Vaksinasi pada layer digunakan untuk proteksi kesehatannya
Oleh : Muhammad Sandi Dwiyanto*
Vaksinasi merupakan salah satu proses yang menimbulkan stres bagi ternak, sehingga keterampilan, ketepatan dan persiapan harus diperhatikan oleh para vaksinator atau operator kandang. Terdapat dua jenis vaksin yang digunakan yakni vaksin live dan vaksin kill. Vaksin kill mempunyai kelebihan durasi imunitas lebih panjang daripada vaksin live. Namun vaksin live dapat menginduksi kekebalan seluler pada ayam. “Mengombinasikan sifat antara vaksin live dan vaksin kill merupakan sebuah langkah yang sering diambil, seperti program vaksinasi ND live dan ND kill,” ungkapnya.
Vaksin live diberikan melalui air minum,  intranasal (tetes mata atau hidung) dan spray. Dalam aplikasi vaksinasi melalui air minum, hal yang perlu diperhatikan adalah kualitas dan jumlah kebutuhan air yang digunakan dan lama waktu pemberian vaksin. Air minum yang digunakan untuk melarutkan vaksin harus dipastikan tidak mengandung kaporit, PH netral, dan tidak tercemar zat-zat lain yang bisa mematikan kandungan vaksin seperti desinfektan dan logam.
Untuk pemberian melalui intranasal, sebelum pemberian, vaksin terlebih dahulu dilarutkan kedalam diluent vaksin dan kemudian dikocok sebelum digunakan. Pastikan tidak ada vaksin yang menetes atau berantakan di area kandang. Selain itu, dosis pemberian harus tepat dan lama vaksinasi sebaiknya tidak lebih dari 2 jam serta dilakukan di pagi atau sore hari. Selanjutnya, pada vaksin spray hal yang penting diperhatikan adalah air yang digunakan dalam melarutkan vaksin (sebaiknya aquades) serta ukuran partikel nozzle pada mesin spray.
Baca Juga: Vaksinasi dan Biosekuriti Kunci Sukses Menjaga Kesehatan Unggas
Aplikasi pemberian vaksin kill melalui suntikan, yaitu suntikan dada, paha atau sayap. Untuk jarum suntik, sebaiknya diganti setiap per 1.000 ekor ayam yang sudah di injeksi. Hal ini untuk menghindari penularan penyakit yang mungkin terjadi. Kemudian, untuk vaksin yang sudah dicairkan (thawing) sebaiknya dihabiskan dan tidak dianjurkan disimpan kembali. Selain itu, sebaiknya vaksinasi dilakukan pada pagi atau sore hari dengan lama durasi proses vaksinasi tidak lebih dari 4 sampai 6 jam.
Selain proses pemberian, mekanisme penyimpanan vaksin juga harus diperhatikan. Rantai dingin suhu penyimpanan dapat memengaruhi kualitas dari vaksin tersebut. Vaksin memiliki standar suhu penyimpanan 2-8 ◦C. Jika vaksin disimpan dalam kulkas, maka hal yang  harus dihindari adalah menyimpan vaksin pada pintu kulkas. Hal ini dikarenakan suhu pada tempat tersebut tidak stabil seiring dengan dibuka atau ditutupnya kulkas. Kemudian vaksin juga tidak dianjurkan untuk disimpan dalam freezer atau di bawah freezer, karena bisa membuat vaksin beku.
Dalam proses transportasi, vaksin harus tetap dalam keadaan dingin. Dalam hal ini vaksin dapat diletakkan di dalam styrofoam atau cool box yang sudah berisi ice  pack. Jika rantai dingin tidak terjaga maka dapat menyebabkan turunnya potensi dan efektivitas vaksin yang dapat menyebabkan tidak optimalnya perlindungan terhadap infeksi penyakit. *Wartawan Poultry Indonesia
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2021 dengan judul “Manajemen Vaksinasi Pada Ayam Petelur”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153