Oleh : Yoga Kusuma Barata, S.Pt *

Dalam kegiatan budi daya ayam pedaging, kesehatan merupakan hal penting yang harus diperhatikan karena dapat berpengaruh pada performa ayam dan efisiensi usaha. Dengan potensi genetik ayam pedaging yang sudah semakin berkembang, membuat ayam pedaging membutuhkan waktu pemeliharaan yang singkat. Namun dengan potensi genetik yang dimilikinya tersebut, membuat ayam pedaging lebih rentan terhadap penyakit, untuk itu dibutuhkannya upaya pencegahan penyakit pada ayam pedaging. Ayam yang sehat akan memiliki pertumbuhan daging yang lebih optimal karena apabila ayam sakit, konversi pakan akan difokuskan kepada pemulihan terlebih dahulu sehingga pertumbuhan daging akan terhambat. Sedangkan dari segi kuantitas, ayam yang sehat akan menghasilkan panen yang semakin banyak karena terbebasnya dari penyakit yang dapat menurunkan angka kematian ayam.

Biosekuriti merupakan komponen penting dalam proses pemeliharaan ayam pedaging. Kendati terkesan sederhana, namun program biosekuriti yang baik dapat menjadi
salah satu faktor kunci dalam kesuksesan pemeliharaan ayam pedaging

Salah satu faktor penentu keberhasilan dalam suatu usaha peternakan adalah faktor pakan, genetik dan tata laksana pemeliharaan. Program biosekuriti merupakan salah satu bagian dari tatalaksana pemeliharaan yang mempunyai andil besar dalam keberhasilan proses budi daya. Biosekuriti harus dilakukan dengan benar, sesuai Standar Operasional Procedure (SOP) yang telah ditetapkan. SOP tersebut mewajibkan setiap peternak untuk melaksanakan program biosekuriti dengan tepat sasaran. Apabilapeternak tidak melakukan biosekuriti sesuai SOP yang telah ditentukan maka akan mengurangi efisiensi usaha.
Penyebaran penyakit di kandang ayam pedaging dapat terjadi sangat cepat, hal ini dikarenakan kepadatan populasi dalam suatu kandang dan buruknya sistem sanitasi pada kandang tersebut, sehingga penerapan biosekuriti sangat penting untuk dilakukan. Tujuan utama dari biosekuriti ialah untuk meminimalisir keberadaan penyebab penyakit, kesempatan agen infeksius, dan tingkat kontamintasi. Meskipun biosekuriti bukan satu-satunya cara untuk menghentikan serangan penyakit, namun biosekuriti merupakan garis pertahanan terdepan terhadap serangan penyakit.
Kala dihubungi Poultry Indonesia melalui aplikasi Zoom, Kamis (7/10), Vinta Maulia selaku Technical Sales PT CEVA Animal Health Indonesia, mengatakan bahwa saat ini masih sering ditemukan kurangnya perhatian peternak terhadap biosekuriti dalam proses pemeliharaan ayam pedaging. “Sebenarnya biosekuriti sangat mudah dipahami, tetapi tidak semua peternak melakukannya, khususnya dari segi pengaplikasiannya karena kurangnya awareness peternak mengenai seberapa pentingnya biosekuriti terhadap pemeliharaan ayam pedaging. Adapun peternak yang sudah melakukan namun tidak sesuai dengan SOP,” ujarnya.
Prinsip dasar biosekuriti
Vinta melanjutkan bahwa penerapan komponen dasar biosekuriti yang pertama yakni isolasi. Isolasi merupakan suatu tindakan untuk mencegah kontak antara hewan pada suatu area atau lingkungan. Tindakan yang paling penting dalam pengendalian penyakit adalah meminimalkan pergerakan hewan dan kontak dengan hewan yang baru datang. Tindakan lain yaitu memisahkan ternak berdasarkan kelompok umur atau kelompok produksi. Fasilitas yang digunakan untuk tindakan isolasi harus dalam keadaan bersih dan didesinfeksi. Implementasi tindakan isolasi antara lain adalah pemisahan terhadap ayam yang sakit, penanganan terhadap feses, dan pemisahan segera apabila terdapat ayam yang mati.
