POULTRYINDONESIA, Solo – Tingginya harga jagung membuat kondisi peternak layer semakin terhimpit. Kenaikan harga yang tidak wajar membuat biaya produksi semakin besar, dan tidak sebanding dengan harga jual telur di peternak. Pasalnya, peternak juga terus dipojokkan oleh masyarakat, atas tingginya harga telur di pasaran. Padahal, apabila dilihat lebih dalam, kenaikkan harga telur tidak akan terjadi secara mendadak dan tanpa sebab. Hal tersebut, disampaikan oleh Yudianto Yosgiarso selaku Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN) dalam sebuah pertemuan peternak layer, di Solo, Selasa (7/11).
Menurutnya, banyak faktor yang membentuk harga telur di peternak, mulai dari kondisi supply demand pasar, hingga bagaimana kondisi industri di bagian hulunya. “Kita juga harus melihat komponen seperti berapa jumlah impor indukannya, berapa harga DOC FS nya, berapa harga pakan ayam, termasuk harga jagung dan bekatul, serta harga obat-obatan dan vaksin. Akumulasi dari semua faktor tersebut yang menjadi penentu batas bawah harga telur yang harus diperjuangkan bersama dan dilindungi oleh pemerintah,” tegasnya.
Yudi melanjutkan, keadaan semakin memprihatinkan bagi peternak layer, karena terhitung dari awal tahun 2023 harga jagung terus merangkak naik yang menyebabkan semakin tingginya biaya produksi, padahal harga jual telur terus tertekan turun. Kondisi ini memaksa para peternak untuk berhitung dan harus mengambil langkah afkir ayam tua lebih cepat. Konsekuensi dari afkir dini yang dilakukan tanpa didasari data yang akurat, dapat menyebabkan kemungkinan defisit telur pada saat demand masyarakat mendadak meningkat, sehingga harga telur akan melambung dengan cepat.
“Jangan sampai harga jagung terus tinggi. Saat ini jagung masih di kisaran Rp7.000/kg dan kami masih harus tetap menjual telur dengan harga Rp22.000/kg agar harga ecerannya bisa Rp25.000/kg, apa ini yang dinamakan adil? Selain itu, peranan peternak layer segmen menengah ke atas ini hampir memegang 70% nasional, apabila misalnya subsidi hanya terjadi di umkm yang hanya sekitar 25%, apakah itu bisa menstabilkan harga nasional. Ini yang harus dipikirkan,” ungkap Yudi.
Namun demikian, menurutnya kini para peternak layer mulai bisa bernafas lega, karena kebutuhan atas jagung akan segera terpenuhi melalui bantuan impor jagung dari pemerintah. Dimana jagung akan dibagikan secara paralel mulai pertengahan November hingga akhir November 2023 Dengan adanya bantuan pakan jagung ini, diharapkan mampu menekan lonjakan harga telur di momen libur natal dan tahun baru.
“Kalau saya tidak salah jumlah jagung yang akan diterima sebesar 250 ribu ton, dimana sekitar 120 ribu itu di industri peternakan menengah dan yang 130 ribu itu untuk peternak umkm. Dan kemudian juga perlakuannya lain, perlu dicatat supaya ini tidak menjadi kecemburuan di peternak kecil. Tetapi kami juga rela mendapat perlakuan yang berbeda, yang umkm mungkin mendapatkan subsidi transportasi sementara kami hanya meminta harga yang wajar,” tambah Yudi. 
Selain itu, dirinya juga berharap pemerintah bisa bersikap lebih fair atas fenomena lonjakan harga telur. Dimana industri hulu yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan harga telur di sisi peternak ini juga harus dicermati dan ditata dengan baik.
“Kami, peternak juga mengharapkan masyarakat dapat memahami dengan baik situasi usaha peternakan layer saat ini. Sehingga jika terjadi kenaikan harga telur, tidak serta merta menuduh peternak yang membuat kenaikkan harga, tetapi menyadari bahwa peternak hanya berupaya melaksanakan dan berusaha mempertahankan usahanya. Karena persoalan harga sangat erat kaitannya dengan supply demand dan faktor harga-harga di industri hulunya,” tegasnya.