Setelah Malaysia mengumumkan pelarangan ekspor produknya ke negara lain pada awal bulan Juni 2022, secara langsung telah berdampak ke beberapa negara eksportir ayam dari negara tersebut. Salah satunya adalah negara tetangga Singapura, dimana kebijakan tersebut telah membuat penurunan ketersediaan ayam, yang berkorelasi secara langsung terhadap naiknya harga ayam disana.
Fenomena ini segera ditangkap oleh Indonesia sebagai peluang untuk bisa mengekspor produk unggasnya ke Singapura. Dengan kerjasama yang cepat dari Kementerian Pertanian RI dan Singapore Food Agency (SFA), pada tanggal 23 Juni 2022, telah ditandatangani kesepakatan kerjasama antara Indonesia dan Singapura. Selanjutnya melalui sebuah surat yang diterbitkan SFA pada hari Kamis, (30/6) 2022, menyebutkan bahwa pemerintah Singapura akhirnya memberikan izin untuk produk unggas asal Indonesia bisa diperjualbelikan di Singapura.
Isi dalam surat tersebut kurang lebih memberikan izin impor Singapura untuk daging unggas, beserta kriteria daging unggas yang diizinkan untuk diimpor. “Kami menginformasikan bahwa Indonesia telah diizinkan untuk mengekspor daging unggas beku, dingin, dan daging yang telah melalui proses pemanasan”. Adapun produk PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI), yang diizinkan untuk mengekspor produknya dari Indonesia ke Singapura adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Food Division, dan PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. untuk Heat Processed Chicken Meat Products.
Pelepasan ekspor perdana ke Singapura
Pengiriman ekspor pertama yang dilakukan oleh CPI ke Singapura dilakukan pada hari Rabu, (13/7), bertempat di kantor pusat CPI, Ancol, Jakarta Utara. Acara pelepasan produk unggas, berupa karkas ayam ini dilakukan oleh Menteri Pertanian RI, Prof. Dr. H. Syahrul Yasin Limpo, S.H., M.Si., M.H. (SYL) bersama dengan manajemen PT CPI, serta dihadiri oleh perwakilan dari Kedutaan Singapura di Indonesia dan pihak pembeli dari Singapura.
Dalam acara ini, SYL mengecek secara langsung isi kontainer yang digunakan untuk mengirim ekspor produk unggas ini. Dan untuk informasi, pelepasan perdana ini, dikirimkan sebanyak 50 ton karkas ayam beku dan ayam olahan dengan nilai 2 miliar. Selain pengiriman ke Singapura, dalam acara ini juga dilakukan pengiriman repeat order produk olahan unggas ke Jepang dan karkas ayam ke Timor Leste dengan masing masing volume sebanyak 12 Ton atau setara 1 miliar.
Dalam sambutannya, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), mengatakan bahwa pelepasan ekspor ini terkesan sangat spesial, mengingat bahwa acara ini merupakan ekspor produk unggas perdana Indonesia ke Singapura. Menurutnya, hal ini membawa makna penting bagi Indonesia, dimana produk unggas Indonesia akhirnya dapat ikut serta dalam memenuhi kebutuhan ayam dan produk olahan ayam ke pasar Singapura yang dikenal memiliki standar keamanan pangan yang tinggi.
“Ini adalah hari yang bahagia karena kita bersama PT CPI melaksanakan ekspor produk unggas ke Singapura, Jepang dan Timor Leste. Ekspor unggas ini dikatakan istimewa karena ekspor ke Singapura merupakan ekspor perdana produk unggas Indonesia. Dari sekian banyaknya Negara yang masuk ke Singapura, Indonesia ada diantaranya. Ini tandanya Indonesia mendapat kepercayaan dunia, khususnya untuk komoditas peternakan kita,” teganya.
Keberhasilan ekspor produk peternakan ke Singapura ini, menjadi bukti bahwa produk peternakan Indonesia memiliki jaminan keamanan pangan yang berkualitas dan layak tembus di pasar internasional. Dirinya berharap, langkah ini dapat membuka jalan bagi produk peternakan Indonesia untuk menembus pasar ekspor negara-negara lain. “Ekspor ini membuktikan Indonesia semakin mendapat kepercayaan dunia, kesiapan produk–produk pertanian kita, lebih khusus produk ternak kita layak dan mampu memenuhi standar yang dibutuhkan pasar ekspor,” jelasnya.