Baca juga : Solusi Alternatif untuk Mengurangi Biaya Produksi Pakan Ayam Ras Petelur
Prinsip kedua yakni kontrol lalu lintas. Kandang ayam pedaging termasuk kandang yang memiliki lalu lintas cukup padat. Seringnya para pekerja untuk melakukan monitoring kandang ayam pedaging, membuat kandang ayam pedaging termasuk kandang yang memiliki lalu lintas padat. Oleh karena itu, kontrol lalu lintas dibutuhkan untuk membatasi dan mencegah terjadinya penyebaran penyakit yang datang dari luar kandang.
Kontrol lalu lintas merupakan tindakan pencegahan penularan penyakit yang dibawa oleh transportasi, pekerja, tamu pengunjung kandang, dan hewan asing yang tidak diinginkan. Kontrol lalu lintas di kandang harus dibuat dengan baik untuk menghentikan atau meminimalisir kontaminasi pada hewan, pakan, dan peralatan yang digunakan. Penerapan dari  kontrol lalu lintas ialah berupa tindakan terhadap lalu lintas transportasi dan pekerja, perlakuan terhadap peralatan serta pakan, dan tindakan terhadap rodensia, serangga serta tikus.
“Kontrol lalu lintas sangat penting diperhatikan pada pemeliharaan ayam pedaging. Hal tersebut dikarenakan kandang pemeliharaan ayam pedaging adalah kandang yang paling sering dikunjungi karena waktu pemeliharaan yang pendek serta kebanyakan peternak menganut pola kemitraan sehingga kandang sering dikunjungi oleh petugas penyuluh lapangan dan Technical Service,” jelas Vinta.
Prinsip selanjutnya adalah sanitasi, yang merupakan tindakan pembersihan atau desinfeksi yang bertujuan untuk membunuh kuman penyebab penyakit. Implementasi sanitasi harus dilakukan secara tertata dengan baik kepada lingkungan kandang, peralatan, dan pekerja. Sanitasi merupakan tindakan yang paling praktis namun tak jarang peternak menyepelekan langkah ini. Tindakan sanitasi yang dapat dilakukan ialah melakukan cuci tangan sebelum dan setelah masuk kandang, membersihkan alat pakan serta minum, kandang senantiasa dibersihkan dengan desinfektan, dan memakai sepatu bot untuk pekerja yang kemudian dicelupkan pada desinfektan.
Desinfeksi pada kandang bertujuan membasmi bibit penyakit yang masih tersisa di dalam kandang, baik di lantai maupun udara kandang. Penyemprotan desinfektan yang pertama sebaiknya dilakukan dengan optimal, seluruh bagian kandang termasuk bagian sela-sela kandang harus merata terkena cairan desinfektan. Penyemprotan desinfektan yang pertama kali sebaiknya menggunakan jet spray, dengan demikian cairan desinfektan dapat masuk ke pori-pori dinding dan lantai kandang.
Tidak semua bibit penyakit dapat dibasmi oleh desinfektan, oleh karena itu harus memilih desinfektan dengan tepat. Vinta memberikan keterangan bahwa selama ini banyak peternak yang blunder tidak memperhatikan riwayat kandangnya sehingga peternak tidak mengetahui agen infeksius yang menyerang peternakannya sehingga desinfektan yang dipilih oleh peternak tidak tepat sasaran bahkan sia-sia.
“Peternak seringkali tidak melihat riwayat kandangnya sehingga saat melakukan sanitasi tidak tepat sasaran terhadap agen infeksiusnya. Hal ini tentu saja tidak efektif bahkan cenderung sia-sia. Faktornya adalah tidak adanya recording kandang oleh peternak dan pertimbangan biaya yang harus dikeluarkan,” ucap Vinta.
Program pendukung biosekuriti pada ayam pedaging
Sesuai dengan prinsip dasar biosekuriti, peternak harus menetapkan dan menjalankan sebuah program agar dapat menjaga kesehatan ayam pedaging. Program pertama adalah vaksinasi. Karena tidak ada obat yang dapat melawan infeksi virus, maka vaksinasi sebelum terjadinya infeksi di dalam kandang ayam menjadi pilihan utama untuk melindungi ayam. Vaksin virus yang ideal terbuat dari suatu virus yang tidak menimbulkan penyakit, melainkan virus yang sangat tinggi imunogenisitas-nya.
