Oleh : Dr. Muhsin Al Anas, S.Pt*
Produktivitas ternak bukan hanya dipengaruhi oleh faktor genetik saja, tetapi pakan juga menjadi penentu utama pertumbuhan unggas. Formulasi pakan yang ideal atau seimbang akan selalu dituntut untuk mendukung efisiensi budi daya unggas. Oleh sebab itu, pakan terus menjadi perhatian peternak maupun nutritionist. Pakan yang diberikan harus mempertimbangkan antara kualitas atau kecukupan nutrient dengan harga pakan. Harga pakan diusahakan semurah mungkin dengan kualitas yang sebanding. Urgensi dari penekanan biaya pakan seefisien mungkin ini dikarenakan biaya pakan menghabiskan sekitar 60-70% dari total biaya produksi.

Sampah organik yang tersedia di Indonesia mencapai 47,6 juta ton yang berpotensi menghasilkan maggot sebanyak 19,04 juta ton. Apabila dalam setiap ton maggot mampu menghasilkan tepung maggot sebanyak 300 kilogram, artinya terdapat potensi menghasilkan tepung maggot sebanyak 5,71 juta ton.

Protein merupakan komponen penting dalam pakan. Proporsi penggunaan bahan pakan sumber protein mencapai 20-35% dari total formulasi. Di Indonesia, penyediaan bahan pakan sumber protein sangat tergantung oleh impor. Bahkan, Indonesia merupakan salah satu importir bahan pakan sumber protein terbesar di kawasan ASEAN. Berdasarkan data Rabobank tahun 2020, Indonesia mengimpor sebanyak 4,2 juta ton bungkil kedelai.
Upaya untuk menghasilkan bahan pakan sumber protein dalam negeri, terutama bungkil kedelai dirasa sangat sulit. Jangankan bungkilnya, kedelai yang menjadi bahan baku pembuatan tempe dan tahu masih saja mengandalkan impor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor kedelai Indonesia pada tahun 2019 mencapai 2,67 juta ton. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai konsumen kedelai terbesar di dunia setelah China. Prof. Budi Tangendajaja mengatakan bahwa dibutuhkan 3 juta hektare lahan untuk menaman kedelai sehingga dapat digunakan untuk memenuhi permintaan bungkil kedelai sebagai bahan pakan ternak. Pekerjaan yang sangat berat. Belum lagi, adanya persaingan kedelai sebagai bahan pangan umum di Indonesia yang jelas akan diprioritaskan untuk pangan, bukan pakan.
Beberapa bulan ini, harga bahan pakan mengalami kenaikan cukup signifikan, terutama bahan akan sumber protein. Bungkil kedelai dan tepung ikan merupakan bahan pakan sumber protein yang banyak digunakan dalam industri perunggasan. Gangguan cuaca El Nina di Amerika Latin dan adanya gerakan mogok kerja di sektor distribusi Argentina yang merupakan pemasok bungkil kedelai ke Indonesia, menjadi penyebab naiknya harga bahan pakan tersebut. Hal ini diperparah dengan permintaan bungkil kedelai China yang mengalami peningkatan akibat peternakan babi yang menggeliat kembali setelah pandemi.
Serangga (BSF) sebagai alternatif
Maggot merupakan larva dari Hermetia illucens atau sering disebut black soldier fly (BSF). Jenis larva dari serangga ini dapat menjadi alternatif (substitusi) bahan pakan sumber protein. Maggot merupakan salah satu sumber protein hewani tinggi karena mengandung kisaran protein 30-45% dengan asam amino yang cukup lengkap (Tabel 1).
Maggot mampu mencerna sekaligus mengurangi massa limbah organik sebanyak 35-45% dalam waktu yang relatif singkat. Siklus hidup lalat black soldier atau lalat tentara berlangsung selama 40-43 hari. Siklus hidup maggot dimulai dari lalat dewasa, telur, larva, prepupa dan pupa. Fase metamorfosis maggot terdiri dari fase telur selama 3 hari, larva atau maggot 18 hari, prepupa 14 hari, pupa 3 hari dan lalat dewasa 3 hari. Lalat betina mampu menghasilkan 500-900 telur dan akan mati setelah kawin. Lalat BSF memiliki keuntungan yaitu siklus pertumbuhannya yang cepat, ketersediannya melimpah, produksinya dapat memanfaatkan sampah, mengandung antinutrisi, mengandung antijamur dan tidak bersaing dengan manusia dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Baca Juga: Tantangan Penggunaan Maggot di Industri Pakan Ikan dan Unggas
Penelitian yang dilakukan Rambet et al. tahun 2016 menyatakan bahwa penggunaan maggot dalam bentuk segar sebenarnya telah banyak dilakukan peternak, tetapi terdapat dampak negatif yang muncul. Modifikasi maggot dalam bentuk tepung perlu dilakukan untuk mencegah dampak negatif pemberian maggot dalam bentuk segar. Pemberian maggot dalam bentuk tepung pada ternak tidak menimbulkan efek samping bagi ternak. Tepung maggot berpotensi sebagai pengganti tepung ikan hingga 100% untuk campuran pakan ayam pedaging tanpa adanya efek negatif terhadap kecernaan bahan kering (57,96-60,42%), energi (62,03-64,77%) dan protein (64,59-75,32%), walaupun hasil yang terbaik diperoleh dari penggantian tepung ikan hingga 25% atau 11,25% dalam pakan. Selain kandungan nutrien yang tinggi, penelitian Indarmawan (2014) menunjukkan bahwa maggot juga mengandung antimikroba dan anti jamur, sehingga meningkatkan daya tahan tubuh ternak terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteria dan jamur.
Laporan penelitian Sandy et al. (2016) menunjukkan bahwa penggantian sebagian atau keseluruhan tepung ikan dengan tepung maggot sangat memungkinkan, walaupun tingkat inklusinya di dalam ransum yang optimum umumnya lebih rendah dari 10%. Sedangkan pada ayam petelur, berdasarkan penelitian Maurer et al. (2016) menunjukkan penggunaan maggot sebagai sumber protein sebanyak 12 dan 24 gram/100 gram pakan menggantikan 50% dan 100% bungkil kedelai tidak menunjukkan perbedaan performa produksi dan kualitas telur yang dihasilkan. Berdasarkan hasil meta-analisis penambahan maggot dalam pakan tidak berdampak terhadap pertambahan bobot badan harian (PBBH) dan konversi pakan, meskipun secara signifikan menurunkan konsumsi pakan (Tabel 2).
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2021 ini dilanjutkan pada judul “Tantangan Mass Production Maggot”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153