Di luar reputasinya sebagai akademisi, peneliti dan konsultan di dunia perunggasan, Ia dikenal juga sebagai pencinta budaya dan sejarah. Nilai-nilai serta filosofi seorang dalang kemudian ia terapkan dalam lingkungan akademik maupun keseharian.
Mimiknya ramah, tutur katanya lembut, dan setiap kalimatnya penuh dengan kesederhanaan, itulah kesan yang melekat saat pertama kali berbincang dengan Prof. Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS, Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University. Di balik ketenangannya, tersimpan karakter dan pilihan hidup penuh kasih serta pengorbanan.
Sejak kecil, Wayan dikenal sebagai pribadi yang tidak bisa tinggal diam melihat penderitaan orang lain. Sambil tertawa, ia mengenang masa kecilnya saat harus pulang dari Sekolah Dasar (SD) hanya menggunakan celana dalam karena celananya ia berikan kepada teman yang celananya sobek.
“Waktu kecil, saya juga pernah ‘mencuri’ beras di rumah untuk diberikan kepada tetangga yang pada waktu itu hanya makan pisang cacah sebagai pengganti nasi. Padahal, beras di rumah cukup banyak. Tapi kemudian saya ketahuan dan dihukum oleh orang tua,” kenangnya saat ditemui Poultry Indonesia di kediamannya di Bogor, Senin (6/10).
Empatinya yang tinggi ternyata telah tumbuh sejak lama. Ia terbiasa mengalah kepada adik-adiknya dalam hal barang dan bahkan pernah membujuk orang tuanya untuk menyekolahkan teman-teman yang kurang mampu. Baginya, kebahagiaan pribadi belum lengkap jika orang di sekitarnya masih menderita. “Saya lebih memilih saya yang susah, daripada melihat saudara saya kesulitan,” ungkapnya pelan.
Di luar reputasinya sebagai akademisi, peneliti dan konsultan industri perunggasan, Wayan juga dikenal sebagai pencinta budaya dan sejarah. Sejak kecil, ia sudah gemar bermain wayang dan memerankan tokoh-tokoh pewayangan seorang diri. Pengetahuannya tentang tokoh-tokoh wayang pun sangat luas, dari Arjuna Sasrabahu hingga Parikesit, semuanya ia hafal. Kecintaan itu terus berlanjut dari masa kecil hingga usia tua.
“Wayang itu cermin karakter manusia. Di sana saya belajar bahwa kebaikan dan keburukan itu dua sisi yang berjalan berdampingan. Tidak ada manusia yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk,” jelasnya.
Menyatukan Ilmu, Empati dan Spiritualitas
Lahir dan besar di Bali, Wayan tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan nilai budaya dan spiritualitas. Sejak kecil, ia sudah menyadari bahwa hidup bukan soal apa yang bisa dikumpulkan, tetapi tentang apa yang bisa diberi. Namun, di balik sifat dermawan dan empatinya, ia juga memaknai pilihan hidup secara kontemplatif.
“Dulu saya sempat ingin jadi pendeta. Ingin hidup sederhana, tidak terlalu mengurus dunia, tinggal di tengah hutan, dan lebih banyak mendalami spiritualitas. Tapi keinginan itu tidak diizinkan oleh keluarga. Mungkin karena saya masih harus membimbing murid-murid, sampai akhir pengabdian sebagai guru,” lanjutnya.
Meski sudah menjadi seorang Muslim, kedekatan spiritualnya tidak berubah. Bahkan nilai-nilai spiritualitas menurutnya lebih luas, lebih dari lingkup agama. Nilai-nilai inilah yang tetap hidup dalam setiap langkahnya. Ia menjadikan profesi Guru sebagai ladang pengabdian. Dalam mendidik muridnya, ia menjalankan prinsip yang ia sebut sebagai ‘ilmu tukar tempat’.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










