30 persen pada ayam pedaging, dan 90 hingga 100 persen pada ayam Leghorns SPF (Specific Pathogen Free) yang rentan (Muller H., et al., 2003).
Manifestasi klinis penyakit ini tergantung pada banyak faktor, seperti umur, strain virus, titer antibodi maternal, hingga tipe vaksin yang digunakan, dan lain sebagainya. Periode inkubasi dari virus ini sekitar 2 sampai 3 hari, di mana unggas yang dicurigai terinfeksi menunjukkan gejala seperti distress, anoreksia, dan diare. Gejala ini berlangsung selama 3 hingga 4 hari, disusul dengan recovery atau penyembuhan yang cepat dari burung yang selamat.
Menurut Dey, et al. (2019), dalam kasus IBD akut, bursa fabricius menjadi turgid atau mengalami pembengkakan akibat adanya cairan. Selain itu, terkadang ditemukan juga tanda hemoragi pada bursa fabricius yang kemudian berubah menjadi atrofi dalam 7-10 hari. Atrofi pada bursa yang disebabkan oleh IBD subklinis dapat disalahartikan sebagai penyakit Marek (Marek’s Disease) atau anemia akibat infeksi. Pada fase akut, IBDV dapat dideteksi dalam 3 hari pertama pasca infeksi pada bursa. Deteksi IBD, baik subklinis maupun klinis, paling baik dilakukan dengan tes imunologi karena tidak mudah untuk mengisolasi virus.
Menurut Asif M., et al. (2007), tingkat kematian yang tinggi setelah infeksi IBDV pada ayam yang rentan erat hubungannya dengan kemampuan ayam dalam meningkatkan respons imun yang dimediasi oleh sitokin sistemik dengan cepat atau yang biasa disebut dengan badai sitokin (cytokine storm). Hal ini kemudian menyebabkan sindrom yang serupa dengan syok dan diikuti dengan kematian.
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi April 2022 ini dilanjutkan pada judul “Solusi dan upaya pengendalian IBD”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153