Oleh: Don P Utoyo*
Sejak lama penulis menyerukan agar semua pihak baik pemerintah, peneliti, pelaku, pers atau media dan publik untuk dapat ikut serta aktif, bahu-membahu dalam upaya-upaya mengentaskan stunting atau kekerdilan pada generasi penerus bangsa. Hal ini dapat dilakukan dengan anjuran banyak mengonsumsi protein hewani seperti daging, telur, susu dan Ikan. Selain untuk mengentaskan stunting, langkah ini juga bertujuan untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa di masa mendatang.
Peningkatan konsumsi protein hewani merupakan langkah nyata dalam upaya pengentasan stunting dan pembangunan kecerdasan generasi penerus bangsa. Hal ini merupakan tugas bersama.
Dalam sebuah talk show yang di gelar pada rangkaian ILDEX 2022, Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, MPH, Ahli Gizi Ibu dan Anak dari FKM UI, menegaskan bahwa protein hewani sangat berperan penting dalam mendukung pertumbuhan anak. Dengan mengonsumsi protein hewani yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH), maka dapat meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang unggul.
Namun demikian penulis melihat bahwa masalah stunting di Indonesia masih menjadi tantangan serius dalam upaya pengembangan SDM berkualitas. Hal ini dikarenakan tingginya kasus stunting dapat menyebabkan kemampuan kognitif dan prestasi belajar rendah, tinggi badan tidak optimal atau kerdil, serta kualitas kerja tidak kompetitif. Selain itu, juga mungkin dapat menyebabkan kekebalan tubuh menurun, mudah sakit, berisiko tinggi munculnya penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah, serta berdampak pada produktivitas ekonomi rendah.
Lebih lanjut, Prof. drh. M. Rizal M Damanik, MRep.Sc, PhD, Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan (Lalitbang ) BKKBN pernah menjelaskan bahwa kasus stunting bukan sekadar tinggi badan, tapi juga tumbuh kembang sel-sel otak tidak maksimal yang secara langsung menyangkut dengan kecerdasannya. Bayi stunting tidak akan mati, tapi terhambat tumbuh dan selanjutnya anak itu sulit konsentrasi, tidak berprestasi, sulit cari kerja. Tulang tungkai kaki bertumbuh lambat, jadi tinggi badanya jadi pendek atau kerdil.
Dalam membangun kehidupan bangsa, harus diawali dengan membangun kecerdasan anak. Apabila kecerdasan kurang, akibat dari kurangnya asupan gizi maka dapat menyebabkan terjadinya lost generation. Kecerdasan itu bersumber dari otak dan apabila anak kurang gizi akan menyebabkan terjadinya lost generation. Untuk itu, penting bagi semua pihak untuk turut serta aktif dalam upaya penanggulangan stunting di Indonesia. Dan dalam perkembangannya penulis juga bersyukur karena menurut siaran pers Badan Pusat Statistik (BPS) pada tanggal 15 November 2022, menyebutkan bahwa sampai bulan September 2022, Index Prestasi Manusia (IPM) trend nya cenderung naik. Langkah positif seperti kampanye konsumsi protein hewani harus terus digalakkan untuk mendorong kabar baik ini.
Pemerintah perlu terus menerus melakukan kampanye gizi yang dapat dimasukkan dalam program pembangunan pemerintah dengan menganggarkannya dalam APBN dan APBD. Selain itu kebijakan-kebijakan Pro agrobisnis harus terus di dorong. Dari program ini pemerintah akan mendapatkan benefits , yang mana ketersediaan dan kestabilan pangan masyarakat akan terjaga. Dan di lain sisi pendapatan pajak pun dapat diperoleh.
Begitu pun bagi para pelaku usaha, juga penting untuk turut mengupayakan peningkatan konsumsi protein hewani. Hal ini akan berdampak positif. Ketika konsumsi meningkat, maka akan diikuti pertumbuhan pasa, sehingga profit yang didapatkan akan mengikuti. Kemudian di sisi lain agar harga terjaga, pemerintah harus menyediakan dana siaga di APBN dan APBD untuk mensubsidi para produsen apabila harganya jatuh. Sebaliknya apabila harga melonjak naik, para produsen harus siap bekerja sama, agar konsumen tidak mengalami kesulitan.
Kebutuhan pangan Indonesia meningkat terus selaras dengan pertambahan populasi penduduk dan pemahaman akan pentingnya perbaikan gizi. Untuk itu diperlukan peningkatan kuantitas & kualitas secara terus menerus, antara lain masih perlu impor bibit-bibit ternak unggul dari luar negeri, antara lain ayam ras, sapi, kambing, domba dan kelinci. Namun, yang perlu sangat diwaspadai dan diantisipasi benar-benar adalah kemungkinan masuknya penyakit dari luar negeri. Disisi lain, banyak sumber daya genetik unggul yang kita punya, seperti sapi bali, sapi aceh, kerbau sumbawa, kerbau rawa, kerbau pampangan, kuda sumba, domba garut, kambing kacang, ayam2 lokal , itik alabio, itik tegal dsb. Hal ini juga perlu terus dikembangkan.
Pada akhirnya upaya pengentasan stunting dan pembangunan generasi penerus adalah tugas dari semua pihak. Semua harus terlibat dan semua harus berperan. Dan langkah nyata dalam mendorong hal tersebut adalah dengan terus menyuarakan dan mengajak pribadi, sekitar dan masyarakat secara umum untuk terus meningkatkan konsumsi protein hewani. *Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI)
Artikel ini merupakan rubrik Suara Asosiasi pada majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...