Anak ayam berada pada kandang semi closed house
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Bisnis perunggasan merupakan salah satu sektor bisnis yang menjanjikan, bahkan untuk generasi muda.
Dewasa ini, banyak pemuda yang memilih peternakan unggas meliputi broiler, layer, ayam lokal, puyuh, dan lainnya sebagai ladang mata pencaharian dan mencari pengalaman pasca menimba ilmu di perguruan tinggi.
Oleh karena itu, Poultry Preneur Academy (PPA) kembali menggelar sebuah webinar dengan tema ‘Tata Kelola Budi Daya Unggas Berbasis Kewirausahaan’ melalui aplikasi Zoom, Rabu (28/3).
Narasumber webinar yakni Ibnu Faris yang merupakan Pimpinan Berkah Grup, mengatakan bahwa dalam beternak memang harus dilandasi dengan semangat wirausaha. Menurutyna dengan menjalankan usaha ternak unggas dengan semangat wirausaha, maka efisiensi akan datang dengan sendirinya.
“Semangat wirausaha itu bisa meningkatkan efisiensi, jadi ketika beternak dan berbudi daya itu hanya memelihara, mindset tersebut harus diubah menjadi jiwa wirausaha supaya kita semua itu bisa menjadi wirausahawan, bukan hanya beternak saja,” jelas Ibnu.
Baca Juga: Poultry Preneur Academy Hadirkan Narasumber dari Kalangan Petinggi Perusahaa Perunggasan
Selanjutnya menurut Yuny Erwanto selaku peternak ayam lokal berpendapat bahwa setiap orang yang ingin terjun ke budi daya ayam baik itu ras maupun lokal harus memiliki jiwa dan mental yang kuat.
Belajar wirausaha di bidang unggas itu menurutnya betul-betul ditantang untuk tahan banting, ketika usaha itu untung, maka keuntungan yang didapat akan sangat tinggi. Hal tersebut juga berlaku sebaliknya, ketika merugi maka kerugiannya akan sangat tinggi.
“Seperti contoh saat sekarang ini tidak bisa mengeluh dengan keadaan seperti harga pakan yang tinggi, harus bisa melakukan perubahan supaya kegiatan beternak bisa terus berjalan,” ujarnya.
Lebih lanjut menurut Itmamul Khuluq selaku Pimpinan Holstein Indonesia yang bergerak di komoditas puyuh petelur dan pedaging bercerita saat dirinya berkeliling mencari telur puyuh ke peternakan sekitar, ternyata banyak sekali telur puyuh yang sudah busuk.
Oleh karena itu ia berinisiatif untuk membantu para peternak puyuh dengan melakukan merubah pola marketing dari para peternak yang pada akhirnya berhasil membantu para peternak.
“Ketika saya tanyakan ke peternak, ternyata telur tersebut telur yang tidak diambil oleh pengepul karena permintaan yang menurun. Bermula dari hal tersebut kami mencoba untuk membantu mereka dalam hal pemasaran. Kalau awal mula itu peternak menjual dengan kemasan satu dus isi 750 butir, maka akhirnya saya coba dengan berapapun jumlah yang diinginkan dari pembeli kami layani,” jelas Khuluq.