POULTRYINDONESIA, Jakarta – Konsumsi protein hewani punya kaitan erat dengan kecerdasan dan kualitas generasi suatu bangsa. Ironisnya, konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia bukan hanya tertinggal jauh dibanding negara-negara lain di Asia, tetapi juga kalah dari rokok yang menjadi konsumsi tertinggi di rumah tangga saat ini, diikuti pulsa dan cicilan motor.
Hal ini disampaikan oleh Audy Joinaldy, Ketua Umum ISPI, dalam talkshow bertema “Protein Hewani sebagai Sumber Gizi Anak Bangsa”, di tengah rangkaian Festival Ayam, Telur & Susu (FATS) 2025, di Jakarta, Minggu (20/7/2025). Menurutnya, ini merupakan tantangan besar dalam upaya membangun generasi emas 2045.
“Negara kita tertinggal karena konsumsi protein rendah. Negara-negara konsumsi ayam dan telur tinggi seperti Israel, Amerika, Jepang, mereka maju luar biasa. Sementara kita, konsumsi protein rendah, padahal satu batang rokok harganya sama dengan satu butir telur. Konsumsi ayam kita hanya sekitar 10 kg per kapita dan telur 120 butir per orang per tahun, artinya satu orang Indonesia hanya makan satu telur setiap tiga hari. Bandingkan dengan Malaysia, konsumsi telur mereka 360 butir dan ayam 40 kg per kapita per tahun, empat kali lipat dari kita,” ujar Audy.
Senada dengan itu, Rizal M. Damanik, selaku Guru Besar IPB University, menekankan bahwa protein hewani memiliki kandungan asam amino esensial yang tidak dapat dipenuhi hanya dari bahan nabati. Menurutnya, ini menjadi alasan kuat mengapa telur, daging, dan susu sangat penting bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan. Kekurangan asupan ini berpengaruh langsung terhadap tumbuh kembang otak dan tubuh anak yang akan berdampak secara permanen.
“Telur adalah sumber protein paling terjangkau, bisa didapatkan di warung manapun. Dalam satu kilo telur seharga 27-28 ribu kita bisa dapat 15-17 butir. Dibanding sebungkus rokok yang harganya sama, jelas telur lebih bermanfaat untuk anak. Dari gizinya, telur mengandung kolin, zat penting untuk pertumbuhan sel otak, dan 9 asam amino esensial yang tidak bisa diproduksi tubuh. Ini sangat penting dalam fase tumbuh-kembang anak. Idealnya, konsumsi telur minimal 2 butir per hari,” tegasnya.
Dirinya juga menyoroti, berbagai mitos seperti makan telur membuat bisulan atau minum susu saat menyusui membuat badan anak jadi amis tidak perlu dipercaya. Justru, dengan mengonsumsi telur bisa meningkatkan IQ anak hingga 15 poin dan anak bisa tumbuh lebih tinggi daripada orang tuanya.
Sementara itu, Hasudungan A. Sidabalok, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, menyebutkan bahwa total konsumsi protein hewani di Jakarta sekitar 30 kg/kapita/tahun, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG), pihaknya memastikan bahwa akan mendukung penuh setiap program yang mendorong peningkatan konsumsi protein hewani. Dukungan tersebut terutama dalam menjaga standar keamanan dan mutu produk hewani yang beredar di masyarakat.
“Kami punya laboratorium pengujian seperti Kesmavet, lab perikanan, dan lab asal tumbuhan untuk menjaga keamanan pangan. Produk pangan asal hewan juga harus punya Nomor Kontrol Veteriner (NKV) sebagai jaminan proses produksinya memenuhi standar sanitasi. Harapan kami, pemerintah pusat bisa melibatkan BUMD pangan seperti Food Station dan Dharma Jaya sebagai pemasok resmi MBG,” ucapnya.
Program ini dinilai bisa menjadi peluang besar untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap protein hewani, tetapi harus tepat sasaran. DKI Jakarta memang relatif mudah distribusinya, namun daerah seperti Papua, Maluku, dan daerah terpencil lain lebih sulit dan harga telur bisa mencapai 3.000-4.000 per butir (contoh dari Jayapura). Maka kebijakan ini harus bisa menjangkau wilayah-wilayah tersebut.