Berdasarkan laporan penyakit yang dikumpulkan oleh tim Ceva Animal Health Indonesia pada periode Januari 2018 sampai dengan Mei 2020 di area Jawa dan Sumatra, penyakit gumboro atau Infectious Bursal Disease (IBD) pada ayam petelur (layer) menempati urutan ketiga dari semua penyakit yang dilaporkan. Persentase penyakit gumboro yang dilaporkan sebanyak 8,4% dari total penyakit ayam petelur, sedangkan penyakit gumboro pada ayam pedaging sebesar 4,7% dari total penyakit ayam pedaging.
Apabila kita membandingkan antara penyakit gumboro pada ayam petelur dengan penyakit gumboro pada ayam pedaging, kejadian penyakit gumboro pada ayam petelur relatif lebih sering ditemukan. Prevalensi penyakit gumboro pada ayam petelur hampir dua kali lebih sering terjadi dibandingkan pada ayam pedaging. Hal ini dapat menunjukkan bahwa program pencegahan penyakit gumboro pada ayam petelur dirasa masih belum optimal. Kejadian penyakit gumboro pada ayam petelur lebih sering muncul pada bulan-bulan tertentu. Pada grafik 1, dapat dilihat bahwa kejadian penyakit gumboro pada ayam petelur ditemukan pada bulan Januari-Juli 2018, November 2018-April 2019, dan Oktober 2019-Mei 2020.
Grafik 1. Persentase penyakit gumboro pada ayam petelur
Biosekuriti, sanitasi, dan vaksinasi adalah kunci dari pencegahan penyakit gumboro. Seperti yang kita ketahui, waktu vaksinasi yang tepat merupakan hal yang penting dalam mencegah penyakit gumboro. Pemberian vaksin yang terlalu cepat (saat tingkat maternal antibodi masih tinggi) membuat vaksin tidak bekerja secara optimal karena dinetralisasi oleh maternal antibodi, sedangkan pemberian vaksin yang terlambat (saat tingkat maternal antibodi terlalu rendah) membuat ayam dapat terinfeksi oleh virus gumboro sebelum vaksin dapat bekerja. Adanya protection gap seperti ini yang membuat ayam sangat rentan terhadap penyakit gumboro.
Jenis vaksin yang lebih efektif
Di Indonesia, vaksinasi terhadap penyakit gumboro pada ayam petelur paling banyak diaplikasikan melalui cekok/tetes mulut maupun melalui air minum sebanyak dua sampai tiga kali vaksinasi di rentang umur tertentu. Dengan aplikasi seperti itu, waktu pemberian vaksin gumboro menjadi kurang tepat bagi setiap individu dalam flock ayam karena waktu vaksinasi disamaratakan padahal tingkat maternal antibodi setiap ayam berbeda. Di samping itu kualitas aplikasi juga belum tentu maksimal.
Untuk mendapatkan waktu vaksinasi yang tepat, idealnya ayam divaksin dengan vaksin gumboro jenis immune complex atau vaksin rekombinan pada DOC atau secara in ovo. Kedua jenis vaksin tersebut dapat bekerja secara individual tanpa adanya gangguan dari maternal antibodi. Namun pertanyaannya, di antara kedua jenis vaksin tersebut, manakah vaksin yang lebih efektif untuk mengontrol penyakit gumboro? Jawabannya tentu saja adalah vaksin immune complex. Mengapa demikian?
  1. Menyederhanakan program vaksinasi Less is more.
Vaksinasi pada ayam petelur sering sekali dilakukan di sepanjang hidup ayam. Padahal kita tahu bahwa semakin banyak aplikasi vaksin yang dilakukan dapat meningkatkan stres pada ayam. Dengan vaksin immune complex di hatchery, aplikasi vaksinasi di lapangan dapat dikurangi. Vaksin immune complex ini juga dapat diberikan bersamaan dengan vaksin rekombinan (Vectormune ND+rispens) ataupun vaksin lainnya di hatchery, sedangkan untuk vaksin IBD rekombinan tidak dapat diaplikasikan dengan vaksin vektor lainnya. Dengan menggunakan vaksinasi di hatchery, sampai dengan ayam umur 28 hari, aplikasi vaksin menjadi berkurang dari yang biasanya terdapat 7 kali aplikasi vaksin menjadi hanya 4 kali vaksin di peternakan. Berikut adalah program vaksinasi yang dapat dilakukan pada ayam petelur sampai dengan umur 28 hari.

2.Perlindungan optimal
Vaksin immune complex bereplikasi di bursa fabrisius sehingga mampu memblokir bursa dan melindungi bursa dari serangan berbagai strain virus gumboro. Berbeda dengan vaksin gumboro rekombinan, vaksin tersebut tidak dapat memblokir bursa sehingga tidak dapat melindungi sepenuhnya dari infeksi gumboro.
  1. Menghentikan siklus gumboro di peternakan
Vaksin immune complex yang mampu memblokir bursa, secara otomatis dapat mengurangi shedding virus, sekaligus mengurangi risiko terhadap tantangan gumboro. Memang tidak serta merta virus akan menghilang dari peternakan kita, namun semakin lama kita dapat semakin menekan tantangan gumboro di peternakan sampai siklus gumboro tidak terjadi lagi dan mengurangi munculnya virus IBD varian. Solusi dari Ceva, Novamune Setelah terbukti membantu mengontrol penyakit gumboro di Indonesia khususnya pada ayam pedaging melalui produk unggulan Transmune. Kini, Ceva Animal Health Indonesia menghadirkan solusi untuk ayam petelur yaitu Novamune. Vaksin gumboro immune complex ini berasal dari strain SYZA 26 yang tersedia dalam bentuk vaksin beku yang disimpan dalam nitrogen cair.
Novamune diaplikasikan pada DOC di hatchery melalui injeksi subkutan. Novamune bekerja secara individual, tergantung dari tingkat maternal antibodi. Apabila maternal antibodi sudah turun pada level tertentu, Novamune akan mulai bekerja. Adanya perbedaan level maternal antibodi yang sangat bervariasi dalam satu flock tidak akan menjadi kendala lagi. Dengan tidak adanya protection gap, diharapkan ayam akan kebal terhadap infeksi virus gumboro. Adv