Berawal dari ketertarikannya terhadap hewan sejak kecil, membuat Deni Noviana muda tertarik untuk mendalami profesi dokter hewan. Sedari kecil, ia memang sudah tak asing lagi dengan memelihara hewan kesayangan, dari mulai anjing dengan berbagai macam spesies, ikan, kucing, hingga hewan-hewan kesayangan lainnya. Ayah dari Deni senang memelihara hewan, kemudian semasa kecil Deni sering diberi pesan oleh ayahnya bahwa jika memelihara hewan, harus diiringi dengan rasa tanggung jawab.
Berawal dari kecintaannya terhadap hewan, membuatnya tertarik untuk menekuni profesi di bidang dokter hewan dengan tujuan awalnya yang hanya ingin membantu masyarakat menyelesaikan permasalahan kesehatan hewan. Walaupun tak pernah terbesit dalam pikirannya untuk menjadi PNS, ternyata suratan takdir membawanya ke arah lain yaitu menjadi Dosen di kampus negeri bahkan menjadi dekan di kampus tersebut.
“Dulu rata-rata hewan yang bisa dipelihara bisa dikatakan pernah saya pelihara. Dari mulai kucing, ikan, bahkan hampir semua ras anjing sebagian besar pernah saya pelihara. Dari situlah mungkin muncul sebuah pemikiran, bahwa ada risiko gangguan kesehatan saat proses memelihara hewan. Itulah awalnya mengapa saya ingin melanjutkan ilmu terkait dengan kedokteran hewan,” ungkap Deni.
Saat remaja, tepatnya ketika SMA banyak yang mempertanyakan keputusannya untuk melanjutkan jenjang studi sarjana ke program studi kedokteran hewan IPB dimana kawannya yang lain memilih prodi favorit seperti agrobisnis, teknologi pertanian, dan prodi lain di luar kedokteran hewan.
“Walaupun memang pada awalnya semua pihak di sekeliling saya itu mempertanyakan keputusan saya untuk meneruskan jenjang pendidikan kedokteran hewan, dari mulai guru saya, hingga kawan-kawan saya pada saat SMA juga ikut mempertanyakan. Karena rata-rata mereka masuk ke IPB itu jurusan agrobisnis, teknologi pertanian, dan lainnya diluar kedokteran hewan,” lanjutnya.
Pria yang saat ini menjabat sebagai Dekan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB, lahir dan besar di Bogor. Sedari kecil hingga kuliah, waktunya benar-benar ia habiskan di Bogor. Bahkan ia mengaku tidak seperti kebanyakan kawannya yang pernah merasakan merantau. Hal tersebut tidak terlepas dari latar belakang keluarganya dimana sang Ayah merupakan PNS di Pemkot Bogor sejak awal mula kariernya.
“Saya lahir dan besar di Bogor dari SD, SMP, SMA, hingga kuliah di Bogor. Jadi saya itu belum pernah merasakan apa yang dinamakan dengan merantau. Alhamdulillah saya masuk di IPB melalui jalur undangan dan langsung memilih program studi kedokteran hewan pada pilihan pertama. Bahkan saya tidak mengisi pilihan kedua saking mantapnya saya ingin menempuh pendidikan kedokteran hewan,” ucapnya.
Pria yang lahir di Bogor pada tahun 1972 ini juga menjelaskan alasannya mengapa ia mantap menekuni profesi dokter hewan. Alasannya, ia ingin menjadi dokter hewan praktik yang bisa turun langsung dalam membantu masyarakat menyelesaikan permasalahan gangguan kesehatan hewan. Ia juga menegaskan kepada orang tuanya bahwa ia tidak ingin menjadi PNS karena telah melihat kedua orang tuanya yang berprofesi sama, sehingga ia ingin mengambil jalur lain selain PNS.
“Sebetulnya saya itu menjadi dokter hewan karena alasan yang sangat sederhana yaitu ingin menjadi dokter hewan praktik untuk menyembuhkan pasien hewan. Saya sudah sempat bilang ke orang tua saya, kalau sebetulnya tidak ingin menjadi PNS. Ibu saya adalah guru dan ayah saya adalah PNS di Kota Bogor. Ketika melihat lingkaran terdekat menjadi PNS, rasanya begitu-begitu saja, maka dari itu saya tidak ingin menjadi PNS. Setelah itu, saya juga bilang kepada orang tua saya bahwa saya tidak ingin menjadi dosen, karena menjadi dosen itu harus banyak belajar lagi. Tetapi bagaimanapun namanya juga jalan hidup seseorang, ketika dijalani ya akhirnya menjadi seperti ini,” terus Deni.
Ketika menjalani program studi kedokteran hewan, ia mengaku ada beberapa aspek yang membuatnya kaget sekaligus tertantang. Pengalaman yang cukup berkesan ketika ia menjalani perkuliahan adalah ketika ia mendapati bahwa banyak sekali muatan hafalan yang harus dilewati agar bisa mendapatkan nilai yang memuaskan.
