Perkiraan tantangan penyakit virus di tahun 2023 dapat dilakukan berdasarkan frekuensi kejadian – kejadian penyakit di tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dilakukan oleh tim kesehatan hewan PT Ceva Animal Health untuk membantu pelaku peternakan unggas di Indonesia dalam mempersiapkan program pencegahan penyakit baik dengan perbaikan biosekuriti dan atau program vaksinasi di farm. Data penyakit yang telah dikumpulkan tim lapangan setiap bulan selama 5 tahun terakhir diolah untuk melihat kemungkinan timbulnya serangan penyakit di tahun depan. Laporan penyakit dikumpulkan dari pusat-pusat peternakan ayam di 2 pulau besar Indonesia yaitu Sumatera dan Jawa. Diagnosa dilakukan dengan pemeriksaan gejala klinis dan postmortem, bila dibutuhkan, diagnosa dilanjutkan dengan uji serologi, histopatologi, PCR dan sequencing.
Berdasarkan persentase tingginya kejadian penyakit virus setiap bulan dalam 5 tahun terakhir, maka kemungkinan timbulnya penyakit virus unggas di tahun depan, berturut – turut 5 peringkat penyakit dengan kemungkinan tertinggi adalah Newcastle Disease (ND), Infectious Bronchitis (IB), Gumboro (IBD), Inclusion Body Hepatitis (IBH), dan Avian Influenza (AI).
NEWCASTLE DISEASE
Newcastle Disease adalah momok mengerikan industri perunggasan di Indonesia dalam separuh dasawarsa terakhir. Menyerang broiler dan layer dengan sangat cepat dan ganas. Pada ayam muda, kematian bisa meningkat sejak umur 14 hari dengan tingkat kematian mencapai 100%. Pada ayam produksi, ND menyebabkan penurunan produksi antara 5-40%. Dari tahun 2018 sampai 2020, ND selalu menempati peringkat pertama penyakit dengan laporan tertinggi. Namun, dalam 2 tahun terakhir, tren kasus ND menunjukkan penurunan meski masih menjadi penyakit paling menakutkan di industri perunggasan Indonesia. Penurunan laporan penyakit ini berkaitan erat dengan penggunaan Vectormune® ND pada farm-farm yang sebelumnya terserang ND. Sejak diperkenalkan di pasar dalam negeri di 2020, farm-farm yang menggunakan Vectormune® ND berhenti melaporkan serangan penyakit tersebut. Vectormune® ND berhasil menghentikan berulangnya kasus ND dan shedding virus ND lapangan yang gagal dilakukan oleh vaksin ND konvensional.
Di tahun 2023 yang akan datang, tantangan penyakit ND masih menjadi ancaman terbesar bagi industri ternak ayam Indonesia. Persentase rata-rata timbulnya penyakit ND setiap bulan adalah 19%. Persentase ini semakin tinggi di bulan-bulan pergantian musim, dimana kelembaban udara menjadi lebih tinggi dan suhu lebih ekstrim yang menyebabkan load virus sangat tinggi di farm. Kunci keberhasilan pencegahan serangan penyakit ND adalah melakukan evolusi program vaksinasi dari vaksinasi yang menggunakan ND live dan killed konvensional sebagai dasar proteksi ke program vaksinasi inovasi terbaik. Program ini dapat 1) melindungi ayam dari infeksi klinis dan subklinis ND, 2) tidak mempunyai reaksi pasca vaksin, 3) mampu menghindari “jebakan” MAB ND, 4) mampu menghentikan shedding virus ND, dengan proteksi sepanjang hidup ayam 5) dan terbukti efektif menghadapi semua tantangan virus ND, yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan program biosekuriti yang baik dan benar serta berkesinambungan. Dengan perbaikan yang menyeluruh ini, ancaman penyakit ND dapat dicegah dan peternak lebih mudah mencapai target produksinya.
INFECTIOUS BRONCHITIS
Dalam 5 tahun terakhir, jumlah laporan kasus IB meningkat tajam. Menyerang ayam broiler dan layer dengan penularan yang sangat cepat dan massive melalui udara. Angka serangan kasus IB bisa lebih mengingat tingginya kasus CRD Kompleks yang menempati peringkat kedua infeksi terbanyak setelah ND sangat erat kaitannya dengan infeksi IB. Virus IB mempunyai kecenderungan berkolaborasi dengan E Coli, Mycoplasma, Ornithobacterium atau dengan virus pernafasan lainnya seperti ND, AI, ILT yang membuat kita sering meremehkan IB sebagai penyebab utama infeksi.
