Oleh : Abdan Syakuro*
Dunia perunggasan tidak melulu tentang ayam pedaging atau petelur, bukan juga selalu mengenai ayam lokal maupun ras. Pasalnya ayam tidak hanya menjadi sebuah pangan pokok utama, khususnya bagi mereka yang memiliki hobi dalam memelihara dan mengoleksi ayam hias. Seyogyanya orang dalam mengoleksi barang antik, selain dengan harganya yang begitu fantastis, mereka para pemelihara ayam hias juga menyukai pola pemeliharaannya yang tidak mudah dan menantang, sehingga mereka merasa tergugah untuk terus mengembangkan peliharaan ayam hias ini. Seperti halnya bagi mereka yang menyukai ayam cemani, ayam pelung, ayam brahma, ayam poland dan masih banyak lainnya.

Ayam hias memang selalu memikat mata. Memiliki ragam keunikan menjadikan ayam hias disebut hewan yang eksotis. Maka tak heran jika eksistensinya sering dijumpai hingga saat ini.

Ayam cemani, ayam yang memiliki ciri khas warna hitam mulai dari bagian jengger hingga organ dalamnya. Di samping ras ayam ini yang menjadikannya mahal, ada faktor mistis yang melekat, di mana para masyarakat percaya bahwa ayam ini secara turun temurun dijadikan media ritual suatu kepercayaan tertentu. Ayam cemani atau biasa disebut ayam kedu ini adalah ras lokal yang telah dikembangkan di Pulau Jawa semenjak abad ke-12. Hitam legamnya ayam ini disebabkan oleh adanya hiperpigmentasi.
Ayam cemani termasuk ayam yang langka karena sudah jarang sekali masyarakat yang memelihara. Pada pasarnya  pada tahun 2022, ayam cemani ini masih dihargai kisaran 1 juta untuk pejantan yang berumur 6 bulan, sedangkan betinanya tidak jauh dari harga tersebut, kemudian telurnya per satu butir dihargai 30-50 ribu.  Ayam cemani juga mulai dikembangkan di berbagai dunia dengan nama yang berbeda-beda di tiap negara.
Selanjutnya ayam pelung atau biasa disebut juga gallus domesticus, adalah ras ayam yang dikenal akan suaranya yang indah, di mana di setiap tahunnya selalu diadakan kompetisi suara ayam pelung termerdu dan terpanjang. Ayam ini berasal dari Cianjur, Jawa Barat, ras ayam lokal asli indonesia yang berhasil menunjukkan ciri khasnya pada dunia. Secara fisik ayam pelung memiliki postur lebih tinggi, jauh lebih besar daripada ayam kampung lainnya dengan penampilan yang tenang dan anggun, pada cuping telinganya merah dihiasi warna putih di bagian tengah. Dilansir dari www.harga.web.id ayam pelung pelung ini masih berada di kisaran harga 700 Ribu dan 1 Jutaan Untuk yang sudah siap mengikuti kontes dengan telurnya yang berada di harga 35 Ribu.
Ada juga ayam brahma yang terkenal tinggi besar dengan daging yang melimpah. Nenek moyang ayam ini berasal dari Sungai Brahma, India. Ayam brahma betina rata-rata memiliki bobot 4 kg, sedangkan pada jantan berada di kisaran 7-8 kilogram. Para kolektor memelihara ras ayam ini karena bulunya yang khas menutupi hingga kaki dan ukuran badan yang besar sehingga seringkali dijadikan ayam pedaging. Satu ekor ayam brahma dihargai pada kisaran 600 ribu hingga 2,5 juta sesuai umur, ciri bulu dan bobot badannya.
Tak kalah unik, ada ayam poland yang sering kita kenal dengan nama ayam bulu jambul Eropa. Memiliki ciri khas yang mencolok, di mana ras ini ada jambul pada kepala yang bisa ditata rapi dengan berbagai bentuk. Ras ayam ini berasal dari Belanda yang dikembangkan di Polandia pada awal abad ke-16. Berbeda dengan ayam hias lainnya, ayam poland ini banyak sekali yang menggemari karena keunikan dan keeksotisan jambulnya. Hingga pada 2019, harga ayam poland sempat menurun karena ketidakseimbanan antara supply dan demand. Pada harga pasarnya, ayam poland 3 warna dibanderol dengan harga 650 ribu di tahun 2020-2021.
Ras ayam-ayam hias ini tentunya pada tahun 2022 ini masih sangat berpotensi mendatangkan penghasilan yang melimpah dan menjanjikan karena melihat dari para anak muda yang mulai banyak menggemari hobi memelihara ayam eksotis. Selain itu, tentu masih banyak jenis ayam hias yang bisa menjadi alternatif untuk dipelihara. Sangat tepat juga bagi kalian yang ingin memelihara ternak dengan pola yang tidak biasa dan menyukai tantangan. *Mahasiswa Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Tidar
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Suara Mahasiswa pada Majalah Poultry Indonesia edisi September 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, sila mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153