POULTRYINDONESIA, Jakarta – Semangat dan jiwa kewirausahaan bukan semata-mata dalam hal penciptaan usaha mandiri, namun lebih luas lagi bisa dimiliki pula oleh seorang karyawan di sebuah perusahaan, pegawai pemerintahan sampai dalam instansi perguruan tinggi. 
Dalam Poultry Preneur Academy seri 2 ini menghadirkan tiga narasumber para petinggi perusahaan perunggasan. Ketiganya yakni (Cand). Ir. Audy Joinaldy, S.Pt., M.Sc, MM, IPM, ASEAN.Eng  (Wakil Gubernur Sumatra Barat/Komisaris Utama Perkasa Group), Desianto Budi Utomo, Ph.D (Vice President PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk) dan Ali Mas’adi, S.Pt., MM (Chief Executive Officer (CEO) PT Widodo Makmur Unggas Tbk).
Menurut Dr (Cand). Ir. Audy Joinaldy, S.Pt., M.Sc, MM, IPM, ASEAN.Eng selaku Wakil Gubernur Sumatra Barat mengatakan bahwa Indonesia saat ini yang merupakan negara dengan penduduk terbesar di Asia Tenggara, akan tetapi memiliki jumlah pengusaha terkecil yaitu 0,7%-1,5% dari jumlah penduduk yang ada, sedangkan Thailand berjumlah 3%, Malaysia 5%, Singapura 7%, dan China 14%.
“Minimal kita butuh 2% jumlah wirausaha untuk mendukung perekonomian nasional yang kuat. Setelah dilihat kenapa Indonesia tidak banyak yang berwirausaha, di antaranya karena sistem pendidikan tidak mendukung pemuda menjadi wirausaha,” ujar pria yang juga merupakan Komisaris Perkasa Group ini.
Menurutnya, selain wirausahawan Indonesia kebanyakan ingin sukses secara instan, mereka juga kerap terlalu ambisius dan minim sekali inovasi. 
Oleh sebab itu, Audy berpesan bahwa untuk menjadi seorang wirausaha itu yang paling utama harus memiliki attitude yang baik, yang diimbangi dengan kedisiplinan, komitmen yang tinggi, kejujuran, kreativitas, inovasi, kemandirian dan juga harus realistis.
Baca Juga: Sandi Pranata Pengusaha Muda Millenial
Senada dengan Audy, Desianto Budi Utomo, Ph.D selaku Vice President PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk mangatakan bahwa dunia penuh dengan perubahan yang semakin lama semakin cepat, termasuk industri perunggasan yang menjadi sumber protein hewani yang dominan saat ini. 
Oleh karenanya, dengan keadaan seperti itu maka semua stakeholder tentu akan dihadapkan dengan berbagai tantangan atas perubahan tersebut. 
Menurutnya, perubahan yang semakin cepat tersebut sebagian merupakan dampak dari perkembangan teknologi sehingga menuntut seseorang untuk senantiasa unggul dalam persaingan serta memiliki SDM yang berjiwa kewirausahaan. 
Hal itu beralasan, karena SDM yang berjiwa kewirausahaan lebih mampu untuk beradaptasi terhadap berbagai perubahan dan mampu unggul dalam persaingan baik lokal maupun secara global. 
“Kita semua yang bergelut di industri ini tentu harus bersiap, harus beradaptasi, sebut saja penggunaan closed house dalam budi daya, belum lagi perkembangan rantai dingin (cold chain) dan juga disrupsi teknologi 4.0 yang menggunakan Internet of Things (IoT) dalam berbagai aktivitas,” tutur Desianto dalam Poultry Preneur Academy (PPA) Seri 2, Rabu (31/3).
Sementara itu, narasumber lainnya yakni Ali Mas’adi, S.Pt., MM yang merupakan Chief Executive Officer (CEO) PT Widodo Makmur Unggas Tbk berujar bahwa SDM memang menjadi kunci karena merupakan bagian terpenting dari suatu perusahaan atau instansi untuk bisa membangun daya saing dengan situasi dan keadaan apapun. 
Dalam penangananya, SDM harus ditangani secara menyeluruh, serta dalam kerangka sistem pengelolaan yang bersifat strategis, terintegrasi dan berkesinambungan. SDM merupakan aset yang bernilai dan dapat dikembangkan. 
“Dengan munculnya SDM yang unggul tentu kita akan bisa menyediakan kebutuhan protein hewani yang berkualitas dengan harga terjangkau, adanya peningkatan kesejahteraan peternak, dan juga adanya peningkatan ekspor produk yang berdaya saing tinggi,” ujar Ali.