Permasalahan gizi di Indonesia juga disebabkan oleh pola hidup kurang sehat pada masyarakat (sumber: greeners.co)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Masalah gizi apabila tidak segera tertangani akan menimbulkan masalah-masalah serius lain seperti peningkatan penyakit hipertensi, stroke, diabetes dan kerugian dalam bentuk ekonomi. ”Data menunjukkan bahwa 20-40% remaja dan ibu hamil mengalami anemia dan hal ini akan menurunkan tingkat konsentrasi dan produktivitas sekitar 5-15%,” jelas Prof. Hardinsyah, Ph.D selaku Guru Besar Ilmu Gizi FEMA IPB di dalam acara yang sama.
Sebuah studi di 10 negara berkembang menunjukkan bahwa kerugian total rata-rata akibat penyakit anemia ini sebesar U$16,78 per kapita atau 4,05% dari total PDB. Selain itu, Hardinsyah juga menjelaskan bahwa permasalahan gizi di Indonesia juga disebabkan oleh pola hidup kurang sehat pada masyarakat. Menurutnya tingkat obesitas pada remaja dan dewasa di Indonesia yang mencapai 35,4% dapat menanggulangi masalah stunting yang nilainya 27,67%.
Dari tiga permasalahan gizi pada masyarakat, nampaknya stunting mendapat perhatian tersendiri dalam upaya penanggulangannya. Sebagaimana amanat Presiden Joko Widodo dalam pelantikan Kabinet Indonesia Maju 2019-2024, bahwa perhatian pemerintah dalam kurun waktu lima tahun mendatang diprioritaskan pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif.
Menegaskan arahan tersebut, stunting menjadi salah satu isu utama yang harus diselesaikan untuk mencapai pembangunan SDM yang berkualitas. Pasalnya stunting bukan sekadar berdampak pada fisik atau tampilan luar yang terlihat pendek, akan tetapi dampak buruk dalam organ tubuhnya, seperti ganguan kemampuan kognitif pada otak, ganguan fungsi hormonal pada pankreas, ketidakmampuan ginjal dalam menyaring darah dengan baik sehingga banyak racun yang terdapat dalam tubuh dan lain sebagainya.
Baca Juga: Penanggulangan Stunting untuk Menyiapkan Generasi Berdaya Saing
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa gizi akan berpengaruh pada karakter anak pada fase awal dewasa. Apabila masalah stunting tidak segera ditanggulangi, maka Indonesia akan mendapat generasi yang berkualitas rendah dan berdaya saing rendah ke depannya. Fenomena ini tentu juga akan berpengaruh kepada bidang pembangunan dan ekonomi negara.
Strategi penanggulangan
Masih dalam acara tersebut, Hardinsyah menyampaikan bahwa pengetahuan tentang pangan yang sehat dan bergizi menjadi satu dari tiga penentu stunting. Dalam hal ini, seorang ibu rumah tangga mempunyai peranan besar di dalamnya. Tiga poin penting dalam penanganan stunting yakni ketersediaan pangan, akses pangan, dan pengetahuan seorang ibu mengenai pangan dan gizi yang baik.
Pada Tahun 2020, pemerintah menargetkan dari 27,7% kasus stunting menjadi 24,1% dengan lokus 260 kabupaten/kota. Kemudian pada tahun 2024 target stunting menjadi hanya 14% dengan lokus stunting semua kabupaten/kota dengan kegiatan yang sama. Pemerintah dalam hal ini juga sudah membuat Peraturan Presiden dalam menangani kasus stunting.
Dalam Perpres tersebut, terdapat 23 kementerian dan lembaga yang berperan dalam mengatasi stunting. Seluruh pemangku kepentingan baik Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, KemenPUPR, Kemendagri dan kementerian/lembaga lainnya telah melakukan aksi melalui program/kegiatan utama dengan pola kerja konvergensi, yaitu bekerja sesuai dengan tugas dan fungsinya pada satu titik yang sama.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2020 dengan judul “Penanggulangan Stunting untuk Menyiapkan Generasi Berdaya Saing”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153