POULRYINDONESIA, Bogor – Salmonellosis merupakan penyakit bakterial yang disebabkan oleh genus salmonella. Bakteri ini bersifat zoonosis yang tidak hanya menginfeksi hewan tetapi juga manusia. Pada usaha peternakan, terkhusus perunggasan, pengendalian serangan penyakit ini menjadi suatu hal yang sangat krusial. Mengingat, penyakit ini tidak hanya mengganggu produksi unggas, namun juga berbahaya bagi masyarakat yang mengonsumsinya. Di sisi lain, industri perunggasan Indonesia telah mulai melakukan ekspansi pasar ke luar negeri atau ekspor, sehingga langkah pengendalian salmonella ini menjadi sebuah keharusan.
Dalam acara Poultry Immunology Class Salmonellosis 2023 yang diadakan oleh Hipra Indonesia, di Bogor, Rabu (6/12), dibahas secara mendalam berbagai hal terkait salmonellosis dengan menghadirkan para pakar di bidangnya. Subsidiary Business Manager Hipra Indonesia, drh. Franky Sihotang menyampaikan bahwa acara ini merupakan seri yang pertama dari Hipra Indonesia. Dan ke depannya diharapkan acara ini dapat berjalan secara berkelanjutan di setiap tahun.
“Saya berharap acara ini bisa menjadi gambaran bagaimana perkembangan salmonella baik di Indonesia maupun di dunia. Pasalnya persoalan ini menjadi isu hangat yang tengah menjadi pembahasan, dimana tidak hanya berkaitan dengan kita di perunggasan, namun juga berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Semoga kita bisa update ilmu dan pelajaran yang berharga,” harap Franky dalam sambutannya.
Pada sambutan berikutnya, Dr. Douglas Tsai, selaku Regional Manager Hipra Asia & Oceania menyampaikan bahwa Hipra selalu berfokus kepada upaya pencegahan penyakit dan menjaga kesehatan untuk hewan dan manusia, dengan berbagai macam vaksin yang inovatif dan layanan diagnostik canggih. Salah satunya bagaimana fokus terhadap pengendalian salmonella ini.
 Sementara itu, Ketua Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI), drh. Dalmi Triyono banyak menjelaskan terkait kondisi terkini dari peternak unggas terhadap tantangan dari salmonella. Menurutnya permasalahan terkait salmonella ini dibagi menjadi 2 hal, yakni infeksi salmonella sebagai gangguan kesehatan unggas dari aspek penularannya, serta infeksi salmonella sebagai gangguan kesehatan unggas dari aspek zoonosis. Terkait persoalan salmonella sebagai gangguan kesehatan unggas, Dalmi menjelaskan bahwa perlu adanya kontrol penularan yang banyak terjadi secara vertical transmission dimana terdapat Salmonella Pullorum dan Salmonella Gallinarum. Hal ini tentunya akan menghasilkan DOC PS & FS yang free Salmonella pullorum.
“Saat ini pemerintah melakukan kontrol salmonella melakukan kontrol dengan metode antibody capture, kepada GP dan PS farm usia grower dan breeder yang standarnya masih banyak dipertanyakan. Kontrol ini akan bersertifikat dari Dinas Provinsi dan dilaksanakan laboratorium berwenang seperti B-Vet atau laboratorium type B. Yang kedua persoalan salmonella yang sifatnya zoonosis yang saat ini menjadi isu cukup menarik, apalagi beberapa perusahaan telah mencoba mengekspor produknya. Sehingga hal ini menjadi motivasi bagi perusahaan, terlebih dengan proses ekspor ini terdapat insentif tersendiri dari pemerintah,” tambahnya.
Masih dalam acara yang sama, Prof. Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS, Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB University membawakan materi terkait vaksinasi salmonella, meningkatkan produktivitas, mengurangi cemaran dan peningkatan daya hidup. Menurutnya vaksinasi salmonella dapat menginduksi IgY anti salmonella yang berfungsi sebagai anti adhesi, memudahkan clearance salmonella dan mengurangi kontaminasi lingkungan farm. Untuk itu, vaksinasi salmonella memiliki peran penting dalam penyediaan bahan pangan asal unggas yang bebas salmonella.
“Vaksinasi dan biosekuriti menekan terjadinya shedding agen penyakit ke lingkungan. Hal ini sangat berguna untuk mengurangi sumber penularan agen dan mengurangi atau bahkan meniadakan kontaminan salmonella pada produk pangan asal unggas. Sangat  bermakna dalam menopang kesehatan masyarakat”.
Turut hadir dan memberikan materi dalam acara ini, para pakar lain seperti Dr Santiago de Castro Verges, DVM, Global Product Manager Hipra, Dr. Ong Shyong Wey Regional Technical and Marketing Manager Hipra, Asia & Oceania, drh. Syafrison Idris, M.SI, perwakilan Direktorat Kesehatan Hewan, Dirjen PKH serta drh. Aditya Fuad Risqianto selaku Technical Services Manager, HIPRA Indonesia.