Di tengah situasi ketergantungan perunggasan Indonesia terhadap bahan pakan impor, inovasi dalam pemanfaatan bahan lokal menjadi kunci menuju kemandirian pakan nasional.
Biaya produksi dalam usaha budi daya unggas di Indonesia didominasi oleh komponen pakan, yang mencapai 60–70% dari total biaya produksi. Angka ini adalah cerminan betapa krusialnya sektor pakan dalam usaha budi daya unggas. Ketika harga bahan pakan berfluktuasi, peternak pun ikut terguncang. Ketergantungan besar terhadap bahan impor membuat biaya produksi sangat rentan terhadap gejolak harga global dan nilai tukar rupiah.
Fluktuasi harga bahan pakan dan biaya logistik internasional yang terus meningkat menjadi momok tersendiri. Setiap kali harga global naik, beban biaya pakan otomatis ikut melonjak, menekan margin keuntungan peternak dalam negeri, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Ketergantungan ini jelas mengancam stabilitas harga pakan dan menurunkan daya saing industri perunggasan nasional.
Padahal, jika menoleh ke dalam negeri, Indonesia sesungguhnya memiliki potensi sumber daya lokal yang luar biasa besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan alternatif. Hamparan sawah, perkebunan, hingga limbah pertanian dan agroindustri menyimpan “harta karun nutrisi” yang belum diolah secara optimal. Sayangnya, sebagian besar biomassa tersebut masih dianggap limbah dan seringkali hanya dibuang, dikomposkan seadanya, atau bahkan dibakar di lahan yang menimbulkan pencemaran udara sekaligus menyia-nyiakan nilai ekonominya.
Padahal, dengan pengolahan yang tepat, berbagai bahan lokal ini bisa menjadi sumber energi, protein, dan serat tambahan dalam formulasi pakan unggas. Dari sisi nutrisi, banyak bahan pakan lokal yang sebenarnya tidak kalah bernutrisi dibanding bahan impor. Dedak padi, misalnya, mengandung 12–14% protein kasar dengan kadar lemak cukup tinggi (8–23%), sehingga dapat menjadi sumber energi dalam ransum unggas jika distabilisasi dengan baik agar tidak cepat tengik. Selain dedak, ada juga jagung lokal, bungkil kelapa, onggok, ampas tahu, dan ampas singkong yang banyak tersedia di berbagai daerah.










