Memasuki tahun 2025, industri perunggasan nasional disambut oleh berbagai peluang yang dapat dioptimalkan, sekaligus tantangan yang siap menghadang.

Dengan peranannya yang begitu vital, dinamika perunggasan nasional selalu menarik untuk dibicarakan. Pasalnya, berdasarkan data Ditjen PKH 2024, industri ini telah lama menjadi tumpuan di sektor pangan yang berkontribusi atas dua per tiga (2/3) dari total konsumsi protein masyarakat serta memegang proporsi 80,77% terhadap total produksi ternak nasional. Sementara itu, secara tren pertumbuhan bisa dikatakan luar biasa. Dimana masih dari sumber yang sama, saat ini terdapat 23 perusahaan GPS dengan 42 PS broiler serta 6 perusahaan GPS Layer.

Selaras dengan hal tersebut industri pakan pun turut tumbuh pesat, hingga berjumlah 110 pabrik pakan dengan kapasitas produksi hampir mencapai 31 juta ton pada tahun 2024. Jumlah ini belum termasuk feedmill kecil yang dikelola oleh para peternak self mixing. Begitupun pada sisi hilir, dimana dalam beberapa tahun terakhir RPHU juga tumbuh dan saat ini yang tercatat beroperasi telah lebih dari 300 unit.

Namun demikian, apabila sedikit kilas balik di tahun 2024, berbagai tantangan masih ditemui di industri perunggasan nasional, seperti ketidakseimbangan supply demand. Pada broiler misalnya, supply tahun 2024 adalah sebesar 3,84 juta ton/tahun, sedangkan demandnya sebesar 3,72 juta ton/tahun, atau surplus sekitar 0,12 juta ton/tahun (Ditjen PKH, 2024). Hal serupa pun juga terjadi di layer, dimana supply yang ada sebesar 6,3 juta ton/tahun dan dengan demand sebesar 6,2 juta ton/tahun, atau surplus sekitarĀ  0,17 juta ton/tahun. Tentunya persoalan oversupply ini menimbulkan berbagai persoalan lain, seperti fluktuasi harga produk asal unggas hingga dampak kerugian bagi pelaku usaha di dalamnya.

Kemudian, masih terekam bagaimana gejolak ketersediaan dan harga bahan pakan di awal tahun turut mewarnai dinamika perunggasan tahun 2024. Belum lagi terjadinya deflasi selama 5 bulan berturut-turut sejak Mei 2024 telah membuat daya beli masyarakat melemah, sehingga berdampak pada penurunan demand akan daging ayam dan telur. Di sisi lain, pada industri hulu, seperti pakan dan obat hewan, sangat terdampak bagaimana gejolak geopolitik global yang terjadi serta dinamika nilai kurs rupiah. Dengan berbagai tantangan tersebut, maka cukup beralasan apabila dalam berbagai kesempatan para stakeholders mengaku bahwa tahun 2024 masih menjadi tahun yang cukup berat bagi industri perunggasan nasional.

Beranjak ke tahun 2025, dalam sebuah kesempatan seminar Outlook perunggasan, di Cibubur, Rabu (20/11), Asosiasi Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), memprediksi bahwa dalam kondisi normal perunggasan nasional masih akan mengalami over produksi di tahun 2025. Hal ini mengacu pada jumlah GPS yang telah diekspor. Di sisi lain, banyak pihak melihat bahwa kondisi ekonomi makro turut menjadi tantangan tersendiri bagi industri perunggasan ke depan. Terlebih dari tingkat konsumsi masyarakat Indonesia akan produk asal unggas masih tergolong rendah apabila dibandingkan dengan beberapa negara tetangga di Kawasan Asia Tenggara.

Namun demikian adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) diharapkan dapat mendorong kenaikan demand dan menjadi katalisator perbaikan ekosistem perunggasan nasional. Untuk itu, cukup beralasan apabila banyak pihak yang melihat dan berharap adanya program MBG ini dapat menjadi angin segar dan harapan baru bagi ekosistem perunggasan nasional. Tak khayal, apabila dalam beberapa waktu terakhir MBG menjadi hal yang banyak diperbincangkan oleh stakeholders perunggasan. Meskipun berbagai informasi terkait program ini masih silih berganti, namun ibarat oase di tengah gurun pasir, terlihat antusias yang luar biasa dari stakeholders perunggasan dalam menyambut berjalannya program MBG