Serangan IB tanpa koinfeksi akan menyebabkan kenaikan FCR sebanyak 0,195 poin dan peningkatan kematian sebanyak 2,45%. Bila terjadi koinfeksi ND, AI, atau dengan Mycoplasma, E Coli, dsb maka tingkat kerugian ekonomi semakin tinggi. Infeksi IB pada ayam layer produksi dapat menyebabkan penurunan produksi antara 20-50% dengan kerusakan permanen pada organ reproduksi.
Infectious Bronchitis diprediksi menjadi virus penyebab kerugian ekonomi kedua terbesar setelah ND di tahun depan dengan tingkat persentase kemungkinan sebesar 9% setiap bulan, angka ini bisa meningkat mengingat tingginya kemungkinan kasus CRD kompleks. Serangan IB akan semakin hebat terutama di musim dingin/ penghujan, dimana kelembaban udara menjadi sangat tinggi yang sangat disukai oleh Avian Coronavirus sang penyebab IB. Hal ini tergambar jelas di grafik persentase kasus IB dari bulan ke bulan di atas. Kunci perlindungan serangan IB adalah memberikan proteksi menyeluruh sedini mungkin terhadap tantangan lapangan yang ada. Di Indonesia telah ditemukan virus IB Varian QX , Varian Malaysia, Varian 4/91 dan Varian Taiwan. Proteksi menyeluruh diperoleh dengan penggabungan vaksin IB Massachusetts dan Cevac IBird® yang dispray di hatchery serta booster di pullet dan layer.
INFECTIOUS BURSAL DISEASE
Dalam 3 tahun terakhir, kasus IBD cenderung mengalami peningkatan. Mayoritas kasus IBD menyerang ayam pullet dan broiler yang divaksin dengan vaksin IBD konvensional. Kerugian terbesar akibat infeksi IBD adalah menyebabkan kematian 20-25% pada broiler dan pada layer antara 10-60%. Infeksi pada ayam muda akan menyebabkan imunosupresif. Hasil diagnosa lanjutan kasus-kasus lapangan menunjukkan bahwa penyebab IBD di Indonesia termasuk dalam strain Very Virulent IBD Virus (strain vvIBDv).
Kasus IBD meningkat terutama pada musim hujan, antara September ke Februari dimana lingkungan lebih dingin, basah, dan lembab. Saat yang sama kualitas bahan baku memburuk karena tingginya kadar air yang mempercepat pertumbuhan jamur penghasil toxin. Akumulasi toxin menimbulkan kondisi imunosupresi yang mengganggu tanggap kebal vaksinasi yang bekerja di Bursa Farbricius. Hal lain yang menyebabkan tingginya kasus IBD adalah MAB IBD yang secara alami sangat variatif, yang menyebabkan sulit untuk menentukan jadwal vaksinasi IBD di farm. Kunci kontrol IBD adalah penguasaan Bursa Fabricius oleh virus vaksin. Tidak ada virus IBD kedua yang bisa menggantikan virus IBD pertama yang menguasai Bursa Fabricius secara penuh.
Berdasarkan pengamatan selama 5 tahun terakhir, persentase kemungkinan timbulnya kasus IBD di tahun 2023 cukup tinggi. Kemungkinan serangan IBD setiap bulan mencapai 9% bila tanpa perbaikan biosekuriti dan program vaksinasi. Solusi terintegrasi untuk masalah IBD pada broiler adalah menggunakan Transmune® yang sudah terbukti efikasinya di Indonesia. Sedangkan untuk pullet, masalah IBD dapat dicegah dengan menggunakan Novamune®. Kedua vaksin IBD tersebut dilakukan di DOC di hatchery sehingga akurasi dosis dan kontrol aplikasinya menjadi sangat ketat, diawasi oleh tim vaksinasi yang teratestasi dan diakui kualitasnya oleh Bureau Varitas.
INCLUSION BODY HEPATITIS
Dari tahun 2018 sampai 2020, jumlah laporan kasus IBH semakin menurun. Namun, dalam 2 tahun terakhir, Fowl Adeno Virus (FAdV) menggeliat dan laporannya meningkat sehingga menempati posisi keempat penyakit virus paling mungkin menimbulkan kerugian di tahun 2023 yang akan datang. Persentase kemungkinan timbulnya IBH per bulan mencapai 5%, tantangan akan lebih tinggi pada bulan-bulan penghujan.
