Salah satu faktor penentu keberhasilan produksi ternak unggas adalah ketersediaan bahan pakan dalam jumlah dan kualitas yang mencukupi kebutuhan ternak. Hal tersebut untuk mendapatkan biaya yang paling murah dalam menghasilkan produk ternak unggas yaitu daging dan telur, yang mana bahan pakan ternak ini umumnya dihasilkan dari sektor pertanian. Untuk memenuhi kebutuhan bahan pakan dalam pembuatan formulasi pakan ternak, maka diperlukan bahan baku pakan yang diperoleh baik dari produksi dalam negeri maupun dari impor.
Komposisi bahan pakan di industri pakan
Berdasarkan data Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2020), formulasi pakan broiler adalah 64% menggunakan bahan pakan lokal dan 36% masih menggunakan bahan pakan impor. Adapun untuk layer, 70,5% menggunakan bahan pakan lokal dan 29,5% menggunakan bahan pakan impor. Walau Indonesia masih menggunakan bahan pakan impor, hingga saat ini, pemanfaatan bahan pakan lokal untuk industri pakan di Indonesia merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

Potensi bahan pakan lokal sudah dibicarakan beberapa tahun belakangan, namun hingga saat ini, Indonesia masih belum mampu mengoptimalkan bahan pakan sumber protein secara mandiri

Bahan pakan lokal yang digunakan oleh industri pakan di Indonesia antara lain adalah jagung, crude palm oil (CPO), dedak padi, bungkil inti sawit, dan bahan pakan lokal lainnya yang memenuhi kebutuhan vitamin serta mineral. Adapun untuk bahan pakan impor adalah, soybean meal (SBM), meat bone meal (MBM), distillers dried grains with solubles (DDGS), corn gluten meal (CGM), dan hydrolized chicken feather meal (HCFM). Bahan-bahan pakan impor tersebut diperoleh dari sebagian negara Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Eropa.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) drh. Desianto Budi Utomo, PhD., kala diskusi bersama tim Poultry Indonesia pada, Senin (3/1) melalui aplikasi Zoom, mengatakan bahwa secara komposisi bahan pakan lokal lebih banyak ketimbang bahan pakan impor, tetapi secara biaya, bahan pakan impor penyumbang biaya lebih besar dibanding dengan bahan pakan lokal.
“Walaupun bahan pakan impor hanya memenuhi 30-35% dari total formulasi pakan, tetapi biaya yang disumbangkan oleh bahan pakan impor adalah 50-60%. Sedangkan untuk lokal, walaupun secara volume menyumbang 65-75% dari total formulasi pakan, tetapi secara biaya itu hanya sekitar 40-50%,” kata Desianto.
Berdasarkan data GPMT, pada tahun 2021, industri pakan Indonesia memproduksi pakan ternak sebanyak 19,6 juta ton. Dari 19,6 juta ton tersebut,17,6 juta ton merupakan produksi untuk pakan unggas yang memiliki persentase sebesar 90% dari total pakan ternak lainnya. Jika diasumsikan bahwa biaya bahan pakan per kilogram seharga Rp6.000,00 maka biaya atau nilai dari industri pakan untuk produksi bahan pakan ternak unggas ialah sebesar 105,6 triliun rupiah per tahun 2021. Apabila biaya bahan pakan impor menyumbang sebesar 50% dari total biaya formulasi pakan, berarti dalam kata lain, nilai bahan pakan impor sebesar 52,8 triliun rupiah.
Lebih lanjut, Desianto mengisyaratkan bahwa formulasi pakan seharusnya mengacu pada nutrisi yang terkandung pada bahan baku tersebut, bukan jenis bahan bakunya. Hal itu dikarenakan, tidak semua bahan pakan memiliki ketersediaan yang berkelanjutan sehingga ketersediaan tersebut membuat harga menjadi fluktuatif.
“Apabila sebuah bahan pakan kualitasnya tidak stabil, maka nutritionist akan menggantikan formulanya. Kemudian stable quality diikuti dengan continue supply. Nah terakhir, pertimbangan bahan baku lokal adalah competitive price. Kalau kualitasnya sudah stabil dan continue supply-nya juga sudah terjamin, namun harga tidak sesuai, maka pelaku usaha juga tidak akan tertarik. Apabila tidak terdapat bahan pakan impor, maka bahan pakan lokal pun jadi, begitupun sebaliknya. Intinya formulasi pakan itu berbasis pada nutrisi dari pakan tersebut, bukan jenis bahan bakunya,” lanjut Desianto.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2022 dengan judul Rekam Jejak Perunggasan tahun 2021”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153