POULTRYINDONESIA, Bogor – Besar dari keluarga berlatar belakang militer, tak lantas membuat ia berperawakan tegas dan galak. Orang yang berperawakan kalem ini nyatanya orang yang sangat ramah dan murah senyum. Prof. (Riset). Dr. Ir. Sofjan Iskandar, M.Rur.Sc adalah seorang peneliti senior di bidang pakan dan nutrisi ternak, di Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak), Bogor.
Meneliti dan terus meneliti. Kata inilah yang patut kita sematkan untuk sosok yang satu ini. Hampir separuh hidupnya habis untuk meneliti dan mengabdi pada negeri.
Kecintaannya memelihara ayam sewaktu remaja membuat Fakultas Peternakan IPB menjadi pilihannya saat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kisahnya berlanjut hingga pada tahun 1973, Sofjan diterima di Fapet Unpad dan Fapet IPB. Setelah menamatkan pendidikan S-1 nya, ia bekerja sebagai pegawai honorer di Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Bogor. Dalam penugasannya sebagai pegawai honorer, Sofjan mendapatkan tugas membantu penelitian Dr. David Creswell dalam bidang pakan dan nutrisi ayam.
Perjalanan membantu proyek penelitian mengantarkannya untuk bekerja di Balai Penelitian Ternak (Balitnak)-lembaga yang masih di bawah Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak)-yang saat itu masih merupakan proyek penelitian peternakan (P4) yang merupakan bantuan kerja sama Colombo Plan-CSIRO Australia. Setelah dua tahun bekerja di Balitnak, Sofjan yang saat itu masih sebagai calon peneliti mendapat beasiswa untuk melanjutkan S-2 (Master of Rural Science) pada Departement of Bionutrition, Faculty of Rural Science University of New England, Armidale NSW Australia sejak Januari 1980 sampai September 1982.
Sofjan yang memang cerdas pada akhirnya mendapatkan nilai bagus dan berprestasi. Langkah pendidikannya seolah mulus seperti jalan bebas hambatan. Sofjan kembali mendapat kesempatan tugas untuk menempuh studi S-3 (Doctor of Philosophy) pada Department of Farm Animal Medicine and Production, University of Queensland, Australia, yang diselesaikannya pada bulan September 1985. Perjalanan kariernya yang panjang mengantarkannya mendapatkan sertifikat dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk peghargaan profesor riset pada tanggal 19 Juli 2011.
Mencintai ayam lokal
Kecintaannya terhadap ayam lokal yang sudah melekat pada dirinya sejak kecil ternyata dibawanya sampai saat ini. Ayah dari tiga orang anak ini hampir separuh hidupnya dihabiskan untuk meneliti, lebih spesifik lagi ia sangat konsen terhadap ayam lokal Indonesia. Selain sebagai peneliti, sepanjang perjalanan kariernya, Sofjan Iskandar pernah menjabat sebagai Kepala Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor.
Selama berkarier sebagai peneliti, Sofjan Iskandar telah menghasilkan 99 (sembilan puluh sembilan) karya tulis ilmiah yang ditulis sendiri maupun dengan penulis lain dalam bentuk buku, jurnal, prosiding, dan makalah yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Selain itu tak sedikit pula penghargaan yang sudah diterima oleh Sofjan, di antaranya Penghargaan Kepada Penggerak/Pemrakarsa/Pelopor Dibidang Pembangunan Pertanian Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2016 dan penghargaan Lubis Award pada tahun 2006 dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Lamanya ia berkiprah menjadi peneliti senior membuatnya memiliki harapan besar untuk para peneliti-peneliti penerusnya.
Ayam lokal komoditas masa depan
Sejak tahun 1980-an, peningkatan populasi dan pemanfaatan unggas lokal oleh pemerintah telah ditempuh dengan berbagai upaya. Berawal dari peningkatan budi daya oleh masyarakat peternak, sampai pemberian modal dan fasilitas usaha seperti VBC (village breeding center), RRMC (rural rearing and multiplication center). Namun upaya tersebut tidak menampakkan hasil yang sesuai dengan harapan.
Menurut Sofjan, ketidakberhasilan tersebut ada kemungkinan disebabkan tidak adanya keterkaitan program kerja antarinstansi pemerintah terkait menangani komoditas yang sama. Oleh karenanya menurutnya perlu adanya strategi pengembangan ayam lokal yang melibatkan berbagai instansi pemerintah terkait.
Sofjan juga menyadari betul bahwa tidak setiap temuan hasil penelitian dapat langsung diadopsi industri. Untuk adopsi hasil-hasil penelitian, perlu dilakukan semacam diseminasi dan promosi yang cukup, sehingga para pelaku praktisi industri memahami dan memanfaatkan komoditas ini dalam usaha mereka. Diseminasi dan promosi sendiri merupakan upaya pembentukan permintaan (creating demand) pada produk baru di samping kebutuhan dan permintaan dari industri itu sendiri (demand driven).
Ia mengerti benar bahwa suatu proses yang cukup lama dibutuhkan untuk inovasi teknologi yang lebih efisien. Namun lamanya proses penemuan tidak mutlak disebabkan oleh tingkat kesulitan teknis yang sedang diteliti itu sendiri, tetapi juga oleh pengaruh terbesar yaitu dari kebijakan dan skala prioritas kebijakan tersebut untuk riset ayam lokal, serta konsistensi pemerintah dalam mengucurkan dana sebagai modal untuk penelitian terkait unggas lokal.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2020 dengan judul “Prof. (Riset). Dr. Ir. Sofjan Iskandar, M.Rur.Sc – Separuh Jiwanya untuk Berkarya demi Kemajuan Bangsa”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...