Avian adenovirus menunjukkan resistensi yang luar biasa terhadap inaktivasi panas meskipun perbedaan sensitivitas antara strain telah dicatat. Beberapa strain bertahan pada suhu 60°C atau bahkan 70°C selama 30 menit. Kestabilan virus ini terhadap panas lebih besar ketika tersuspensi dalam kation monovalen dibandingkan dengan kation divalen, seperti pada virus DNA lainnya. Mereka tahan terhadap pelarut lipid dan pH 3 sampai 9. Namun, adenovirus sensitif terhadap formaldehida.
Kerugian akibat IBH membentang dari kematian yang bisa sangat tinggi mencapai 40%, infeksi yang bisa terjadi di setiap umur, sampai ke penurunan kualitas DOC akibat infeksi vertikal IBH di indukan. Penularan terjadi karena faktor mekanis terutama kontaminasi tinja, kotoran, sisa-sisa litter yang terbawa dari ayam yang sakit ke ayam yang sehat. Belum ada vaksinasi IBH yang tersedia secara komersial untuk mencegah infeksi. Pencegahan utama penyakit IBH adalah penerapan program biosecurity dan sanitasi yang ketat.
AVIAN INFLUENZA
Infeksi terakhir di daftar ini ditempati oleh Avian Influenza H5 dan H9. Walau menepati posisi buncit, bukan berarti AI adalah infeksi yang paling tidak berbahaya. Kerugian yang ditimbulkan sangat luas, dari kerugian akibat kolaborasi dengan infeksi virus lain yang merupakan karakteristik LPAI, sampai ke kematian yang mencapai 100% (HPAI) dan penurunan produksi mencapai 80% pada ayam produksi. Persentase kemungkinan serangan AI H5 dan H9 mencapai rataan 4% setiap bulan. Kemungkinan kasus akan meningkat di bulan-bulan pancaroba sampai ke musim penghujan.
Laporan terakhir WOAH – Organisasi Kesehatan Hewan Dunia menunjukkan tingkat infeksi AI meningkat sangat luar biasa dalam tahun terakhir. Laporan kasus datang dari seluruh penjuru dunia, Eropa, Amerika, Afrika, dan Asia. Virus AI yang menyebabkan serangan luarbiasa ini adalah subtype H5N1. Penularan dan penyebaran penyakit ini terjadi akibat migrasi unggas liar yang menyeberang antar benua. Telah dilaporkan kematian kawanan sejumlah besar unggas liar di berbagai negara dengan isolasi penyebab kematian adalah HPAI H5N1. Walau demikian, dilaporkan juga bahwa sebagian besar lain kawanan unggas yang terinfeksi mampu bertahan hidup tanpa menunjukkan gejala sakit dan meneruskan bermigrasi jarak jauh hingga mencapai antar benua, hal inilah yang menyebabkan penularan dan penyebaran AI sangat luas, cepat, massive, berbahaya dan sulit dikontrol.
Selama ini, konstruksi imun terhadap infeksi AI bertumpu pada penggunaan vaksinasi AI killed konvensional dengan pengulangan di umur tertentu. Program perlindungan ini kelihatannya membutuhkan perbaikan besar-besaran karena tingginya laporan kasus di tahun-tahun terakhir. Dibutuhkan program vaksinasi live yang bisa diberikan sedini mungkin, mampu menghindari MAB AI warisan induk yang sangat tinggi, mampu memberikan kekebalan jangka panjang, memberikan proteksi terhadap berbagai tantangan subtype AI, tidak mempunyai reaksi vaksin yang terlalu keras, dan dapat menghentikan shedding virus AI yang tidak mampu diberikan oleh vaksinasi AI Killed konvensional.
Demikian prediksi penyakit virus di tahun depan yang didasarkan pada frekuensi timbulnya kasus penyakit di tahun-tahun sebelumnya. Prediksi ini dibuat bukan untuk menjadi sebuah kepastian, tetapi berdasarkan prediksi ini diharapkan agar pelaku industri peternakan ayam di Indonesia lebih sadar akan situasi penyakit yang ada dan menimbang tingkat proteksi program vaksinasi di farmnya, untuk lebih siap dalam menghadapi tantangan virus yang akan terus membayangi industri ini. Untuk detail Survey Penyakit Poultry dan penanggulangannya, silahkan menghubungi representatif Ceva Animal Health terdekat. Adv