Baca juga : Berbagai Macam Teknologi Pengawetan Daging
Pada ayam pedaging, vaksinasi dapat dilakukan dengan 3 metode yakni melalui air minum, suntikan atau injeksi, dan tetes mata. Pada metode air minum, air yang akan dicampurkan dengan vaksin harus bebas klorin dan desinfektan lainnya. Sebelum diberikan, ayam juga perlu berpuasa terlebih dahulu sekitar 1-2 jam sebelum vaksinasi. Bahan yang perlu disiapkan adalah air, susu skim dan vaksin. Jumlah air yang dibutuhkan adalah jumlah air yang habis diminum selama 1-2 jam. Susu skim hanya 2 gram per liter air. kemudian, vaksin dicampurkan dengan larutan air dan susu skim. Susu skim berguna untuk mencegah reaksi vaksin terhadap bahan dalam air
Metode kedua yakni melalui injeksi atau suntik. Perlu dipastikan bahwa sebelum menyuntikkan vaksin, injektor perlu dicek terlebih dahulu. Umumnya, vaksin yang digunakan berada di dalam botol yang sudah dimasukkan ke dalam lemari es dan saat ingin digunakan segera dikeluarkan sampai suhunya sama dengan suhu lingkungannya. Kebanyakan vaksin peternak suntikkan ke pangkal paha (musculus) ayam pedaging. Keuntungan dari metode vaksin suntik adalah dosisnya sudah teratur oleh injektornya. Perlu dipastikan juga bahwa botol vaksin yang akan digunakan harus sudah terkocok agar homogen dan tidak mengendap.
Metode vaksinasi terakhir adalah melalui tetes mata. Proses penetesan vaksin ke dalam mata harus terserap sempurna ke dalam kelopak mata. Sebelum ayam dilepas, pastikan bahwa tetesan vaksin sudah terserap sempurna oleh ayam. Dosis vaksin yang dianjurkan melalui tetes mata ialah 1 ml per ekornya. Walaupun cukup mudah untuk dilakukan, namun metode vaksin tetes mata ini memiliki kekurangan terhadap efisiensi waktu.
Penerapan program selanjutnya ialah pencatatan riwayat kandang. Ayam harus secara rutin diperiksa kesehatannya ke laboratorium, dengan mengecek titer darahnya terhadap penyakit tertentu, monitoring bakteriologis dan sampling lainnya. Laporan hasil pemeriksaan laboratorium harus disimpan bersamaan dengan data performans setiap flok atau kandang. Diharapkan dengan laporan ini, dapat bermanfaat begitu masalah yang tidak terduga muncul kedepannya.
Program yang terakhir ialah pencucian kandang ayam pedaging. Pencucian kandang ayam pedaging merupakan kegiatan biosekuriti yang paling berat. Pencucian kandang ayam pedaging bisa dilakukan secara total atau menyeluruh. Secara total artinya dilakukan terhadap seluruh kandang secara lengkap dari bagian atas sampai ke bawah. Pencucian bisa juga secara parsial biasanya dilakukan tidak menyeluruh, tetapi hanya bagian bawah (lantai) dan sekitarnya. Pencucian kandang ini dilakukan setelah panen atau paling tidak setahun sekali.
Kegiatan pencucian kandang ini diawali saat ayam telah dipanen. Setelah melalui proses panen dan litter diangkat keluar kandang, tindakan berikutnya adalah pembersihan dan desinfeksi terhadap seluruh kandang dan lingkungannya. Gumpalan litter harus diangkat dan sisa-sisa yang menempel harus disikat dan disemprot air. Peralatan seperti penggaruk, sekop, truk pengangkut, wadah-wadah pengangkut kotoran dan lain-lain semuanya harus dibersihkan dan didesinfeksi setelah dipakai.
“Setelah kandang bersih dan sudah didesinfeksi, selanjutnya kandang harus diistirahatkan selama minimal 14 hari. Sebisa mungkin kandang dibiarkan benar-benar kosong, jika ada aktivitas pekerja pun maka aktivitas tersebut harus sangat dibatasi,” ucap Vinta.
Dirinya melanjutkan bahwa fungsi istirahat kandang sangat penting yaitu untuk memutus siklus hidup bibit penyakit. Jika bibit penyakit hidup namun tidak menempel pada induk semang dan tidak pada lingkungan yang ideal baginya, maka lama-kelamaan ia akan mati. Kalau tidak mati maka kemampuannya untuk menyerang ayam akan melemah. Peternak tidak boleh melewatkan proses istirahat kandang ini karena akan menyebabkan bibit penyakit yang tersisa di kandang untuk menyerang DOC yang baru masuk. Sehingga penyakit akan mudah berkembang dan penyakit yang sama akan terus berulang. *Wartawan Poultry Indonesia