Oleh  Dr. Jojo, S.Pt, MM*
Indonesia sebagai negara kaya keaneka ragaman hayati tentunya berpotensi memiliki bahan pakan alternatif / substitusi berkualitas. Sayangnya, sebagai negara agraris dan tanah subur, pertanian Indonesia hingga kini belum mampu memenuhi permintaan bahan pakan. Selama ini sebagian  bahan pakan kita masih mengandalkan impor. Resikonya, jika masih bergantung pada bahan pakan impor, maka harga pakan dalam negeri akan tergantung pada harga bahan komoditas dunia yang rawan fluktuasi dan melambung terus harganya.
Baca juga : Restrukturisasi Perunggasan
Tiap tahun belakangan ini setidaknya Indonesia mengimpor bahan pakan senilai Rp.40 Triliun. Terdiri dari bungkil, tepung, ampas kedelai, tepung ikan, tepung daging, tepung jagung. Gandum juga impor sebagian untuk bahan pakan, berfungsi sebagai substitusi bila jagung langka.
Apabila keadaan seperti ini tidak segera dibenahi, kemungkinan   membuat  posisi Indonesia kian rentan. Berpotensi rawan didikte asing. Artinya, bila terjadi permasalahan produksi di negera asal, maka hukum ekonomi berlaku: kelangkaan terjadi, barang susah, harga meningkat. Dampaknya, biaya produksi pun terkerek naik. Daya saing kian rendah.
Lemahnya daya saing unggas di Indonesia antara lain faktor tinggi biaya bahan pakan. Bahan pakan pokok, terutama sumber energi (jagung) dan sumber protein (kedelai).  Untuk menghasilkan 1 kg jagung dan kedelai di Indonesia, petani harus mengeluarkan biaya setara dua kali lipat biaya produksi di Brasil, AS dan Filipina,  yang notabene sudah menggunakan varietas GMO. Geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan, dimana sentra produksi kadang berjauhan dengan pusat konsumsi (pabrik pakan). Hal ini membuat biaya angkut jadi boros. Imbasnya, biaya produksi juga ikut meningkat.
Salah satu cara strategis untuk menurunkan biaya pakan yakni dengan pemanfaatan sumberdaya lokal. Satu diantaranya dengan optimasi memanfaatkan hasil sampingan industri sawit. Selama ini sawit masih merupakan agro industri terbesar di Indonesia, sehingga diharapkan ketersedian nya selalu terjaga sepanjang tahun.
Proses pengolahan buah sawit menjadi menjadi minyak, terdapat hasil sampingan yakni bungkil inti sawit (Palm kernelexpeller dan palm kernel meal). Secara teknis, bungkil inti sawit ini diharapkan mampu mensubstitusi bungkil kedelai. Bahan pakan ini berpotensi memiliki kandungan nutrisi  lebih baik dari jagung. Bungkil inti sawit memiliki energi metabolis sebesar  6.400 kkal/kg. Setara dua kali lipat energi  jagung ( 3.430 kkal/kg). Kandungan protein kasar, lemak dan serat bungkil inti sawit juga diatas jagung. Inti sawit juga diharapkan bisa mensubstitusi tepung ikan pada pakan unggas.
Mencermati keunggulan tersebut, sudah saatnya bungkil dan inti sawit bisa dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan akan bahan pakan impor. Dengan kandungan nutrisi yang tak kalah baiknya dibanding bungkil kedelai dan jagung didukung  biaya yang relatip lebih murah seyogyanya menjadikan  bahan ini jadi alternatif  imbuhan pakan yang menjanjikan.
Bahan pakan lokal potensial selanjutnya sebagai sumber protein adalah kacang koro pedang  (Canavalia ensiformis) dan magot (Hermetia illucens). Bahan pakan yang kaya kandungan protein ini,  bisa jadi alternatif ditengah semakin melambungnya harga kedelai dunia. Kelebihan Kacang koro pedang berpotensi sebagai sumber protein, serta memiliki keseimbangan asam amino, bioavailabilitas tinggi dan rendah anti tripsin.
Adapun maggot merupakan penghasil protein hewani tinggi (41%- 42 %), Perbandingan kandungan protein kasar kacang koro sebesar 31,4 %, protein kasar magot 42,2 %, sedangkan protein kasar kedelai 36,6 %.
Ahli nutrisi pakan menyebut kedua bahan pakan tersebut dilihat dari segi kandungan nutrisi memenuhi syarat sebagai bahan pakan andalan Indonesia. Tantangan penggunaan bahan baku lokal secara umum adalah : kualitas tak stabil, skala produksi masih kecil, harga relatif mahal sehingga kurang kompetitif serta keberlanjutan ketersediaan dan kontinyuitas suplai nya masih perlu pembuktian.
Ketersediaan bahan pakan ke depan diprediksi semakin sulit karena kebutuhan manusia (food), ternak (feed) dan energi (fuel) semakin meningkat. Oleh karena itu pemangku kebijakan dan pemangku kepentingan perlu bersinergi guna mencapai tujuan bersama: mandiri bahan pakan. Kebijakan antar kementrian / lembaga seyogyanya saling mendukung satu sama lain, bukan  sebaliknya.   
Upaya penyediaan bahan pakan lokal wajib ditopang konsistensi kebijakan dalam perbaikan infrastruktur, perluasan lahan, perbaikan data, sistem informasi  harga, pasar dan teknologi. Kesejahteraan petani / peternak jangan terpinggirkan. Tanpa mengangkat harkat martabat petani, upaya perbaikan pangan dan bahan pakan dan peningkatan daya saing hanya mimpi belaka.  Semua akan hampa tanpa makna, bila nihil terobosan kebijakan yang serius pro petani / peternak lokal sebagai penyedia pangan dan bahan pakan. *Pemerhati Perunggasan, Staf Pengajar STIESA Subang
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2022 dengan judul “Pakan Lokal Dorong Daya Saing Unggas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153