POULTRYINDONESIA, Yogyakarta – Fakultas Peternakan UGM dan PT Nutricell Pasific melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding dan Stadium Generale mahasiswa pascasarjana Fapet UGM secara luring dan daring di auditorium Fakultas Peternakan (Fapet), Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dan via Zoom, Sabtu (20/8).
Wakil Dekan bidang Penelitian, Pemberdayaan masyarakat, dan Kerjasama Fakultas Peternakan UGM Prof. Ir. Yuny Erwanto, S.Pt., MP., Ph.D., IPM.. yang mewakili dekan Fakultas Peternakan UGM dalam sambutannya menyatakan bahwa sektor peternakan akan terus dibutuhkan selama manusia hidup dan akan terus berkembang. Acara dilanjutkan dengan stadium general dengan tema “Outlook Peternakan 2023”. yang diberikan oleh dua pemateri.
drh. Agung Suganda, M.Si selaku Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen PKH, Kementrian Pertanian yang mewakili Dirjen PKH yang menjadi salah satu pemateri mengamini bahwa menyatakan bahwa sektor peternakan mengalami peningkatan 3,56% year on year.
Baca Juga: 12 Guru Besar Wanita Fapet Unand Launching Buku
“Prospek sektor peternakan kita sangat baik dan sangat menarik. Secara umum, peternakan unggas masih menjadi unggulan dan dominan dalam sektor peternakan, kemudian disusul oleh peternakan sapi dan kerbau. Ayam ras mendominasi produksi daging, yaitu 3,4 juta ton dengan target 3,5 juta ton di tahun 2021,” ujar Agung dalam presentasinya.
Perihal konsumsi, Agung mengatakan bahwa trend konsumsi daging ayam ras per kapita 2020 ke 2022 mengalami peningkatan walaupun sedikit. Peningkatan konsumsi sejalan dengan peningakatan produksi. Surplus yang dimiliki pada produksi daging ayam dapat menjadi peluang ekspor.
“Prognosanya di tahun 2022 ini kita memiliki surplus daging ayam sekitar 624 ribu ton. Ini adalah potensi untuk kita bisa meng-ekspor daging ayam. Kita juga sudah berhasil untuk meng-ekspor daging ayam ke Singapura,” jelasnya.
Kebutuhan telur juga meningkat setiap tahunnya yang diiringi oleh tingginya produksi. Sehingga telur juga memiliki berpeluang untuk ekspor.
Pemaparan selanjutnya diberikan oleh Dr. Ir. Wira Wisnu Wardani, S.Pt., M.Si., IPU selaku direktur PT. Nutricell Pacific mengatakan bahwa industri pakan di Indonesia sangat potensial mengingat perannya untuk menyokong produksi protein hewani asal ternak.
“Jika kita lihat konsumsi, misalnya produk ayam per kapita, jika dikalikan dengan kebutuhan pakan, maka akan sangat besar. Sekitar 20 juta ton pakan. Jika dikalikan dengan harga pakan maka akan mencapai sekitar 100 triliun. Ditambah suplemen yang jika dipakai 1%, maka akan mencapai 1 triliun,” tutur Wira.
Dalam mencapai potensi yang tinggi tersebut dari sektor peternakan, khsususnya pakan, yang perlu diingat bahwa terjadi perubahan pada sektor peternakan. Mulai dari genetik, lingkungan, dan tantangan penyakit.