POULTRYINDONESIA, Yogyakarta – Di tengah dinamika industri perunggasan nasional yang masih diwarnai ketidakseimbangan supply demand, keberlangsungan usaha peternak rakyat terus menjadi perhatian utama. Tekanan biaya produksi, ketidakpastian pasar, hingga persoalan struktural industri membuat peternak, khususnya sektor broiler harus bertahan dalam situasi yang tidak mudah selama beberapa tahun ke belakang.
Ketua Umum PINSAR Indonesia, Singgih Januratmoko, SKH, MM, menyoroti perjalanan panjang peternak rakyat yang selama lebih dari satu dekade terakhir berada dalam tekanan berat akibat persoalan kelebihan pasokan (over supply) dan tingginya ketidakpastian pasar. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi faktor utama yang menyebabkan tidak sedikit peternak rakyat kehilangan keberlanjutan usahanya.
Singgih menilai, kehadiran program MBG menjadi momentum penting sekaligus “oksigen” baru bagi industri perunggasan rakyat. Program ini dinilai mampu menghadirkan kepastian pasar melalui penyerapan daging ayam dan telur secara masif, sehingga membuka peluang perbaikan ekonomi di tingkat peternak.
“Selama ini peternak berada dalam situasi yang sangat fluktuatif. Dengan adanya program MBG, kini terdapat kepastian permintaan yang jelas. Ini menjadi peluang besar agar peternak rakyat bisa kembali menikmati hasil dari kerja kerasnya,” ujar Singgih, Senin (19/1/2026).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa PINSAR Indonesia memiliki peran strategis dalam mengawal ketersediaan protein hewani nasional guna mendukung keberhasilan program tersebut. Di saat yang sama, penguatan hilirisasi produk unggas juga menjadi agenda penting agar manfaat ekonomi industri perunggasan dapat dirasakan lebih merata hingga ke tingkat peternak rakyat.











