POULTRYINDONESIA, Semarang – “Kita tidak akan pernah tahu kehidupan kita ke depan akan seperti apa, yang bisa kita lakukan adalah bercita-cita dan terus berusaha. Perihal nanti ujungnya akan seperti apa, itu tentu urusan Yang Maha Kuasa.” Kalimat tersebut diutarakan oleh Prof. Dr. Ir. Dwi Sunarti, MS, Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang saat ditemui Poultry Indonesia di ruang kerjanya, Senin (2/3).

Kita seringkali terobsesi akan banyak hal dalam menjalani kehidupan, namun ada satu hal yang perlu kita ingat bahwa yang punya kuasa adalah Tuhan. Tuhan akan memberikan yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan

Wanita kelahiran Kabupaten Situbondo, 21 Mei 1956 ini dilahirkan dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai guru. Mungkin orang mengira wajar saja jika ia kini menjadi seorang pengajar, namun perjalanan hidup yang dialami oleh Titi-panggilan akrab dari Dwi Sunarti-tidak begitu adanya. Sewaktu kecil, ayahnya selalu mengajak semua anaknya untuk berkumpul dan saling bercerita saat sore hari, hingga suatu ketika, ayahnya mengutarakan suatu hal bahwa ia ingin salah satu dari anak-anaknya nanti bisa meneruskannya menjadi seorang pengajar juga.
Takdir membawa Titi untuk kuliah pada jurusan peternakan. Kuliah di peternakan membuat Titi menjadi mahasiswa yang sangat berprestasi sehingga dipercaya menjadi asisten dosen (asdos). Tak hanya itu, semasa kuliah ia juga aktif diberbagai organisasi dan kegiatan-kegiatan kampus seperti pramuka dan paduan suara, dan karena kepintarannya, ia juga mendapatkan beasiswa selama menjalani masa studi.
Sejak menekuni dunia peternakan, Titi lebih senang menggeluti dunia perunggasan. Selain merasa lebih sesuai dengan keinginannya, ternak unggas tidak akan menyulitkannya karena ternak tersebut memiliki postur yang tidak terlalu besar. Setelah lulus dari S-1, ternyata Titi masih juga bingung untuk memilih berkarier sebagai apa, dari sinilah awal mula Tuhan memberikan petunjuk bahwa ternyata Titi sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang pengajar.
Titi kembali mengenang, selesai wisuda sarjana, ia diminta untuk menemui  salah satu dosen di ruangannya. Titi sempat bertanya-tanya dan bingung karena ia tidak sedikit pun mengetahui apa yang akan diutarakan oleh dosen tersebut. Alhasil, dirinya ditawari untuk menjadi dosen di kampus almamaternya. Sejak itu, ia menyadari bahwa menjadi pengajar (dosen) adalah jalan yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuknya. Sebuah profesi yang ia tidak cita-citakan sejak kecil.
Perjalanan hidupnya pun tidak berhenti sampai di situ. Titi kemudian diminta untuk melanjutkan studi S-2. Titi yang kala itu sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang masih kecil, memutuskan untuk meneruskan kuliah jurusan peternakan Universitas Padjajaran. Sebagai pribadi yang tangguh, ia harus berjibaku antara kuliah, mengajar, dan mengurus dua putranya yang masih kecil. Hal itu lantaran pada saat bersamaan, suaminya juga melanjutkan studi S-2 nya di luar negeri. Di balik kesibukannya, Titi masih bisa menyelesaikan kuliah dengan cepat serta mendapatkan prestasi yang gemilang. Dua tahun setelahnya, ia bahkan menerima penghargaan sebagai Dosen Teladan pada tahun 1989.
Kesungguhan Titi dalam menuntut ilmu membawanya ke luar negeri untuk melanjutkan studi S-3 nya. Berbekal beasiswa, ia diterima di salah satu kampus di Inggris yang kebetulan sang suami juga mendapatkan beasiswa di universitas yang sama. Doanya terkabul, melanjutkan studi bersama suami sekaligus membawa kedua hatinya ke Inggris merupakan harapan yang senantiasa ia panjatkan dalam doa-doanya. Setelah selesai studi S-3, ia Kembali mengajar di Undip dan kemudian dikukuhkah menjadi Guru Besar.
Menyatukan stakeholder perunggasan
Kiprahnya di dunia perunggasan memang tak diragukan lagi. Titi melihat, semakin ke sini perkembangan perunggasan semakin pesat dan peminatnya semakin banyak. Sistem perkandangan closed house sudah semakin banyak merajai peternak di daerah-daerah. Menurutnya, dilihat dari segi kemampuan pun, peternak sekarang sudah banyak yang mahir dan tidak perlu diragukan lagi. Akan tetapi, dengan keadaan populasi yang semakin banyak, permasalahan di sektor perunggasan juga semakin kompleks.
Selaku akademisi, ia sering melakukan diskusi dengan asosiasi, pemerintah, dan stakeholder yang lain. Keadaan tersebut, mengingatkannya saat melanjutkan studi di Inggris, dimana perguruan tinggi dan industri saling terkait. Perguruan tinggi bisa melakukan riset, dan industri yang akan menggunakan hasil risetnya tersebut untuk kemajuan industri perunggasan.
Sebagai Ketua MIPI (Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia), Titi mengatakan bahwa MIPI hadir sebagai wadah untuk menyatukan semuanya, agar stakeholdes tidak jalan sendiri-sendiri. Perusahaan tidak jalan sendiri, akademisi tidak jalan dengan risetnya sendiri, masyarakatnya juga tidak jalan sendiri termasuk peternak dan simpatisan perunggasan yang lain juga tidak jalan sendiri. Chusnul
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2020 dengan judul Prof. Dr. Ir. Dwi Sunarti, MS – Terus Berkarya untuk Kemajuan Perunggasan Indonesia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153