Ali, sapaan akrab Prof. Ali Khomsan memang terbilang murid yang sangat berprestasi. Hal itulah yang mengantarkannya bisa menempuh perguruan tinggi dengan mengandalkan nilai dan prestasinya selama SMA. Ali merupakan mahasiswa yang pandai, tak ayal jika ia menjadi lulusan terbaik di kampusnya. Anak kedua dari enam bersaudara ini menyelesaikan kuliah S-1 di Fakultas Peternakan IPB tahun 1983. Prestasi-prestasi yang selama ini ia raih dalam bidang akademik membuatnya berpikir jika ilmu yang ia miliki akan lebih berkembang apabila ia menjadi dosen dan peneliti.
Menjadi lulusan insinyur peternakan yang kemudian menjadi dosen di bidang ilmu gizi menjadikannya belajar tentang banyak hal. Kontribusi untuk negara ia wujudkan dengan menjadi pengajar dan peneliti yang sejak lama dicita-citakan.
Merasa sebagai orang yang kala itu tidak pandai berbicara, menjadi peneliti menurutnya sebagai suatu pilihan yang tepat. Ali berpikir bahwa sebagai seorang peneliti tentu hanya akan berhadapan dengan ternak-ternak penelitiannya saja, tidak akan dihadapkan dengan banyak orang. Sampai pada akhirnya ia mendapat panggilan sebagai dosen pada Fakultas Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga di almamaternya.
Dari seorang insinyur peternakan yang kemudian diterima sebagai dosen yang harus menggeluti gizi manusia, Ali mendapatkan tantangan tersendiri. Ia merasakan peristiwa ‘hijrah’, dari yang biasanya membicarakan gizi ternak, kemudian harus berubah menggeluti gizi manusia. Meski begitu, ia tidak mendapatkan hambatan yang berarti dan ternyata semakin membuatnya semangat untuk banyak belajar.
Ali juga mengikuti kuliah untuk jenjang S-2 nya dengan beasiswa pada jurusan Ilmu Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga, Institut Pertanian Bogor dan lulus tahun 1987. Sambil tetap mengajar, ia mendapat tawaran untuk kuliah S-3 di Home Economics And Education di Iowa State University Amerika Serikat. Dengan membawa istri dan anak yang masih berusia 1,5 tahun, Ali banyak memperdalam ilmu tentang ekonomi, keluarga, dan gizi pada manusia di Amerika.
Orang yang sejak kecil mengidolakan alm. B.J. Habibie ini menyadari bahwa ia bisa kuliah ke luar negeri ini tak lepas dari doa orang tuanya, terutama ibu. Tidak pernah terbayang olehnya anak dari kota kecil bisa sekolah ke luar negeri. Sejak kecil keinginannya untuk belajar sudah sangat besar, dan beruntungnya ia dibesarkan dari keluarga yang penuh kedisiplinan dan kesabaran.
Setelah kembali ke Indonesia, Ali banyak melakukan kajian-kajian dan juga penelitian yang berhubungan dengan gizi masyarakat, serta aspek sosio budaya gizi. Ia juga pernah melakukan penelitian di Suku Badui, Kampung Adat Ciptagelar di daerah Pelabuhan Ratu, dan juga pernah melakukan penelitian di Cireundeu daerah Cimahi. Semua itu dilakukan untuk memperkaya pandangan para akademisi yang berkecimpung di bidang gizi tentang fenomena program gizi yang ada di berbagai masyarakat. Berkat ketekunannya dalam melakukan banyak penelitian, Ali bahkan mendapatkan gelar sebagai Guru Besar Bidang Pangan dan Gizi pada usia yang masih sangat muda kala itu yakni 41 tahun. Sebuah prestasi yang tidak banyak didapatkan oleh akademisi lain.
Ali tentu tak menutup mata mengenai perkembangan gizi masyarakat Indonesia. Ali melihat konsumsi telur masyarahat Indonesia sebenarnya sudah terbilang baik. Menurutnya, konsumsi telur ini kalau dilihat memang lebih tinggi dari produk-produk hewani lainnya. Apalagi ditunjang dengan ketersediaannya yang juga sudah mencukupi untuk kebutuhan masyarakat Indonesia.
Ali berharap saat ini Indonesia harus mengupayakan tentang bagaimana caranya agar daya beli masyarakat bisa ditingkatkan, dan aksesnya bisa terjangkau oleh masyarakat. Selanjutnya yang harus dipikirkan adalah bagaimana agar harga juga tidak merugikan para peternak dan konsumen bisa menjangkaunya. Chusnul
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2020 dengan judul “Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, M.P – Jiwanya untuk Mengabdi dan Meneliti”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...