SYL melanjutkan bahwa produksi daging ayam secara nasional mencapai sekitar 3,8 juta ton per tahun. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang tercatat mampu memenuhi kebutuhan daging ayam dari produksi dalam negeri. Namun demikian, dirinya juga menegaskan bahwa ekspor dilakukan dengan tetap memprioritaskan kebutuhan dalam negeri.
“Perintah Bapak Presiden, ada komoditas yang produksinya berlebih harus kita dorong agar mampu menangkap peluang seperti ekspor ini. Jika kita lihat perkembangan unggas dan telur yang jumlahnya cukup luar biasa dan tercatat over stock, kenapa tidak kita dorong, tentunya dengan tetap menempatkan kepentingan nasional diatas segalanya,” tegas SYL.
Lebih lanjut, di tengah kondisi krisis pangan dan energi global, Indonesia masih mampu untuk hadir dalam memenuhi ketahanan pangan. Dengan sumber daya yang mumpuni, ia sangat yakin bahwa lini pertanian Indonesia merupakan solusi atas permasalahan ini. Hal ini diperkuat oleh kenaikan ekspor pertanian nasional pada tahun 2021 sebesar 38,68% dari tahun sebelumnya. Dalam hal ini peternakan menjadi penyumbang kedua setelah sektor perkebunan.
“Kita sedang menghadapi dunia yang saat ini sedang krisis pangan dan energi. Sedangkan Indonesia memiliki sumber energi alami seperti cahaya matahari dan air yang tidak ada habisnya, memiliki tanah yang luas, dan memiliki jumlah populasi warganya sebanyak 273 juta jiwa, dan lini pertanian adalah jawaban dari permasalahan ini,” pungkasnya.
Sementara itu, Presiden Komisaris PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk., Hadi Gunawan, menyampaikan bahwa berkat dukungan dan dorongan dari Kementan, termasuk Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, maka perusahaannya telah berhasil membuka jalur pasar ekspor untuk berbagai jenis produknya. Menurutnya ekspor hari ini mengawali MoU kontrak business to business dengan buyer Singapura yang diperkirakan akan mencapai 1.000 ton dan akan dikirim bertahap hingga akhir tahun 2022. Jumlah ini akan terus bertambah, menyesuaikan dengan kondisi pasar di Singapura. Hadi berharap ekspor ini berjalan dengan lancar, berkelanjutan, dan terus meningkat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Republik Indonesia yang telah mendukung dan merealisasikan sehingga ekspor perdana ke Singapura ini dapat terlaksana. Kami berharap apa yang telah dilakukan oleh CPI dapat mendongkrak industri perunggasan nasional dan menjadi jalan pembuka bagi produk produk unggas serta produk olahan unggas Indonesia untuk menembus pasar dunia, sehingga Indonesia dapat menjadi bagian dari solusi dunia saat ini dengan menjadi lumbung pangan dunia, seperti yang dicanangkan oleh Presiden Indonesia, Bapak Joko Widodo,” tambah Hadi.
Dirinya melanjutkan bahwa sejak tahun 2017 hingga saat ini, ekspor CPI sudah menembus 5 negara yaitu, Papua Nugini, Timor Leste, Jepang, Qatar dan yang terkini adalah Singapura. Dalam hal ini CPI telah berhasil membuka jalur pasar ekspor untuk produk–produk agro berupa produk olahan unggas, pakan ternak ayam dan anak ayam umur sehari (DOC). Tentu produk CPI ini telah tersertifikasi oleh standar yang diakui secara internasional seperti sertifikasi Halal, GMP (Good Manufacturing Practice), FSSC 22000 dan memiliki NKV (Nomor Kontrol Veteriner). Kemudian, hingga dengan semester pertama tahun 2022, ekspor yang telah dilakukan oleh CPI telah mencapai 500 kontainer dan 1.269.390 ekor DOC. Adv