POULTRYINDONESIA, Jakarta – Saat ini memang industri pakan dihadapkan pada permasalahan ketersediaan bahan baku. Ketika harga bahan baku naik, tentu akan mendongkrak harga pokok produksi (HPP), yang nantinya akan berdampak pada industri pakan dan juga akan berimbas pada HPP peternak yang akan menggunakan pakan tersebut. Sedangkan alternatif bahan baku lokal bisa menjadi harapan baru, untuk menjadi substitusi dengan kandungan nutrisi yang sama, seperti halnya insekta yang digadang bisa menjadi alternatif bahan baku pakan unggas.
Baca juga : Aplikasi Maggot dalam Pakan Unggas
Berawal dari hal tersebut, perkumpulan Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI) Komisariat Daerah Jabar, DKI Jakarta & Banten menggelar seminar virtual dengan tajuk Starter atau Sehari Terinspirasi seri 2 pada Sabtu (19/3). Acara yang digelar melalui Zoom Meeting ini mengangkat tema tentang “Menuju Industrialisasi Insekta untuk Pakan Unggas”.
Berdasarkan pemaparan dari Aminudin Amin, S.P., selaku CEO PT Biomagg Sinergi International, yang merupakan perusahaan yang bergerak dibidang jasa pengolahan sampah organik, yang hadir sebagai narasumber pada seminar tersebut mengatakan dengan harga pakan yang cenderung naik di setiap tahunnya, kemudian harga dari tengkulak yang menguasai pasar, bahkan dalam beternak kebutuhan pakan ini juga menduduki prosentase tertinggi hingga 80%, menurutnya Indonesia memerlukan suatu industri yang bisa mengakomodasi hal tersebut, misalnya saja industri tepung ikan dan industri insekta ini.
“Keadaanya saat ini memang kita belum berdaulat akan kebutuhan protein kita, baik untuk konsumsi manusia ataupun protein untuk industri peternakan. Ada hal yang sepertinya terlupakan, bahwa mungkin jika berbicara protein, masyarakat terpaku  dengan daging sapi, dan ayam, dan daging lainnya, padahal untuk mencapai ini diperlukan suatu kedaulatan pangan yang berkesinambungan,” tutur Aminudin.
Menurutnya dengan permasalahn sampah yang dihadapi negara kita, bisa menjadi salah satu dari permasalahan yang ada. Baginya mengolah sampah menggunakan maggot sangat banyak manfaatnya. Maggot sendiri memang menyimpan banyak nutrisi dalam tubuhnya, terutama protein, sehingga pakan dari Maggot bisa digunakan untuk menstitusi pakan ternak di Indonesia. Selain itu dari proses ini juga bisa menghasilkan pupuk yang bisa digunakan di ladang pertanian, sehingga tidak hanya menyelesaikan masalah sampah namun juga bisa dimanfaatkan untuk pertanian dan peternakan.
“Menurut saya industrialisasi maggot ini akan sangat menjanjikan dan bisa menjadi solusi. Karena memang banyak sekali keuntungannya, jika dilihat dari ketersediaannya, maggot ini sangat stabil untuk ketersediaan bahan bakunya. Budi daya maggot juga tidak memerlukan lahan yang luas, selain itu, industrialisasi maggot mampu menjadi sistem operasional dan manajemen sampah yang baik,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dr. Yuni Cahya Endrawati, S.Pt., M.Si., selaku peneliti dari Fakultas Peternakan IPB, sebagai narasumber kedua dalam seminar tersebut menguak tentang potensi serangga sebagai pakan ayam. Di sini Yuni mengatakan serangga dapat menggantikan sebagian komponen pakan sumber protein pada ternak, termasuk ayam. Yuni juga mengatakan dalam serangga juga banyak mengandung banyak nutrisi, seperti fatty acids, fibres, dietary minerals, dan vitamin.
“Serangga ini memang banyak sekali fungsinya, terutama untuk pakan. Dalam serangga ini tinggi akan omega 3, kalsium, dan juga fosfor. Selain itu serangga juga mampu menjadi antioxidant peptides, chitin, serta antimicrobial peptide yang mana semua ini akan digunakan untuk menstimulus system imun tubuh, serta bisa juga berperan sebagai prebiotik,” terang Yuni.
Yuni juga mengungkapkan berbagai penelitian terkait serangga yang digunakan untuk pakan ayam. Diantaranya menurut Khusro, et al. (2012), pemberian serangga dalam pakan dapat meningkatkan survival and growth rate. Menurut Altmann, et al. (2020), dengan menggunakan serangga dalam pakan, pada daging broiler kandungan asam lemak jenuhnya meningkat sehingga baik untuk kesehatan. Dan menurut The Guardian 2020, protein serangga dapat menggantikan 25%-100% soybean meal dalam ransum ayam.