“Dulu saya sempat kaget juga karena kuliah di kedokteran hewan itu sangat banyak muatan hafalannya. Itu yang pertama. Kedua, dalam seminggu itu pasti ada ujiannya, walaupun namanya ada ujian tengah semester, akhir semester, tetapi hafalannya itu memang banyak. Jadi setiap minggu itu pasti ada ujiannya. Karena mata kuliahnya banyak yang mesti dihafal, salah satu momen yang paling saya ingat adalah ketika kawan kawan saya dari fakultas lain sedang melakukan hiburan di akhir pekan, saya masih berkutat dengan hafalan untuk mengejar nilai yang baik di kampus. Walaupun sempat merasakan culture shock, akan tetapi memang itu adalah konsekuensi yang mesti diambil,” kenangnya.
Pada waktu Deni menjalani kegiatan sehari hari sebagai mahasiswa tingkat akhir, ia mendapatkan informasi peluang untuk pertukaran pelajar di Jepang, lalu ia berdiskusi dan meminta restu kepada orang tuanya untuk mengikuti program pertukaran pelajar tersebut. Orang tua dari Deni menyetujui hal tersebut dan akhirnya ia mendapat kesempatan untuk melakukan studi di Jepang.
“Awalnya, memang bermula dari ketika saya tingkat empat, ada kesempatan untuk pertukaran pelajar ke Jepang. Akhirnya saya mendapat kesempatan tersebut, dan ketika memohon restu kepada orang tua, mereka mengizinkan. Alasan yang lain adalah karena saya itu belum pernah merasakan yang namanya jauh dari rumah dan dalam tanda kutip ‘ngekos’, yang mana belum pernah keluar dari kota Bogor. Akhirnya saya ke Jepang selama satu tahun dan saya melakukan penelitian tersebut di Jepang. Dari situlah wawasan saya makin terbuka bahwa ternyata bidang kedokteran hewan itu sangat luas. Saya melihat di sana juga dosen-dosennya tetap bisa melakukan praktik. Sepulangnya saya ke Indonesia, saya melanjutkan ko-asisten karena sempat tertunda satu tahun,” ujarnya.
Setelah melalui fase pertukaran pelajar, pada saat Deni melakukan studi ko-asisten, dibukalah lowongan untuk menjadi dosen. Akhirnya Deni sampaikan hal tersebut ke orang tua. Ternyata gayung bersambut, dimana gagasan tersebut sangat didukung oleh Ibunda dari Deni. Sang Ibunda tentu sangat mendukung sekali karena anaknya bisa meneruskan menjadi PNS dan jadi dosen walaupun memang dua pekerjaan tersebut dulunya adalah pantangan bagi Deni.
“Memang terjadi pertentangan dalam diri saya kala itu, tetapi lowongan yang ditawarkan adalah untuk dokter hewan klinik. Artinya memang menjadi dosen yang kesehariannya itu adalah banyak praktik. Saya ambil, setelah itu jadi PNS dan namanya dosen selalu ada tawaran untuk kuliah di luar negeri. Saya lulus pada tahun 1997 akhir dan 1999 mendapat kembali beasiswa di Jepang dan pada tempat yang sama dari profesor yang sama. Saya cukup lama di Jepang, satu tahun program pertukaran pelajar dan menyelesaikan program doktoral selama 5 tahun. Jadi mungkin sekitar 6 tahun saya berada di Jepang,” ujarnya sembari mengenang masa-masa yang sangat menentukan bagi perjalanan hidupnya kala itu.
Menjalani kehidupan sebagai mahasiswa pertukaran pelajar memang tidak mudah, maka dari itu Deni memberikan beberapa tips bagi para mahasiswa yang hendak melanjutkan studi di luar negeri, baik yang mendapatkan beasiswa maupun non beasiswa. Sehingga, jika hal tersebut sudah dilakukan, maka mahasiswa tersebut tidak akan terlalu sulit dan terbebani dalam menyelesaikan studi di luar negeri.
“Hal pertama kalau kita ingin belajar di luar negeri kita harus paham kultur dan budaya di negara tujuan itu seperti apa. Kedua, sistem pembelajaran yang diterapkan di negara tujuan juga harus dipahami betul oleh calon mahasiswa. Jika mahasiswa yang ingin belajar di luar negeri itu tahu bagaimana sistem pembelajarannya, maka akan mudah nantinya dalam mengikuti dan menyelesaikan studi,” ungkap Deni.
Hal selanjutnya yang mesti dipahami oleh calon mahasiswa yaitu jangan cepat putus asa, apalagi jika program studi yang dijalankan menggunakan bahasa yang berbeda. Ketika Deni berada di Jepang tahun pertama, ia mengatakan bahwa ia harus belajar bahasa Jepang selama kira-kira satu tahun, dimana 6 bulan dilakukan pendalaman bahasa Jepang di Indonesia dan 6 bulan berikutnya ketika Deni berada di Jepang.
“Jadi, kemampuan berbahasa negara tujuan itu sangat penting, apalagi saya waktu itu masuk di kelas reguler, bukan di kelas internasional, sehingga bahasa sehari-harinya tentu menggunakan bahasa Jepang. Apalagi kalau beasiswa tentu ditekankan untuk bisa selesai tepat waktu,” terusnya.
Deni juga menekankan bahwa aspek yang tidak kalah penting ketika mendapat kesempatan berkuliah di luar negeri adalah bagaimana mahasiswa mampu mencari jejaring relasi. Karena ketika jejaring relasi sudah terbangun, maka akan memudahkan mahasiswa tersebut untuk meniti karier ke tingkat yang lebih tinggi.
Menyukai ini:
Suka Memuat...