Berbagai tipe ventilasi di sistem closed house (sumber web2.mendelu.cz)
Oleh : Damar Luh Buono Sejati, S.Pt.*
Closed house akan menyedot dan mengeluarkan suhu panas di dalam kandang yang dikeluarkan oleh ayam, memanipulasi suhu di luar kandang yang berpeluang mempengaruhi lingkungan di kandang, serta membuang gas yang dapat mengganggu pertumbuhan ayam seperti amonia. Sistem kandang ini dapat meminimalisir pengaruh lingkungan di luar kandang yang dapat menghambat pertumbuhan ayam.

Secara sederhana, closed house adalah sistem kandang yang mampu menyediakan lingkungan yang terkontrol dan dibuat sebaik mungkin sesuai dengan kebutuhan ayam. Kandang ini dapat mengatur suhu, kelembaban hingga udara di dalam kandang

Dalam menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan ayam, terdapat dua unsur penting dari closed house, yaitu pengendalian suhu dan ventilasi udara. Untuk menjalankan dua unsur tersebut didukung oleh peralatan berupa exhaust fan, cooling pad, heater, dinding/tirai kandang dan controller.  Pengendalian suhu dilakukan oleh sepasang alat yang dinamakan heater dan cooling pad. Sedangkan proses ventilasi dilakukan menggunakan exhaust fan.
Untuk menaikan suhu dalam closed house, biasanya dibantu oleh heater dengan bahan bakar LPG yang paling lazim digunakan oleh peternak. Alat ini akan banyak bekerja saat broiler memasuki fase brooding. Kemudian, untuk menurunkan suhu digunakan alat bernama cooling pad.
Baca juga : Ragam Sistem Ventilasi
Cooling pad akan mendinginkan udara luar yang masuk ke kandang dengan prinsip penguapan air. Cooling pad dihubungkan dengan pompa yang akan membasahinya dengan air. Ketika udara panas dari luar kandang memasuki cooling pad, maka air akan mengambil energi panas dari udara sehingga air akan menguap (evaporasi) dan mengakibatkan turunnya temperatur udara yang masuk ke dalam kandang.
Selain itu, cooling pad juga berfungsi sebagai penyaring udara yang masuk ke kandang. Di mana sekat-sekat cooling pad akan  mencegah kotoran udara (berukuran besar) untuk masuk ke dalam kandang, sehingga udara masuk menjadi lebih bersih.
Disisi lain, dalam proses ventilasi terdapat tiga konsep yang harus dijalankan yaitu insulation, air exchange dan wind chill. Pertama, insulation yaitu proses di mana closed house bisa menjaga suhu di dalam kandang agar tetap stabil.  Konsep insulation dapat diberikan dengan desain bangunan yang diatur dapat menjaga stabilitas suhu.
Tirai kandang merupakan komponen yang biasa digunakan oleh peternak dalam menjalankan konsep ini. Selain dapat membantu mempertahankan suhu dalam kandang, tirai juga berfungsi untuk mencegah terpaan angin secara langsung, melindungi ayam dari gangguan luar, serta sebagai ventilasi darurat jika terjadi mati listrik.
Kemudian, pada konsep air exchange dapat diartikan sebagai proses pergantian udara dalam kandang oleh udara segar dari luar, untuk memenuhi kebutuhan oksigen pada ayam dan menghilangkan uap air dan gas berbahaya dalam kandang. Uap air yang berlebih ini dapat meningkatkan kadar amonia (NH3) dan menyebabkan sekam basah.
Hal ini tentu dapat meningkatkan resiko penyakit dalam kandang. Konsep ini biasa dikenal dengan istilah minimum ventilasi. Dalam praktiknya, minimum ventilasi dapat dicapai dengan mengatur jumlah dan durasi kipas yang menyala dalam kandang.
