Kesejahteraan hewan menjadi suatu bahasan yang belakangan ini cukup hangat diperbincangkan. Terlebih apabila dikaitkan dengan pemeliharaan layer. Bagaimana tidak, layer memang kerap dipelihara dengan menggunakan sistem kendang baterai, dimana merupakan sebuah kandang berbentuk persegi panjang yang bersusun ke atas dan berderet memanjang. Bukan tanpa sebab, pemeliharaan dengan sistem kandang ini bertujuan agar memudahkan peternak melakukan perawatan serta pemanenan telur.
Budi daya layer dengan sistem cage free dilaksanakan atas dasar kesejahteraan hewan, sehingga dalam praktiknya, harus memenuhi lima prinsip kebebasan dalam konsep kesejahteraan hewan.
Siapa sangka, kandang yang secara sengaja dibangun dengan tujuan seefektif mungkin, tanpa disadari justru dapat menimbulkan dampak negatif. Seperti contoh, ayam yang dipelihara dengan sistem kandang baterai akan mudah mengalami stres. Alih-alih mendapatkan hasil produksi yang optimal, hal ini justru dapat menurunkan produktivitasnya. Demikian terjadi karena kondisi stres dapat berimplikasi kepada kesehatan yang kemudian mempengaruhi fungsi fisiologis ayam.
Roby Tjahya Dharma Gandawijaya selaku CEO PT Inti Prima Satwa Sejahtera mengatakan bahwa pada hakikatnya hewan sebagai makhluk hidup harus mengalami sejahtera, tanpa terkecuali ayam sebagai hewan ternak. Sejahtera pada hewan ternak yang dimaksud adalah menjauhi segala perbuatan manusia yang sifatnya dapat merugikan kualitas hidup hewan ternak tersebut. Dirinya memercayai, segala yang diberikan oleh peternak maka itu yang akan diperoleh. Dalam hal ini, unggas yang sejahtera, maka akan memberikan hasil produk berupa telur dengan kualitas terbaik.
“Kesejahteraan hewan itu harus memenuhi lima prinsip. Prinsip tersebut yakni bebas dari rasa sakit atau penyakit, bebas dari rasa ketidaknyamanan, bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa takut atau kecemasan serta bebas berperilaku secara alamiah. Dari kelima prinsip tersebut, saya yakin dengan pemeliharaan layer sistem cage free dapat memenuhi semuanya,” kata Roby ketika berbincang dengan Poultry Indonesia di kandangnya, Sukabumi, Kamis (2/6).
Konsep sistem kandang cage free
Roby mengatakan, pada dasarnya, sistem kandang cage free sama halnya dengan sistem kandang umbaran. Bukan berarti tanpa sangkar, melainkan sebuah kandang berbentuk postal atau panggung dengan ukuran panjang 120 meter dan lebar 17 meter. Dalam kata lain, cage free merupakan sebuah sistem pemeliharaan yang membebas liarkan ayam dengan tanpa sekat-sekat kandang yang umumnya diterapkan pada kandang baterai. Pada kandang cage free, ayam dapat melakukan seluruh aktivitasnya tanpa dibatasi oleh peternak.
“Cage free itu sistemnya sama dengan kandang panggung, atau raise slatted. Kandang cage free ini memiliki luas 2040 m2 yang dapat menampung ayam sebanyak 1000 populasi. Kalau dihitung-hitung, kepadatan per ekor ayamnya adalah 7 ekor/m2,” jelas Roby.
Dalam menciptakan ayam yang sejahtera, terdapat beberapa unsur penting yang harus diterapkan dalam pemeliharaan kandang cage free. Tentu, kondisi ayam sejahtera ini mengacu pada lima prinsip kesejahteraan hewan. Hal tersebut dikarenakan pada awalnya, sistem cage free tercipta atas dasar kesejahteraan hewan. Pada prinsip bebas dari rasa sakit atau penyakit, sistem kandang cage free memiliki pengaruh yang positif. Dalam hal tersebut, pemeliharaan cage free dapat meminimalisir ayam terkena stres yang mana merupakan ujung tombak dari kesehatan ayam.
Kadar stres sangat berkaitan erat dengan kesehatan ayam. Ayam yang terkena stres, akan memproduksi hormon kortikosteron atau hormon stres secara berlebih. Surplus hormon kortikosteron ini menandakan adanya perubahan kimia seperti naiknya tingkat pH dalam usus. Kondisi tersebut menyebabkan mikroba penyebab penyakit khususnya pencernaan menjadi mudah untuk bertumbuh.
“Dengan sistem cage free, saya dapat menjamin bahwa ayam jauh lebih sejahtera. Karena pada dasarnya konsep cage free diterapkan berdasarkan sifat alami pada ayam dengan tanpa mengurangi efektivitas pemeliharaan oleh peternak. Ketika ayam terhindar dari stres, maka sistem imun pada unggas juga meningkat, sehingga terhindar dari mara penyakit,” tutur Roby.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada Majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, sila mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...