Lebih lanjut, wind chill effect merupakan suhu dingin yang disebabkan oleh adanya pergerakan udara dalam closed house. Efek ini dapat diatur dengan menggunakan kipas atau exhaust fan dalam closed house. Semakin tinggi kecepatan angin yang berhembus, maka wind chill effect akan semakin besar, sehingga suhu yang dirasakan ayam akan semakin rendah. Hanya saja kecepatan angin yang mengenai tubuh ayam juga perlu diperhitungkan dan disesuaikan dengan umur, bobot badan ayam dan suhu yang diperlukan oleh ayam.
Strategi pemeliharaan sistem closed house
Tak bisa dipungkiri, bahwa kandang sistem closed house membutuhkan biaya investasi yang lebih besar dibandingkan open house. Kendati demikian, penulis melihat bahwa nilai investasi ini bisa diminimalisir dan disesuaikan dengan budget yang dimiliki oleh peternak. Pada intinya peternak harus memahami dan memegang prinsip kerja kandang closed house, sedangkan peralatan yang hendak dipakai bisa menyesuaikan.
Saat ini pun telah banyak sekali variasi peralatan dengan spesifikasi yang beragam untuk membantu memudahkan peternak untuk membangun atau meng-upgrade kandangnya menjadi closed house. Berdasarkan pengamatan penulis, untuk investasi upgrade kandang dari open house menuju ke closed house, bisa ditekan hingga angka Rp20.000-25.000/ekor.
 Selain itu, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses budi daya dengan sistem closed house. Dengan upgrade kandang yang dilakukan, tentu kualitas SDM yang mengoperasikan juga harus ditingkatkan.
Penulis melihat bahwa, dalam pemeliharaan broiler di kandang closed house, terkadang operator sering luput dalam hal pengecekan kenyamanan ayam dalam kandang. Sering kali operator hanya terfokus pada SOP yang dibuat, tanpa memperhatikan tingkah laku ayam.
Dalam hal ini penulis menekankan bahwa dalam pemeliharaan broiler, selain harus mengacu pada guide line yang telah diterbitkan oleh pembibit, peternak juga harus melihat tingkah laku ayam dalam kandang. Apabila semua indikator seperti suhu, kelembapan, kecepatan angin dan lain sebagainya telah sesuai, maka peternak perlu memvalidasinya dengan melihat kenyamanan dan perilaku ayam.
Parameter paling gampang ayam terlihat aktif, ada makan, minum dan istirahat. Semisal sekitar 70 % ayam terlihat tidur, mengumpul pada satu titik dan tidak menyebar secara merata, maka terdapat komponen derajat kenyamanan ayam yang belum terpenuhi.
Kemudian ketersediaan listrik dalam budi daya broiler dengan sistem closed house merupakan kebutuhan utama yang harus terpenuhi. Pasalnya mayoritas peralatan yang ada di kandang closed house membutuhkan daya listrik, sehingga instalasi listrik yang tepat dengan daya yang sesuai harus diperhitungkan dengan baik.
Selain itu, peternak juga harus menyiapkan genset untuk berjaga-jaga ketika listrik utama dari PLN mati. Terkadang peternak terlena dengan listrik PLN yang lancar sehingga perawatan genset terlupakan, sehingga saat listrik PLN tiba-tiba mati maka genset tidak bisa menyala. Hal ini dapat berakibat fatal karena ayam akan kehilangan suplai udara yang dapat mengakibatkan stres bahkan kematian.
Dalam hal kelistrikan, peran operator dalam mengambil tindakan merupakan sebuah hal yang penting. Keterlambatan dalam mengambil tindakan akan dapat mengakibatkan kerugian. Apabila terjadi mati listrik dan genset tidak bisa menjadi pengganti daya, maka langkah operator yang bisa diambil adalah dengan menurunkan tirai kandang secara manual. *Owner Agri Mulya Sejati Farm
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2022 ini kelanjutan dari artikel berjudul “Optimalisasi Produksi dengan Kandang Closed House”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153